
Hari ini aku pulang ke Bogor diantar Mang Asep. Entah ini pilihan terbaik atau tidak. Tapi sekarang aku terdesak keadaan.
Aku berinisiatif untuk menghubungi Om Heru, untuk mengabarkan lamaran ku besok.
Lalu aku menelpon Om Heru.
Aku : Assalamualaikum Om
Om Heru : Waalaikumsalam Nad, kenapa Nad?
Aku : Begini Om, maaf aku mengganggu, besok aku dilamar Nathan Om, jika Om berkenan Om besok hadir yaa di Bogor jam 10.00
Om Heru : Syukurlah kalau kamu menerima Nathan, pasti Satrio senang. Walaupun sebenarnya Om maunya kamu nikah sama Satrio, karena cuma kamu yang cocok dengan Satrio, yah tapi mau bagaimana, itu anak sampai sekarang nggak tahu ada dimana, Om pusing sekali mencari nya. Besok Om akan hadir Nad, kan Mang Ujang udah pernah kesana, jadi gampang lah
Aku : Iyaa maaf yaa Om, aku nggak bermaksud nggak setia, hanya aku sekarang nggak punya pilihan Om, lagian ini mungkin akan menyenangkan Satrio nantinya. Makasih yaa Om
Om Heru : Iyaa Nad, tapi kalau kamu nggak cinta sama Nathan kamu nggak harus maksain Nad, cuma Om percaya sih Nathan orang baik, jadi pasti bisa membuat mu jatuh cinta. Sama-sama Nad, semoga lancar acara nya
Aku : Entahlah Om, aku kagum sama Nathan, tapi kagum bukan berarti cinta, yaa semoga ini yang terbaik
Om Heru : Yaudah kamu harus semangat, Om akan dukung keputusan kamu
Aku : Iyaa Om, aku tutup dulu yaa telpon nya
Om Heru : Iyaa Nad, see you
Lalu aku mematikan panggilan telpon.
Hujan sudah berhenti, langit juga mulai cerah. Lalu aku kirimkan pesan ke nomer Satrio. Ini usaha terakhir sekaligus pesan terakhir.
Aku : Pagi Sat, gimana kabar kamu ? Oh yaa akhirnya impian kamu bisa aku wujudkan, besok Nathan akan melamar ku, semoga ini adalah pilihan yang terbaik. Aku yakin kamu akan bahagia kan, semoga yaa. Terimakasih untuk semuanya, semoga kamu baik-baik dimana pun berada.
Lalu pesannya hanya ceklis satu.Ya mau gimana, seenggaknya aku mengabari dia. Meskipun sia-sia.
Tidak lupa juga aku mengabari Mimin dan Siska lewat pesan, respon mereka sama , kaget sekaligus senang. Namanya sahabat, pasti akan merasakan senang, jika sahabat nya mau lamaran.
Lalu aku tertidur di mobil Nathan, rasanya karena kehujanan aku jadi agak pusing. Sebaiknya tidur dulu. Perjalanan lumayan lama.
Aku tertidur pulas.
"Aku dimana ?" tanyaku sambil memandangi tempat yang asing ini
__ADS_1
"Nad, hei ini aku Satrio, kamu sekarang ada bersamaku."ucapnya
"Satrio, aku kangen banget sama kamu, kamu kemana aja? kamu tega sama aku."ucapku memeluk nya
Dia pun membalas pelukan ku dan tidak lama melepaskan nya.
"Sayang dengerin aku, aku nggak kemana-mana, aku selalu ada didekat mu, kapanpun dan di manapun kamu berada, asal kamu baik-baik aja, aku juga sama. Aku senang banget, akhirnya kamu besok akan dilamar sahabat ku , Nathan. Dia laki-laki baik Nad, jangan kamu sia-sia kan."ucapnya
"Sat, please bawa aku kemana kamu pergi, aku nggak mau sama orang lain, aku maunya sama kamu. Walaupun Nathan baik tapi nggak bisa menggantikan posisi kamu."ucapku memegang tangan nya lalu menangis terisak
"Hei cantik, kamu jangan ikut sama aku, itu sangat berbahaya untuk keselamatan mu, kamu harus bahagia, meski tidak dengan aku, selamat yaa sayang, maaf aku harus pergi."ucapnya melepaskan tanganku
"Sat... Satrio jangan pergi."teriakku
Lalu aku bangun dari tidur ku, ternyata itu hanya mimpi. Wajarlah, mungkin karena terlalu rindu aku jadi bermimpi yang nggak-nggak.
