
Sudah satu bulan lamanya Doni merasa Dewi mengabaikannya. Setiap kali ke ruangannya untuk memperbaiki laptop yang rusak salah seorang staf gudang Dewi selalu berpura pura sibuk dan tidak pernah melihat ke arah Doni meskipun Doni sering kali mencuri pandang ke arahnya. Sikap Dewi yang berubah membuat Doni merasa kehilangan sesuatu yang entah apa itu.
Dewi melangkahkan kakinya menuju kantor untuk mengantar sebuah laporan ke MD trim. Tiba di lobi, ia berpapasan dengan Doni yang hendak keluar kantor. Dewi berjalan lurus tanpa melirik ke arah pria yang berpapasan dengannya seolah olah ia menganggap tidak ada orang. Doni mencekal sebelah lengan wanita yang satu bulan ini bersikap cuek padanya. Perbuatan Doni membuat Dewi berhenti melangkah lalu menatap wajah pria yang sedang mencekal nya.
"Tolong lepaskan tangan Dewi a!"
"Kamu itu kenapa sih wi, cuek dan acuh sama aku?" Doni menatap wajah Dewi yang bersikap sinis padanya.
"Ck, apa ruginya buat a Doni kalau Dewi cuek dan acuh? ngga ada kan? lagi pula Dewi ini bukan orang penting jadi ngga ngefek."
Tanpa mereka sadari Tari memotret momen Doni memegang lengan Dewi lalu mengirimnya ke Siska. Rasanya Tari senang sekali jika melihat temannya itu marah seperti ke bakaran jenggot.
"Saingan baru lu nih. ngga ada si Norin ada si Dewi ha ha ha."
"Sialan," umpat Siska.
Siska mengepalkan tangannya setelah membaca pesan serta melihat photo yang telah di kirim oleh tari ke ponselnya.
"Awas aja lu Dewi, berani lu berurusan sama gue?"
"Udah ah, lepasin. Dewi mau buru buru." Dewi menepis pelan tangan Doni lalu beranjak pergi meninggalkan Doni yang sedang menatap kepergiannya.
"Kenapa aku ini jadi be go. kenapa harus bertanya bodoh seperti tadi ke gadis ambekan kayak dia." Doni bermonolog lalu melanjutkan lagi langkahnya.
Dewi menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai dua dimana ruang MD trim berada. Ia berjalan melintasi ruang Siska yang hanya bersekat sebatas dada. Siska menatap nyalang ke arah Dewi yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang di perhatikan oleh Siska.
Tok tok tok
"Permisi mister Rabin. Saya di suruh kesini sama mba Anisa," ucap Anisa sambil menyembulkan kepalanya di balik pintu.
"Oh, Anisa sedang keluar sebentar. Masuk aja tunggu di dalam." Rabindra menyuruh Dewi untuk masuk.
"terima kasih mister." Lalu, Dewi masuk ke ruangan itu dan berdiri tidak jauh dari Rabindra. Rabindra memperhatikan penampilan Dewi mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Menarik juga gadis ini," gumam Rabindra lirih namun masih terdengar di telinga Dewi.
"maaf, tadi mister bicara apa?"
"oh, tidak. oya kamu sudah punya pacar belum wi?"
"kenapa mister tanya begitu?"
"ah, hanya sekedar ingin tau saja."
Tak berselang lama. Anisa datang membawa sebuah file di tangannya.
"Eh, ada Dewi. maaf ya tadi aku ke bea cukai dulu."
Dewi tersenyum." ngga apa apa mba, Dewi juga baru datang. Oia ini Dewi bawa laporan yang mba Anis minta." Ucap Dewi sambil menyodorkan sebuah file pada Anisa.
Anisa mengambilnya dari tangan Dewi." makasih ya wi!"
"iya mba, yaudah kalau gitu Dewi mau balik ke gudang lagi."
"okey."
Rabindra menatap punggung Dewi hingga menghilang dari balik pintu.
Dewi berjalan melewati meja meja kerja para staf di kantor tersebut tanpa menoleh ke arah kiri dan kanannya sehingga ia tidak melihat ada satu kaki yang menjegal kakinya.
Bruughh
"Aww,"pekik Dewi.
