Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 7.7)


__ADS_3

"Ayo bangunlah, ikut denganku menuju ruang tamu untuk menyelesaikan masalah ini." Ustazah mencoba membantu Sari bangun dari duduknya.


Sari tidak bertenaga untuk melakukan apapun. Bagaimana tidak? Dia telah menghabiskan hampir semua energinya untuk menangis dan meratapi nasibnya setelah ini. Dia takut, amat sangat takut dikeluarkan dari pondok pesantren ini.


Dia tidak mau.


"Ustazah hiks..aku tidak mau keluar dari sini.." Kata Sari masih menangis.


Kedua tangannya mengusap air matanya, mencoba menghapus setiap air mata yang mengalir dari sudut kedua matanya.


Ustazah menghela nafas panjang. Dia ikut duduk di lantai menemani Sari. Tangan kanannya yang halus menyentuh wajah Sari dengan kehangatan khas sentuhan seorang Ibu.


"Ini adalah resiko yang harus kamu terima dari semua perbuatan salah yang kamu lakukan. Suka tidak suka maupun siap tidak siap, kamu harus bisa melewatinya. Sekarang tenangkan dirimu dan cobalah untuk menjadikannya sebagai pelajaran agar kamu tidak melakukan kesalahan yang sama lagi di masa depan." Kata Ustazah dengan nada ringan tidak seperti sebelumnya.


Dia adalah seorang Ibu dan dia tidak bisa melihat seseorang menangis apalagi yang menangis adalah seorang perempuan. Dia memang kecewa dan marah tapi naluri keibuannya mampu melunakkan kemarahannya kepada Sari. Dia tidak tahan dan berusaha membujuknya agar jangan menangis lagi.


"Sekarang bangunlah. Kedua orang tuamu tadi mengatakan mereka berdua sudah ada di perjalanan dan sebentar lagi akan sampai." Kata Ustazah sekali lagi membantu Sari berdiri.

__ADS_1


Sari ketakutan. Dia tidak berharap kedua orang tuanya sangat cepat dan bersedia datang ke pondok pesantren.


Apa aku benar-benar berakhir sekarang?. Batin gelisah.


Kegelisahannya semakin mencekam, membuat Sari kian enggan keluar dari sini tapi dia juga malu terus-terusan seperti ini. Dia tahu jika semua orang di sini kini sedang menatapnya kecuali duo kulkas berjalan itu. Maka dia terpaksa berdiri dari duduknya dengan bantuan Ustazah. Sebelum pergi dia sekali lagi mencoba memanggil Ustad Vano.


"Ustad Vano, tolong berikan aku kesempatan.." Pintanya sambil berharap-harap cemas Ustad Vano mau berbalik untuk melihatnya atau sekedar menjawab.


Tapi lagi-lagi yang dia dapatkan adalah sebuah kekecewaan. Ustad Vano memberikannya sebuah bahu dingin tanpa berniat melihatnya.


Dia keluar dari ruang staf asrama putri bersama Ustazah dengan tangisan yang memilukan. Menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan melihatnya.


Sementara itu di tempat yang sama sofa tempat Ai, Mega, dan Ai duduk mendapatkan penghuni baru tambahan. Penghuni baru itu adalah pemilik gelar duo kulkas berjalan yang Asri sematkan untuk Ustad Vano dan Ustad Azam. Mereka berdua tidak mau berdiri terus dan memutuskan untuk duduk di sofa panjang yang berseberangan langsung dengan ketiga gadis itu yang kini hanya bisa diam menunduk tidak berani berkutik.


Sofa yang mereka duduki sekarang adalah tempat yang biasanya digunakan staf asrama putri untuk rapat. Ini sangat luas dan bisa menampung lebih dari 20 staf asrama putri. Jadi mereka berlima punya jarak yang cukup jauh sehingga tidak akan menimbulkan pikiran yang tidak-tidak dari orang luar. Toh, di sini juga ada banyak orang sehingga tidak ada peluang untuk orang lain memikirkan hal yang tidak bertanggungjawab.


Suasana mencekam dan tegang tanpa suhu tadi kini telah berganti menjadi suasana canggung yang membuat gugup beberapa orang.

__ADS_1


"Aku..merasa kaki, tangan, bahkan mulutku mulai membeku berhadapan langsung dengan mereka." Bisik Asri di kepada Ai dan Mega.


"Hus, Asri. Hati-hati dengan apa yang kamu katakan. Jika mereka mendengarnya kamu tidak akan bisa lepas dari hukuman karena bagi mereka sekecil apapun masalah akan tetap dihitung sebagai hukuman." Ai mengingatkan Asri untuk tidak mengatakan yang aneh-aneh.


Asri segera menutup mulutnya ketika memikirkan beberapa hukuman yang dijalankan setelah melanggar peraturan dan itu terjadi dihari pertamanya di sini!


Asri tidak mau mendapatkan hukuman lagi!


Mega memutar bola matanya tidak perduli,"Jika mereka menghukum kita hanya karena mengatakan itu maka kepala mereka berdua pasti punya masalah. Lagian apa yang dikatakan itu tidak salah. Dua idola pondok pesantren kita ini terlalu dingin dan datar. Mereka sama sekali tidak ada ramah-"


"Uhuk!" Ustad Azam tiba-tiba batuk di seberang sana, membuat diskusi mereka bertiga terpotong.


Tanpa diingatkan pun mereka bertiga langsung menutup mulut sambil berpura-pura serius melihat ke bawah. Nyatanya mereka bertiga ketakutan bercampur gugup saat ini, yah rasa gugup hanya berlaku untuk Ai dan Mega sedangkan Asri merasa takut berhadapan dengan duo kulkas berjalan itu.


Sudah dia katakan bukan jika Asri sebelumnya menganggap Ustad Vano sama seperti orang-orangan sawah yang suka bergerak sendiri di malam hari. Sekarang ada juga Ustad Azam sehingga kadar kengeriannya bertambah pesat.


Itu dingin dan menakutkan!

__ADS_1


__ADS_2