
"any more?" Norin menyodorkan satu sendok terakhir ke arah mulut pria yang tengah di suapi nya dan pria itu sudah membuka mulutnya lebar bersiap untuk menerima suapan terakhir tersebut. Namun, sendok yang di sodorkan itu malah di masukkan ke mulutnya sendiri lalu ia mengunyah nya dengan santai.
Shin tersenyum, ia tidak marah pada apa yang dilakukan oleh wanita menggemaskan itu. justru sebaliknya ia senang wanita itu tidak merasa jijik memakan makanan sisa dirinya.
Shin menatap pada bibir mungil yang tengah mengunyah bubur dengan pelan hingga bubur itu di telan sampai di tenggorokannya.
"kenapa menatap saya seperti itu? apa tuan mau marah karena buburnya saya makan?"
Shin tidak menjawab pertanyaan wanita pemilik bibir mungil yang menggoda. melainkan ia menarik paksa tengkuknya lalu me la hap bibirnya kembali. Norin mendorong dada bidang Shin tapi pria itu terlalu kokoh sehingga Norin kesulitan untuk melepaskan diri dari lu ma tan nya. belum puas sampai di situ, Shin menggigit bibir bawahnya membuat bibir mungil itu terbuka dan memberi celah bagi nya untuk memasuki dan menelusuri rongga mulutnya. Membelit serta mengecap lidah wanita itu tanpa henti.
Cukup lama Shin melakukan aksinya dan baru melepaskan ciuman nya setelah merasa stok oksigen di rongga paru parunya telah habis.
Norin menghirup udara sebanyak banyaknya begitu pula dengan Shin. Tanpa Norin sadari akibat dari ulah pria itu, bibir bawahnya terluka bekas gigitan kecil yang di lakukan oleh shin. Shin melihatnya dan hendak mengelap darah yang keluar dengan jarinya namun Norin segera menepis tangan kekar itu dengan kasar.
"Jangan berani sentuh saya lagi, dasar orang kaya ngga punya akhlak." Norin kesal sekali, ini yang ke sekian kalinya Shin menciumnya dengan paksa.
Kemudian Norin berlari kecil keluar kamar lalu menutup pintu itu dengan keras. Shin menatap pada daun pintu dengan rasa bersalah.
"im so sorry."
Norin keluar dari kamar tamu tanpa memperhatikan di sekelilingnya. Ia berjalan dengan wajah di tekuk.
"Norin!" panggil sang ibu dari arah belakang punggungnya.
Kemudian Norin berbalik menghadap ibunya." iya Bu!"
Bu Aminah menatap heran pada bibir puteri nya yang terluka dan mengeluarkan darah sedikit.
"kenapa bibirmu berdarah gitu Rin ?"
Norin meraba bibir mungilnya, lalu ia menemukan luka kecil yang terdapat di bibir bawahnya. Kemudian ia melihat jarinya lalu melebarkan kan matanya.
"darah?" gumam Norin.
"ciuman Shin meninggalkan luka di bibirku? dasar pemaksa." Norin bermonolog.
"Norin...Rin !
panggilan sang ibu menyadarkan nya dari lamunan.
"oh ini tadi aku kepentok pintu kamar Bu!" Norin berbohong.
"kok bisa gimana ceritanya Rin?"
"ceritanya panjang Bu, nanti aja aku jelasin."
Norin hendak masuk ke kamarnya namun ibunya memanggilnya lagi.
"ada apa lagi Bu?"
__ADS_1
"kamu udah ngasih selimut untuk bos mu?"
"kenapa ibu perhatian terus sama pria itu sih Bu?"
"ya harus di perhatiin kan dia tamu dan juga bos mu!"
"ibu aja yang ngasih selimutnya, aku mau tidur."
"Norin.....!"
Norin tidak menghiraukan panggilan ibunya, ia masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya.
Norin menatap wajahnya di depan cermin yang tidak terlalu besar. Memegang bibirnya yang terluka.
"andai saja kamu suamiku! aku akan ikhlas melayani mu lebih dari sekedar ciuman. tapi sayangnya mungkin itu tidak akan pernah terjadi." Norin bermonolog.
