Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Alasan Rio


__ADS_3

Norin tak dapat memejamkan matanya. Banyak sekali pertanyaan di otaknya tentang ketidak hadiran pria yang katanya hendak melamarnya. Norin sama sekali tidak pernah berfikir buruk tentang Rio sebelumnya. Karena menurutnya, Rio adalah pria yang jujur dan berhati lembut.


Tapi malam ini, pria yang ia anggap jujur dan berhati lembut bak malaikat ternyata mengingkari ucapannya sendiri. Memberikan harapan palsu padanya serta pada ibunya.


Kecewa? tentu saja. Sakit hati? sudah pasti. Siapa yang tidak kecewa dan sakit hati di perlakukan seperti ini? diangkat tinggi tinggi lalu di jatuhkan dan hancur seketika. Sebuah perumpamaan untuknya saat ini.


"apa aku ini tidak layak mendapat sebuah kebahagiaan hidup? kenapa semua laki laki menyakitiku? kenapa tidak ada yang tulus padaku?" Norin tersenyum getir membayangkan hidupnya yang hanya di jadikan permainan oleh laki laki seolah olah ia adalah makhluk yang tak memiliki perasaan.


Tok tok tok


Pintu kamar di ketuk oleh sang ibu karena sudah jam sembilan pagi Norin belum saja keluar dari kamarnya. Bu Aminah merasa khawatir pada anak gadisnya itu.


"Rin.....Norin.....bangun nak! kamu baik baik aja kan di dalam?"


Suara panggilan yang sedikit keras itu terdengar di telinga Rizal yang tengah mencuci piring di dapur lalu ia menghampiri ibunya.


"apa mba Norin belum keluar aja Bu?"


"belum zal, ibu khawatir soalnya mba mu dari subuh ngga keluar keluar kamar."


Sementara di dalam kamar, Norin hanya menggeliatkan tubuhnya lalu tertidur lagi. Ia sendiri baru bisa memejamkan matanya setelah pukul tiga dini hari dan melewatkan sholat subuh nya.


"apa kita dobrak aja Bu pintunya?"


Bu Aminah diam sejenak." yaudah zal dobrak aja, ibu ngga mau terjadi apa apa sama kakakmu di dalam."


Braak braak braak


Tanpa banyak mikir lagi Rizal mulai membenturkan tubuh bongsor nya ke daun pintu.


braak braak gubraaakk


Rizal berhasil mendobrak pintu kamar Norin dan membuat daun pintu tersebut terlepas dari engsel nya.


Norin terperanjat kaget, ia langsung terbangun dan duduk di tempat.


"astaghfirullah hal adzim, kenapa kamu dobrak pintu kamar mba zal?" Norin protes atas kelakuan adik bungsunya.


"ma maaf mba," ucap Rizal lalu menggaruk tengkuknya sembari nyengir.


"kamu bikin khawatir kami Rin, dari tadi di ketok ketok dan di panggil panggil ngga nyautin jadi adikmu dobrak aja pintunya," ucap sang ibu yang tengah berdiri di belakang Rizal.


"ya Allah maaf Bu, aku ngantuk dan pusing banget soalnya," ujar Norin sambil memijit keningnya.


Wajah Norin terlihat sembab, Bu Aminah tau bahwa puteri ke sayang nya itu habis menangis semalaman.


"maaf ya Rin, kami ganggu kamu. Tapi, apa ngga sebaiknya kamu bangun dan sarapan dulu nanti kamu lanjutkan lagi tidurnya."


"aku belum lapar Bu, nanti aja. aku pengen lanjut tidur lagi."


Norin melirik ke arah pria manis yang tengah berdiri tegak.


"kamu tanggung jawab zal, pasangin lagi itu pintunya."


"siap mba, bentar Rizal cari tukang dulu." Rizal ngeloyor pergi dari kamar kakaknya.


Bu Aminah beranjak pergi meninggalkan kamar Norin, ia tidak mau banyak tanya karena tentu saja ia mengerti dengan perasaan anaknya saat ini. Hari ini, Bu Aminah juga tidak pergi mengajar. ia ingin menemani Norin di rumah.


Seorang tukang tengah memasang daun pintu kamar Norin. Suara berisik ketokan palu membuat Norin terusik dari tidurnya. Ia pun bangun lalu menyeret kedua kakinya dengan malas ke luar kamar.

__ADS_1


"berisik ya mba, maaf ya mba! he he" ucap Rizal. Ia merasa bersalah telah menggangu kakaknya.


Norin menggeser kursi lalu mendudukinya. Ia memperhatikan ibunya yang entah sedang apa di dapur.


"ibu lagi apa?"


Bu Aminah menoleh kebelakang. nampak anak gadisnya tengah duduk di kursi sambil menumpukan sebelah pipinya di meja makan.


"udah bangun Rin?" kemudian Bu Aminah menghampiri anaknya yang terlihat masih mengantuk sembari tangannya memegang gelas berisi minuman.


"ini ibu buatkan jamu untuk kamu Rin!" ucap Bu Aminah sembari menyodorkan segelas minuman berwarna kuning.


"jamu apaan ini Bu?" tanya Norin sembari memegang gelas tersebut.


"jamu penambah stamina. kamu terlihat lesu sekali Rin."


"aku baik baik aja Bu, aku cuma butuh tidur aja makannya lesu."


