Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 8.4)


__ADS_3

"Apa yang sedang kamu pikirkan? Ingin berbagi?" Dia segera tersadar dari lamunannya.


Entah sejak kapan sang suami pulang dia tidak tahu karena sekarang dia sudah berada di dekatnya. Ketika melihat wajah tampan suaminya yang jauh lebih dewasa setelah 12 tahun pernikahan mereka semua rasa gelisah dihatinya segera dipadamkan.


"Mas Ali," Safira bangun dari duduknya dan bergegas memeluk Ali.


Dia memeluknya erat, menyesap ringan wangi suaminya yang candu.


"Ada masalah, hem?" Tanya Ali selembut mungkin.


Dia mengusap wajah cantik Safira, mengecupnya ringan untuk melepaskan rindu. Bila bisa dia ingin membalas pelukan Safira dengan erat tapi dia tidak bisa melakukannya karena ada kehidupan rapuh di dalam rahim Safira.


"Ai, Mas." Bisik Safira mulai memejamkan matanya.


"Mau bicara di sini?" Tanya Ali meminta pendapat.


Safira tidak banyak berpikir dan langsung mengiyakan suaminya. Berbicara di ruang keluarga tidak ada masalahnya-


"Astagfirullah, Mas Ali, ih!" Tanpa persiapan apapun Ai diangkat seperti gaya pengantin oleh suaminya.


Sontak saja dia memeluk erat leher suaminya takut terjatuh.


"Kamu masih belum berubah, sangat ringan. Mulai hari ini biasakan makan banyak biar gizi kamu sama baby terpenuhi, okay?" Kata Ali berbisik manis tepat di telinga istrinya.


Safira sangat malu, wajahnya bahkan memerah dibawah pengawasan Ali. Sudah bertahun-tahun tapi mereka masih belum berubah. Mereka masih sama untuk satu sama lain, masih manis dan tidak tertahankan.


"Mas Ali niat banget mau lihat Safira jadi jelek." Katanya tidak serius.

__ADS_1


Ali tertawa kecil, dia menggigit puncak hidung istrinya merasa gemas. Istrinya ini masih saja seperti ini. Jika dia tidak sedang mengandung Ali mungkin sudah memberikannya sebuah pelajaran.


"Berapa kali harus aku bilang bahwa kamu akan selalu cantik dalam kondisi apapun. Itulah alasan mengapa aku melarang kamu keluar rumah karena semakin bertambah usiamu maka semakin memukau pula dirimu. Ya Safira Sauqi, aku tidak akan pernah tahan melihat istriku dikagumi oleh laki-laki lain!" Apa yang Ali katakan memang benar dan Safira juga merasakannya.


Tahun-tahun ini Ali semakin posesif kepadanya. Ali sangat tidak suka melihat Safira keluar rumah tanpa ditemani olehnya ataupun keluarga yang lain karena pernah kejadian Safira didekati oleh seorang laki-laki anak kuliahan.


Dia tampan dan Ali mengakuinya. Melihat laki-laki itu Ali merasakan krisis tapi bukan berarti meragukan kesetiaan Safira.


Tidak, dia hanya takut istrinya diincar oleh orang lain, itu saja.


"Seharusnya Safira yang mengatakan ini, Mas, karena semakin bertambah usia Mas Ali maka semakin dewasa pula dirimu, Mas. Aura Mas Ali lebih tampan, Safira cemburu bila memikirkan setiap wanita yang memandang Mas Ali dengan tatapan cinta." Safira tidak bisa menampik bahwa suaminya kian dewasa dan kian tampan tahun-tahun ini.


Auranya lebih menggoda dan seringkali coba didekati oleh wanita-wanita diluar sana.


"Tapi hatiku hanya ada dirimu seorang, demi Allah." Dan Ali akan selalu seperti ini.


Dia hanya mencintai bidadari dunianya, wanita yang kelak akan menjadi wanita surganya dan membuat cemburu para bidadari surga akan ketangguhan hatinya.


Merasakan suasana damai yang tidak biasa ini dia tiba-tiba teringat dengan Ai yang sudah berada jauh di pondok pesantren Abu Hurairah. Biasanya Ai akan merecoki mereka di rumah, mengganggu momen manis merek berdua dengan iseng.


Safira merindukannya.


"Masih memikirkan Ai?" Tanya Ali lembut seraya mendudukkan Safira di atas sofa.


Dia lalu mengambil kaki Safira ingin memijatnya namun segera dihentikan oleh Safira.


"Mas Ali tidak usah, kaki Safira baik-baik saja dan Mas Ali juga butuh istirahat karena baru pulang bekerja." Safira menarik Ali untuk duduk bersamanya tapi segera ditolak oleh Ali.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku suka menyentuh mu seperti ini."


Safira menghela nafas panjang. Dia tahu Ali tidak akan melepaskannya.


"Mas, aku pikir Ai di sana tidak baik-baik saja." Kata Safira sambil menatap mata hitam pekat milik suaminya.


"Umumnya semua santri yang baru menginjakkan kaki di pondok pesantren harus melewati berbagai macam emosi di dalam hatinya. Ada yang memang sudah siap tapi tiba-tiba goyah ketika baru pertama kali tinggal, ada yang belum siap namun dengan izin Allah langsung ikhlas ketika pertama kali tinggal, dan ada pula yang belum siap sepenuhnya sehingga dia butuh waktu untuk bisa memantapkan hatinya dalam menuntut ilmu. Istriku, sebagian orang akan mengalami fase-fase ini tapi percayalah seiring waktu mereka akan baik-baik saja dan mulai meluruskan niat kembali. Ini adalah proses yang harus dilewati selama tinggal di sana." Ali mencoba menenangkan istrinya.


"Pondok pesantren adalah sebuah penjara suci dengan segudang aturan yang membuat kepala sakit. Awal-awal masuk di sana mungkin rasanya akan sangat mencekik karena ada banyak sekali aturan yang memberatkan, siapapun harus bersedia melewatinya. Tapi yakinlah istriku, penjara suci itu dibuat untuk kebaikan mereka dan tidak ada maksud yang jahat. Ai pasti mendapatkan buah yang manis dari kesabarannya selama menuntut ilmu di sana. Apalagi ada seseorang yang sudah lama menunggu kedatangannya di sana." Kata-kata terakhir Ali meninggalkan tanda tanya dibenak Safira.


"Seseorang sudah lama menunggu kedatangannya, apa Safira boleh tahu siapa orang itu, Mas?"


Bersambung...


Ada yang nanya hukuman Mulu emang pondok pesantren penjara apa?!


Yup, pondok pesantren itu penjara tapi penjara suci!


Mbak harus tahu awal-awal masuk pondok pesantren itu gak semudah yang sudah diniatkan. Intinya ada aja masalah yang membuat hati ragu atau goyah.


Contohnya seperti cerita saya. Ok, mereka plin plan dan menyebalkan tapi ini adalah sebagian proses. Akan ada hari dimana mereka berpikir lurus, mengesampingkan masa lalu.


Toh mereka juga baru dua hari masuknya.


Langsung aja yah, kalau Mbak gak suka baca ya udah silakan pergi. Mbak juga baca gratisan tanpa mau vote atau kasih semangat jadi mohon maaf bila saya mengatakan,"Apa Mbak gak malu?"


Mbak kan udah saya blokir tapi masih aja gangguin, mashaa Allah..

__ADS_1


Saya capek Mbak, mood saya udah bagus banget mau nulis banyak liat komentar Mbak rasanya down banget.


saya capek mbak, moya kesel!


__ADS_2