Waktu menunjukan sudah pukul dua belas malam. Norin masih saja belum bisa memejamkan matanya. Cuaca malam hari terasa dingin menusuk hingga tulang rusuk.
"apa dia kedinginan? aku belum ngasih selimut tadi." meskipun kesal pada pria pemaksa itu, tapi rasa khawatir tetap ada pada Shin.
Norin bangkit lalu turun dari ranjang. Ia membuka lemari pakaian berukuran kecil dan mengambil selimut yang cukup tebal.
Norin keluar dari kamarnya mengendap endap masuk ke dalam kamar tamu yang tidak terkunci sambil membawa selimut, ia tidak mau ibu dan adiknya tau. Ia melihat Shin tengah kedinginan tidur meringkuk seperti bayi besar. Buru buru Norin membentangkan selimut itu menutupi seluruh tubuhnya.
"maaf baru memberikan tuan selimut." gumam Norin lirih lalu hendak beranjak. Namun, sebuah tangan menariknya hingga ia terjatuh dan terlentang di samping pria yang tengah pura pura tidur. kedua tangan Shin langsung memeluk tubuh wanita itu dengan erat.
" tuan lepaskan jangan seperti ini." Norin panik dan ia berontak tapi tangan kekar itu tetap saja tidak mau lepas dari tubuhnya.
"jangan teriak, apa kamu mau ibumu serta adikmu bangun dan mengetahui kelakuan anaknya yang telah mengendap endap masuk ke kamar laki laki malam hari?" bisik Shin membuat nyali Norin menciut.
"malam ini, temani saya tidur disini."
"ap.......!" Shin membekap mulutnya kembali.
"huuss diam lah, hanya peluk saja tidak lebih. atau kamu mau lebih dari pelukan ?"
"ti ......!"
"makannya menurut. anggap saja ini hukuman karena kamu sudah membiarkan saya kedinginan. kamu tau, saya butuh kehangatan dan saya tidak mau masuk angin. oleh karena itu, saya butuh tubuh kurus mu ini."
"aww....." pekik Shin lirih.
Norin mencubit lengan Shin, ia kesal dikatain kurus oleh pria itu.
"kau tau meskipun tubuhmu kurus tapi aku akan tetap sayang padamu forever....!"
Benar atau hanya sekedar ucapan bualan, perasaan Norin menghangat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh pria yang sedang memeluk dirinya dengan erat.
Norin memutuskan untuk menuruti saja keinginan pria pemaksa itu, menemaninya tidur di ranjang yang sama malam ini. karena Ia sendiri kesulitan untuk melepaskan diri dari tangan kekar yang melingkar diperutnya. Meskipun ia berteriak meminta tolong sudah pasti orang orang akan menyalahkannya karena ia sendiri yang masuk ke dalam kamar pria tersebut.
__ADS_1
Norin merasa ia seperti wanita murahan tapi apalah daya, ia hanya seorang wanita lemah yang sedang terbelenggu cinta seorang penguasa dan sulit untuk melepaskan diri dari belenggu tersebut. Seperti yang pernah dikatakan oleh pria itu, sekali pun ia lari ke ujung dunia pun Shin pasti akan menemukannya.
Malam semakin larut dan mencekam. Angin malam berembus kencang membuat malam ini benar benar terasa dingin sekali. Norin tertidur membelakangi pria yang tengah memeluknya dari belakang.
Shin menatap pada pucuk kepala Norin yang terbungkus hijab rumahan. Sesekali ia mengecup kepala itu.
"maaf sayang, jika selama ini aku selalu memaksamu dan memaksakan kehendak ku. Aku tidak tau bagaimana caranya agar kamu memiliki perasaan yang sama denganku. dengan harta yang aku miliki pun kamu tidak mau. lantas apa yang harus aku lakukan agar benih cinta itu tumbuh di hatimu? Aku tau kamu wanita baik oleh karena itu aku sangat mencintaimu. percayalah, sebesar apapun cintaku padamu aku tidak akan pernah merusak kehormatan mu. tapi, jika suatu saat nanti aku lupa, aku khilaf, aku tak sadar lalu aku merenggutnya, aku....aku...janji tidak akan pernah meninggalkanmu." Shin bermonolog.