"udah cepetan di minum setelah itu kamu sarapan. ini udah jam sepuluh lho perut kamu belum terisi makanan apa apa."


Norin menuruti kemauan ibunya untuk meminum jamu buatannya. Terasa pahit di lidah, ingin rasanya ia memuntahkan minuman itu jika tidak mengingat jamu tersebut hasil jerih payah ibunya.


"aku mau mandi dulu Bu, soalnya aku ngga bisa makan sebelum mandi." Norin beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Waktu menunjukan pukul dua siang hari. Bu Aminah tengah pergi ke rumah anak sulungnya yang berada di lain kampung. Sementara adiknya Rizal tengah sibuk di layar laptopnya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar sampai ke dalam dapur.


"zal, coba tolong bukakan pintunya siapa yang datang itu? mba lagi nanggung nih," teriak Norin.


Rizal membuka pintu perlahan, lalu nampak pria tinggi tengah berdiri di depan pintu tersebut. Rizal menelisik penampilan pria tersebut dari atas hingga bawah.


"maaf mau cari siapa ya mas?" Rizal yang tidak pernah tahu bagaimana bentuk rupa calon suami kakaknya itu pun bertanya pada pria tersebut.


Pria itu mengerutkan keningnya, ia juga heran kenapa ada sosok pria bongsor manis dan masih muda di rumah Norin.


"maaf kalau saya boleh tau mas sendiri siapa ya?" tanya Rio.


"saya anak pemilik rumah ini mas!"


"oh, jadi kamu anaknya Bu Aminah adiknya Norin ?"


Rizal mengangguk.


"apa ibu Aminah serta norin nya ada ?


Rizal terdiam."siapa pria ini? apa jangan jangan calon suaminya kak Norin!"


"siapa zal ?" tanya Norin sambil berjalan ke arah Rizal.


Seketika Norin diam di tempat setelah tau siapa yang datang ke rumahnya.


"dek Norin," panggil Rio.


Norin masih tetap diam di tempat.


"dek saya mau minta maaf sama dek Norin serta ibu atas ketidak datangan saya semalam. saya benar benar tidak bermaksud untuk membatalkan lamaran itu. tolong kasih saya kesempatan untuk menjelaskannya dek, saya mohon." Rio memelas pada wanita yang tengah diam di tempat.

__ADS_1


Rizal yang dari tadi diam saja sekarang mengerti bahwa pria di hadapannya adalah calon pria yang hendak melamar kakaknya semalam. Kemudian ia beringsut untuk memberi kesempatan pada mereka berbicara secara pribadi.


Norin menelan ludahnya. Sebenarnya ia juga tak tega melihat pria di hadapannya memohon minta penjelasannya di dengar. kemudian Norin memberikan kesempatan untuknya menjelaskan alasannya.


"silahkan masuk mas!" ucap Norin dengan ekspresi datar.


"dek, tolong ikut saya sebentar! saya akan menjelaskannya di suatu tempat." ucap Rio.


Norin mengerutkan dahinya."apa maksudnya mas?"


"ada yang ingin saya kenalkan terlebih dahulu sama kamu dek?"


"siapa ?" tanya Norin penasaran.


"saya tidak bisa memberi tahukan di sini, saya mohon dek ikut dengan saya sebentar."


Norin berfikir sejenak, karena rasa penasaran ia pun menyanggupinya.


"baik mas tunggu sebentar."


Norin kembali lagi ke luar setelah bicara dulu sama adiknya Rizal.


"ayok dek!" ajak Rio.


Norin mengikuti keinginan Rio untuk masuk ke dalam mobilnya.


Rio mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata. Sepanjang jalan mereka terdiam dengan fikirannya masing masing hingga mereka tiba di sebuah rumah sakit yang terletak di kabupaten.


Rio memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit dan meminta Norin untuk turun dari mobilnya. Norin pun mengikuti keinginan Rio.


"mas, siapa yang sakit?" tanya Norin di sela sela tengah berjalan memasuki rumah sakit tersebut.


"nanti juga kamu akan tau dek!" jawab Rio.


Mereka terus saja berjalan menelusuri lorong rumah sakit dan akhirnya mereka tiba di sebuah ruang rawat inap.


Rio menarik handle pintu ruangan tersebut.


"ayok dek masuk !"


Norin mengikuti perintah Rio untuk masuk ke dalam ruang tersebut. Terlihat ruangan sepi, namun ekor mata Norin menoleh pada seorang anak kecil perempuan tengah tidur di atas ranjang rumah sakit dengan sebuah selang infus di tangannya.


Rio mendekati ranjang tersebut dan Norin mengekor di belakangnya.


"si siapa anak ini mas?"


"namanya Alesa, umurnya genap enam tahun. dan dia......anak saya dek!"


Deg....


Norin membisu lidahnya terasa kelu.


"maaf dek, saya sebelumnya tidak pernah cerita tentang masa lalu saya. karena.....saya takut dek Norin tidak bisa menerima masa lalu saya. dan semalam saya terpaksa membatalkan lamaran karena saya harus membawa Alesa ke rumah sakit.


" ja jadi mas Rio pernah menikah dan.....,"


Cekleek


Pintu terbuka dan nampak wanita dewasa berhijab melihat ke arah mereka.

__ADS_1


"mas, siapa wanita ini?" tanya wanita tersebut.


__ADS_2