
"Jangan pikirkan dia. Aku yakin dia lagi-lagi membuat masalah." Kata Mega acuh tak acuh.
Daripada melihat Sari, dia lebih baik mulai menyantap makan siangnya karena dia hari ini sangat lapar.
"Sebenarnya kita tidak perlu memikirkannya." Kata Asri juga ikut-ikutan mengambil makanannya.
"Kita hanya perlu menontonnya dari sini sambil makan siang. Yakin deh, makan siang kita pasti rasanya jauh lebih nikmat." Sambung Asri yang langsung diikuti oleh Mega.
Intinya Mega dan Asri masih belum bisa melepaskan tentang pertengkaran mereka semalam. Mega pikir jika saja Sari tidak serakah maka dia seharusnya tidak akan pernah bertemu dengan Ustad Azam.
"Jangan seperti itu. Kalian harus makan makanan kalian dengan benar dan jangan berbahagia di atas penderitaan orang lain." Ai mengingatkan dengan ramah agar kedua temannya ini tidak membuat masalah.
Mega menggelengkan kepalanya untuk kebaikan Ai yang lagi-lagi membuatnya geli.
"Ini adalah hidup Ai. Kamu tidak harus menjadi baik setiap hari dan lagipula kita tidak menertawakannya. Kita hanya melihat penderitaan apa yang dia lalui, itu saja dan tidak lebih." Asri seperti biasa pandai berdalih.
"Kamu harus mendengarkannya." Mega juga mendukung.
Ai menghela nafas panjang. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan mulai menyantap makan siangnya. Walaupun sedang tidak ***** tapi dia mengingat dengan baik apa yang Ustad Vano katakan tadi pagi. Jangan membuang-buang makanan karena di sini makanan sangat berharga.
__ADS_1
Ini bukan berarti pondok pesantren tidak punya tapi ini berarti mereka harus pandai-pandai memanfaatkannya jika ada karena pondok pesantren tidak seperti di rumah. Di rumah mungkin mereka punya segalanya tapi di sini mereka semua dibatasi dengan porsi yang wajar.
Tidak berlebihan, tidak juga kekurangan.
"Kamu tidak datang untuk menerima hukuman di sawah dan kamu juga tidak datang bersekolah. Kami sudah punya buktinya jadi kamu tidak bisa mengatakan bahwa kamu sedang difitnah." Ustazah itu berkata dingin.
Membuat Sari meremat tangannya gugup bercampur takut.
"Ustazah, maaf. Aku benar-benar tidak melakukannya dengan sengaja. Aku tadi pagi ingin pergi ke sawah untuk menjalankan hukumanku tapi teman-teman yang lain tidak memanggilku dan meninggalkan aku sendirian di kantin. Aku sendirian, Ustazah. Tapi aku tetap pergi ke sawah dengan harapan bisa bertemu dengan mereka lagi tapi aku sama sekali tidak menemukan mereka. Aku tersesat, Ustazah, dan tidak sengaja sampai ke sekolah santri laki-laki." Katanya terlihat malu bercampur menyesal.
Dia bahkan menundukkan kepalanya tidak berani melihat Ustazah yang kini sedang mengintrogasi.
Ai mengangkat kepalanya menatap Sari yang ada di ujung sana. Dia melihatnya tanpa mengatakan apapun. Tidak ada yang tahu apa yang saat ini Ai pikirkan ketika melihat Sari.
"Jangan terlalu dipikirkan, makanlah dengan diam agar kalian tidak tersedak." Kata Ai pada akhirnya kembali menundukkan kepalanya.
Mega menatap Ai dalam diam, beberapa detik kemudian dia kembali fokus menatap piringnya yang tersisa setengah.
"Pertama, kamu memfitnah teman-teman mu. Kedua, kamu telah berbohong dan membuat alasan yang tidak masuk akal untuk melakukan pembelaan. Ketiga, kamu berani melalaikan hukuman mu dan malah pergi menyelinap ke sekolah santri laki-laki. Hardianti Sari, dihari kedua tinggal di sini kamu sudah melakukan banyak kesalahan yang tidak bisa ditoleransi. Maka dari itu kami memutuskan untuk memanggil kedua orang tuamu sebagai pertimbangan apakah kamu masih bisa melanjutkan pendidikan di sini atau tidak." Kata Ustazah itu final.
__ADS_1
Membuat Sari sangat terkejut dan tidak bisa mengatakan apa-apa untuk sementara waktu.
"Astagfirullah, kesalahan yang dia lakukan ternyata tidak main-main. Bayangkan, dia terlalu berani menyelinap ke sekolah santri laki-laki!" Bisik Asri, orang pertama yang telah menyelesaikan makanannya.
Mega melirik wajah pucat Sari,"Dia pantas mendapatkannya." Katanya sambil tersenyum dingin.
Sementara itu, Ai hanya menghela nafas panjang tanpa membuat komentar. Jujur, dia agak terkejut mendengar semua pelanggaran yang dilakukan Sari dan dia lebih terkejut lagi setelah mendengar jika pondok pesantren akan mempertimbangkan nasib Sari selanjutnya di pondok pesantren.
Ini.. terlalu berat dan terlalu menakutkan.
"Ustazah.. tolong maafkan aku. Ini adalah salah paham dan aku difitnah! Aku tidak pernah bermaksud menyelinap ke sekolah santri laki-laki!" Sari panik, dia lantas bangun dari duduknya bergegas memohon kepada Ustazah.
"Kami punya bukti dari rekaman cctv di sekolah santri laki-laki, apakah kamu bisa membantahnya?" Tanya Ustazah tajam.
Seketika Sari tidak bisa mengatakan apa-apa. Wajahnya kaku dan mulai kehilangan darah. Dalam waktu sekejap wajahnya menjadi pucat pasi dan bahkan bibirnya pun kelu tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Rekaman cctv.." Gumamnya mulai kehilangan suara.
Bersambung..
__ADS_1