"Non Nadia ngga apa-apa?."tanya Mang Asep
"Nggak apa-apa, tadi cuma mimpi buruk aja Mang, mungkin karena saya nggak enak badan."ucapku
"Oh begitu, Mamang kaget, dikira Non kenapa teriak-teriak nama Den Satrio, pasti Neng kangen banget yaa?."tanyanya
"Iyaa Mang."ucapku murung
Aku hanya tersenyum pada Mang Asep.
Akhirnya kami tiba.
Sampai dirumah aku sudah disambut si kembar dan Bapak. Sementara Mang Asep langsung pulang lagi ke Bandung.
"Makasih Mang, hati-hati dijalan."ucapku
"Sama-sama Non, besok Mamang kesini lagi."ucap Mang Asep
"Ok Mang, ajak Bi Asih yaa."ucapku
"Siap."ucapnya
Lalu dia meninggalkan rumah ku dan aku menghampiri Ayah dan Adik-adik ku.
"Assalamualaikum."ucapku lalu mencium tangan Bapak
__ADS_1
"Waalaikumsalam."ucap Bapak dan Adik-adik, lalu Dina dan Dina mencium tangan ku
Kamipun berpelukan. Lalu kami duduk di bangku luar rumah.
"Nad, taruh dulu barangnya disini, Bapak mau ngomong sama kamu, sebelum Ibu kamu datang, Dina Dini sana masuk dulu, awasi Ibu agar jangan sampai kesini dulu."ucap Bapak
"Iya Pak."ucap Dina Dini masuk ke rumah
"Iyaa Pak, kenapa Pak?."tanyaku lalu menaruh tas dimeja luar
"Kamu yakin Nak mau menikah dengan Nathan? apakah nggak terlalu cepat untuk memutuskan? Bapak tahu kamu masih sangat cinta dengan Satrio."ucap Bapak
"Ya mau gimana lagi Pak, Ibu sudah mendesak untuk menikah, sementara aku sudah berjanji sama Ibu kalau tahun ini akan menikah. Sayangnya Satrio nggak ada kabar sampai hari ini. Jadi Nadia lebih baik nerima Nathan, lagian ini juga atas usul Satrio lewat suratnya, mungkin ini yang terbaik Pak."ucapku
"Hemm, Bapak jadi kasian sama kamu, andai aja Satrio ada pasti kamu nggak sesedih ini, padahal Bapak lebih setuju dengan Satrio, karena Bapak sudah mengenal keluarga nya. Nathan sih baik, cuma kalau kamunya nggak cinta Bapak juga nggak tega sama kamu."ucapnya
"Ya doain aja Pak, mudah-mudahan ini yang terbaik untuk Nadia dan untuk semuanya. Lagian emang sudah seharusnya Nadia nikah kan.Apalagi Ibu mengancam akan menjodohkan aku dengan Pak Camat. Ya jelas itu hal gila, aku mau kabur juga udah nggak bisa. Ya lebih baik aku nerima Nathan yang jelas baik dan aku kenal."ucapku
"Tapi Bapak juga nggak habis pikir, koq Nathan mau sama kamu? apa karena cinta? atau kasihan, atau malah karena permintaan Satrio?."tanya Bapak
"Entahlah Pak, aku juga kaget, aku sih masih ragu, takutnya ini karena rasa kasihan dia aja. Jujur akunya nggak enak sama Nathan, takutnya dia terpaksa, tapi dia bilang dia yakin?"ucapku lalu menghela nafas
"Ya mudah-mudahan benar Nak dia cinta sama kamu, kalau sampai nggak, Bapak khawatir sama pernikahan kalian kelak, takut akan menyakiti kalian semua."ucap Bapak
Lalu tiba-tiba Ibu teriak.
"Dina Dini, Ibu mau keluar ke warung, koq Ibu dihalang-halangi sih."teriak Ibu
"Yaudah Pak , aku masuk dulu yaa, takut Ibu curiga."ucapku
Bapak hanya mengangguk.
Lalu aku masuk.
"Assalamualaikum Bu."ucapku mencium tangan Ibu
"Waalaikumsalam anak Ibu, koq udah nyampe nggak ngabarin Ibu?."ucap Ibu senang
"Iyaa aku lupa Bu."ucapku
"Yaudah sana istirahat dulu, Ibu mau persiapkan untuk lamaran besok. Kamu nggak boleh capek-capek."ucap Ibu
__ADS_1
Aku hanya mengangguk dan tasku dibawa oleh Dina dan Dini. Lalu kami masuk kamar.