Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 14.11)


__ADS_3

Dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya, Ai memandang Ustad Vano yang kini sungguh sangat dekat dengan dirinya. Mereka berada di jarak yang tidak normal, saling menatap dengan kelembutan, dan bahkan mereka bisa saling merasakan deru nafas masing-masing.


Seharusnya ini salah, ini tidak benar, mereka tidak diizinkan melakukannya. Akan tetapi ini terlalu manis, perasaan ini terlalu, perasaan ini sungguh tidak tertahankan dan mereka pada akhirnya tidak mau untuk saling menjauh.


Bila bisa, bila bukanlah sebuah dosa yang sangat dibenci oleh Allah, maka mungkin jarak sedekat ini mampu mengantarkan mereka pada tindakan yang jauh lebih intim lagi. Akan tetapi cinta mereka kepada Sang Kuasa mampu menghalangi pikiran ini.


Sebatas ini, mereka melakukannya hanya sebatas ini. Memecahkan rindu yang telah membumbung tinggi, mengungkapkan rasa yang telah mengembun bertahun-tahun lamanya, dan berbagi candu yang telah menjadi mimpi-mimpi indah di dalam tidur mereka.


Jatuh cinta nyatanya tidak sesakit yang dibayangkan. Ini sangat lembut, manis, dan menyenangkan. Jantung mereka dibuatnya terus berdebar kencang seolah-olah mereka telah berlari maraton dengan tergesa-gesa. Tidak, ini tidak sakit, sungguh.


Bukannya sakit rasanya malah jauh lebih manis.


"Apakah Ustad Vano bersungguh-sungguh?" Dengan kedua tangan memegang erat paper bag di bawah, Ai bertanya menggunakan suara lembut yang sarat akan rasa malu.


Wajahnya yang tadi pucat pasi kini malah merona indah dibawah sinar redup rembulan. Membuat Ustad Vano bertanya-tanya seberapa indah wajah ini di malam pengantin mereka nanti?


"Demi Allah, aku bersungguh-sungguh wahai Aishi. Hatiku ini sudah lama menjadi milikmu, hanya menjadi milikmu." Ustad Vano dengan suara yang sangat serius dengan nada lembut menegaskan.


Ai menggigit bibirnya malu, ada keraguan di matanya.


"Tapi... bagaimana dengan Kak Almaira, Ustad? Bukankah kalian... akan menikah?" Meskipun sudah tahu jawabannya dari Hana namun Ai masih saja mempertanyakannya.

__ADS_1


Ia hanya ingin mendengar jawabannya langsung dari Ustad Vano, ia ingin mendengar semuanya.


"Aku tidak ada hubungannya dengan dia, Aishi. Bagiku ia tidak ada bedanya dengan santri yang lain. Dan darimana kamu mendengar kabar tidak masuk akal ini? Jika aku akan menikah dengannya lalu kenapa aku berdiri di depan kamu sekarang? Aishi, kamu harus tahu bahwa alasan apapun yang kamu berikan kepadaku untuk menjauh tidak akan bisa membuatmu lepas dariku. Kamu tidak bisa lari kemanapun, Aishi. Kamu harus mempertanggungjawabkan semua yang kamu lakukan kepadaku ini seumur hidup." Ustad Vano takut.


Ia takut Aishi-nya, gadis yang selalu mewarnai sujud-sujud terakhirnya dalam sholat memutuskan untuk menjauh darinya. Ia takut itu terjadi dan ia lebih takut lagi menjadi laki-laki yang kejam, membawa dan menyembunyikan Ai untuk dirinya sendiri di suatu tempat.


Ia takut namun pada saat yang bersamaan ia akan melakukannya jika Ai benar-benar menolak bersamanya.


Bukankah ia sangat egois?


"Ustad, aku...aku tidak sedang menjauh dari Ustad Vano. Aku hanya ingin memastikan beberapa hal sebelum mengambil keputusan..." Katanya malu.


Ah, posisi mereka saat ini begitu canggung dan terlalu berbahaya. Tapi...tapi Ai menyukainya.


"Tapi, bisakah kita mengambil jarak yang cukup jauh? Ai takut ada orang yang melihat dan menyebarkan rumor buruk tentang Ustad Vano." Ai masih sangat perduli dengan nama baik Ustad Vano di sini.


Dan dia tidak ingin mencemarinya.


Ustad Vano dengan enggan menurunkan tangannya dari dagu Ai. Namun sebelum itu, ia sempat mengusap wajah basah Ai dengan kedua tangannya.


"Baiklah, tapi jangan menangis lagi. Aku sungguh tidak tahan melihat kamu seperti ini." Pinta Ustad Vano serius.

__ADS_1


Ai mengangguk malu, dia merendahkan kepalanya seakan-akan sedang menyembunyikan rona merah di wajahnya dari Ustad Vano. Tindakan malu-malunya terlihat manis dan menggemaskan pada saat yang bersamaan, Ustad Vano dibuat gatal olehnya ingin menyentuh. Tapi dia hanya bisa menahannya dengan senyuman tidak berdaya karena situasi mereka saat ini masih jauh dari kata 'boleh' untuk saling menyentuh.


Ustad Vano selalu menyadari hal ini karena itulah ia masih di sini, di pondok pesantren ini untuk sebuah janji dari 9 tahun yang lalu.


"Dan jangan khawatirkan tentang rumor buruk di sini. Jika mereka membicarakannya maka kita harus bersyukur saja karena setiap kata-kata yang mereka ucapkan adalah ladang pahala untuk kita, bukankah ini menyenangkan?" Ustad Vano tidak bercanda.


Inilah salah satu alasan kenapa Ustad Vano tidak terlalu menggubris rumor yang ada di pondok pesantren. Itu tidak akan benar dan para santri yang cerdas dengan memilih tidak akan ikut campur masalah orang lain akan selamat dari teror rumor di sini.


Namun bila rumor yang menyebar sudah terlalu melewati batas, misalnya seperti Ai saat ini, Ustad Vano tentu tidak akan diam saja. Dia pasti akan menumpas rumor ini.


"Ustad tidak boleh mengatakan itu."


Ustad Vano tersenyum,"Aku tahu. Sekarang apa yang ingin kamu pastikan dariku."


Dia mengambil satu langkah ke belakang agar Ai lebih nyaman lagi di dekatnya.


Ai meremat erat paper bag di tangannya. Ia merasa sangat gugup sekaligus bahagia. Namun, ini bukan berarti bahwa ia sepenuhnya bahagia karena dia masih punya satu pikiran yang sangat mengganjal di hatinya.


"Ustad, aku ini cacat." Kata Ai mulai berbicara.


Ustad Vano mengernyit, ia bisa membaca kemana arah pembicaraan Ai. Namun dia akan mendengarkannya agar hati Ai bisa terpuaskan.

__ADS_1


"Aku bukanlah perempuan yang sempurna dan aku juga tidak memiliki bentuk tubuh yang indah." Ai perlahan menguraikan kekurangannya agar Ustad Vano tahu bahwa dia tidak seperti perempuan di luar sana.


__ADS_2