Norin menggeliat lalu mengubah posisi tidurnya menghadap pada pria yang tengah memeluknya. wajah cantik putih mulus itu ia pandangi dengan jarak hanya beberapa senti saja. Ingin rasanya ia me la hap bibir mungil itu lagi namun sebisa mungkin ia tahan hasratnya. Norin menggeliat lagi, di tengah tidurnya ia merekatkan wajah dan tubuhnya pada tubuh pria itu seolah olah mencari kehangatan. Shin tersenyum miris, sesuatu di bawah perutnya mengembang seketika.
"Wanita ini benar benar menguji adik kecilku rupanya!"
Shin berusaha menahan adik kecilnya yang telah ON, supaya tidak menerkam wanita yang tengah tertidur dengan pulas. Andai saja di kamar itu ada sebuah kamar mandi, tentu saja ia memilih menuntaskan hasratnya di kamar mandi tersebut.
"sial......ternyata mengekangnya tidur bersama ku membuat diriku sendiri tersiksa seperti ini." Shin menyesali perbuatannya sendiri.
Shin bingung bagaimana cara menidurkan adik kecilnya kembali yang masih saja berdiri. Rasanya ia tidak kuat jika harus menahan hasratnya hingga pagi.
"apa...apa aku lakukan saja padanya? ah tidak, tidak. jangan pernah kau merusaknya Shin." Shin bermonolog.
Shin bangkit dari tempat tidur dengan pelan, agar tidak membangunkan wanita yang tengah bermimpi.
Tak ada pilihan lain, ia beranjak pergi ke kamar mandi yang terletak di dapur lalu menuntaskan hasratnya di sana.
Setelah tersalurkan, Shin kembali ke dalam kamar. Kemudian Shin duduk di tepi ranjang, ia menatap pada wajah polos yang tengah tertidur dengan pulas.
"hampir saja aku merusak mu sayang," ucap Shin sembari tangannya mengelus lembut pipi mulus milik Norin.
Shin kembali merebahkan tubuhnya di kasur yang masih sama dengan Norin. Namun kali ini, Shin meletakan bantal guling di tengah tengah sebagai pemisah antara dirinya dan Norin. Ia tidak mau adik kecilnya bangun lagi bisa repot nanti.
Suara ayam tetangga berkokok, Norin mengejapkan matanya perlahan. Dengan kesadaran masih tujuh puluh persen ia melihat sosok wajah tampan tengah tertidur pulas disampingnya namun terhalang oleh bantal.
Norin menatap pada wajah tampan itu."andai saja kamu itu suamiku? mungkin saat ini aku sudah menciumi wajah tampan ini. Tapi sayang, kamu hanya orang lain yang tak memiliki hubungan apa apa denganku." Norin bermonolog.
Norin bangkit dari ranjang tidur itu. lagi lagi ia menatap pada pria yang tengah tidur.
Norin menutup pintu itu dengan pelan setelah memastikan di luar aman tidak ada orang. Namun, setelah ia menutup pintu ia di kaget kan dengan suara kucing entah milik siapa.
"ish, kamu tuh bikin kaget aja, kirain ibuku." umpat Norin pada kucing tersebut.
Norin memasuki kamar kecilnya dengan perasaan lega.
"aman, lebih baik aku tidur lagi aja," ucap Norin tanpa melihat ke arah jam.
Suara ketukan pintu terdengar dari arah luar pintu kamar. Dengan rasa malas Norin menyeret kedua kakinya berjalan untuk membuka kan pintu itu.
"udah siang kok baru bangun sih Rin !" tanya sang ibu yang sudah rapi dengan seragam gurunya.
"memangnya sekarang udah jam berapa sih Bu? di kamar ngga ada jam, aku jadi ngga tau."
__ADS_1
"jam delapan tuan Puteri!" jawab sang ibu.
Pupil mata Norin melebar, bagai mana bisa ia bangun tidur begitu siang padahal ia berencana mau lari pagi dengan Rizal.