__ADS_1
Dewi terjatuh ke atas lantai sontak saja Ia menjadi bahan tertawaan orang orang yang melihatnya terjatuh.
"Haduh wi, makannya kalau jalan pakai mata jangan pakai dengkul."
"Lagian sombong banget ngga ada ramah ramahnya sok ke cakepan pula."
"mending kalau cakep mah ha ha ha."
Dewi tidak menanggapi cibiran orang orang yang ada di sana. Ia bangkit lalu beranjak pergi meninggalkan gedung yang menurutnya angker. Ini merupakan bukan untuk yang pertama kalinya tapi sudah yang ke berapa kalinya ia di buli. Dewi berjalan sambil sesekali menyeka air matanya yang keluar dari matanya. Doni memperhatikan Dewi dengan perasaan iba melihatnya.
"Dewi..!" panggil Doni.
Dewi tidak menanggapi panggilan Doni. Ia terus saja melangkahkan kakinya menuruni anak tangga menuju gudang.
Jam menunjukan waktu makan siang. Dewi bergegas pergi ke kantin sendirian setelah intan menolak pergi ke kantin karena ia sudah membawa bekal dari rumah. Di tengah menuju kantin Dewi bertemu dengan Anisa dan Doni yang hendak makan di kantin juga.
"Dewi..mau makan di kantin juga?"
Dewi mengangguk kecil lalu menunduk.
"ya udah bareng kita aja yuk."
Dewi terdiam tidak menjawab ajakan Anisa namun Anisa menautkan tangannya ke lengan Dewi dan menuntun wanita itu untuk pergi bersama. Sementara Doni hanya memperhatikan punggung dua wanita yang sedang berjalan membelakanginya. Tiba di kantin mereka memesan makanan masing masing lalu duduk dimeja yang sama. Selama makan Dewi lebih banyak diam sementara Anisa lebih banyak bicara dan Doni sendiri lebih sering melirik ke arah Dewi yang sedang makan sambil menunduk.
"Dewi ke toilet dulu ya mba Anis." Ijin Dewi pada wanita yang sedang mengobrol bersama Doni.
"Iya wi."
Doni memperhatikan Dewi yang sedang berjalan ke arah toilet.
"ehem, kalau aku perhatikan a Doni sering banget memperhatikan Dewi. a Doni naksir Dewi ya?"
Doni terperangah." Sembarangan aja kamu Nis, ngga mungkin lah aku naksir sama bocah kayak dia.
"Dih, bocah apaan. setau ku Dewi Itu usianya dua puluh tiga tahun lho. Udah pantes untuk punya suami."
Tanpa di sadari Doni, Dewi mendengar ucapannya yang baru saja datang dari toilet.
"Dew...ud !"
"Dewi duluan ya mba Anis." Dewi memotong ucapan Anisa sambil mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin memperlihatkan matanya yang mulai berembun. Doni terperangah dan langsung menatap pada wajah Dewi yang sedang menatap ke arah lain. Namun, Doni mengetahui bahwa gadis itu sedang berusaha untuk menahan air matanya.
"Apa dia mendengar omonganku?" ada rasa bersalah menyelinap di hati Doni.
"oh, ya ya wi silahkan."
Dewi segera melangkahkan kakinya meninggalkan Doni dan Anisa yang sedang menatap kepergiannya hingga jauh.
"Andai aku tau kalau jatuh cinta itu akan menyakitkan seperti ini, mungkin lebih baik aku tidak akan membiarkan hatiku untuk jatuh cinta pada sosok lelaki." Dewi bermonolog sambil me re mas buku buku jarinya.
"Jangan ngomong gitu a. Lagi pula kalau menurutku Dewi itu gadis manis dan baik. Rabindra aja naksir sama dia."
"Rabindra suka dewi? dari mana kamu tau Nis?"
"iya, dari sorot matanya kalau aku perhatikan."
Doni manggut manggut kecil tapi hatinya merasa tidak suka mendengar kalau Rabindra menyukai Dewi.
Sore hari. Dewi baru saja pulang kerja dan memasuki rumahnya lalu sang ibu memanggilnya di dapur. Dewi menghampiri ibunya yang sedang menata dua rantang makanan.
"Ada apa Bu?" tanya Dewi setelah mendekat.
"Kamu buru buru mandi gih, nanti kalau udah selesai mandi tolong antar kan rantang ini ke rumah Bu Risma. tadi siang dia mesan di masakin rendang sama kari sama ibu katanya untuk makan malam."
__ADS_1
"Tapi Dewi ngga tau rumahnya Bu."
"ngga usah khawatir ibu punya alamatnya. Udah sana mandi keburu maghrib kasian nanti Bu Risma nungguin lama."
Dewi menuruti perintah ibunya untuk segera mandi. Setelah rapih Dewi melajukan motornya menuju rumah Bu Risma dengan bantuan google map. Akhirnya Dewi sampai di sebuah rumah cukup besar di kawasan komplek menengah ke atas. Dewi tau bahwa keluarga Doni bukan orang susah. ibunya memiliki tiga toko mas. Sementara Doni sendiri selain manager IT dia juga memiliki bisnis meubel.
Dewi turun dari motor lalu berjalan ke arah teras rumah bagus tersebut. kemudian, ia mulai mengetuk pintu. Butuh beberapa kali ketukan hingga pintu itu terbuka dan muncul wanita yang sudah tak lagi muda. Sepertinya wanita itu seorang ART.
"mau cari siapa ya mba?"
"maaf Bu, apa Bu Risma nya ada?"
"Oh, ada mba. sebentar ya saya panggilkan."
Tak selang lama wanita yang sudah tak lagi muda namun terlihat masih cantik datang menemuinya.
"Dewi...ayok masuk dulu." Ajak Bu Risma. sebenarnya Dewi merasa enggan masuk ke rumah tersebut. Dewi takut bertemu dengan Doni tapi Dewi merasa tidak enak hati pada wanita yang telah memesan makanan pada ibunya.
"Iya Tante terima kasih."Dengan gugup Dewi mengekor di belakang Bu Risma.
"Ayok duduk dulu," titah Bu risma.
Kemudian, Dewi dan Bu Risma duduk di sebuah sofa empuk.
"ma...mama!"
Dewi terperangah mendengar suara yang di kenalnya tersebut. Ia mulai panik lalu me re mas buku buku jarinya.
"Ta...Tante Dewi pulang sekarang aja ya." ijin Dewi tiba tiba.
Bu Risma tau apa yang membuat gadis itu ingin segera pulang.
"Nanti dulu dong sayang, baru juga kamu sampai di rumah ini."
"ma....!" Doni tiba tiba terdiam setelah mendapati seorang gadis yang sedang mengobrol dengan ibunya.
"Kok, ka....kamu ada di sini wi?" tanya Doni merasa heran.
"Dewi kesini nganterin makanan yang mama pesan dari Bu Elis. kenapa? masalah?" tanya sang ibu mengintimidasi.
Doni menggeleng cepat. Lalu hendak beranjak pergi dari hadapan dua wanita tersebut.
"Mau kemana kamu?"
"Mau ke atas."
"Ada tamu kok malah pergi. Sini, duduk sini." titah sang ibu. Lalu, Doni menurut dan ikut duduk di samping sang ibu. Terlihat Dewi semakin gugup ada pria yang selama ini di cintai nya ikut duduk bersama dengannya. Dewi terus saja menunduk dan me re mas buku buku jarinya.
"Dewi...!"panggil Bu Risma.
Dewi langsung mendongak." i iya Tante."
"Jangan menunduk terus dong, ngga usah gugup gitu anggap saja rumah ini rumah sendiri."
Dewi mengangguk kecil.
"Oh, ya tunggu sebentar ya, Tante ada sesuatu untuk kamu." Bu Risma bergegas pergi.
Doni menatap serius ke arah Dewi yang sedang menunduk." kamu sengaja ya datang ke rumah saya?"
Dewi mendongak." maksud a Doni apa?"
"Iya kamu sengaja kan datang ke rumah saya untuk mendekati mama saya agar kamu bisa lebih leluasa dekat sama saya?"
__ADS_1
Dewi tertegun matanya mulai berembun."maaf a, saya ke sini untuk mengantar makanan pesanan Bu Risma tidak ada maksud lain. kalau gitu saya permisi dulu." Dewi bergegas pergi meninggalkan Doni yang terbengong. Padahal Doni hanya niat becanda saja tidak sungguh sungguh.
Doni menghela nafas."Dasar gadis ambekan."