
Asri mengeratkan genggamannya pada kain sarung yang kini melindungi tubuh basah nan kotornya. Meskipun masih basah tapi setidaknya tubuh Asri bisa dilindungi dari pandangan mata. Di samping itu, dia bisa mencium wangi milik Kevin dari kain sarung yang melingkupinya. Dia merasa jauh lebih dekat dengan Kevin, tapi tidak dengan hatinya.
"Benar, Kak Sasa. Kita sudah dewasa dan memendam perasaan kepada seseorang adalah hal yang wajar." Asri menjawab dengan tenang seolah tidak ada rasa canggung diantara mereka berdua.
"Asri memang pintar. Ngomong-ngomong, kenapa kalian bertiga tidak mau mendaftar jadi petugas kedisiplinan asrama putri?" Topik berubah dengan cepat.
Ai, Mega, dan Asri kompak saling pandang. Mereka tidak tahu apakah harus tertawa atau tidak mendengar pertanyaan Sasa.
"Kami adalah orang yang seringkali membuat masalah di pondok pesantren jadi bagaimana mungkin kami bisa mencalonkan diri menjadi penegak hukum di sini?" Ai berbicara dengan rasa malu di wajahnya.
Sasa tidak berpikir jika kesalahan mereka semua berat dan patut diperhitungkan.
"Masalah yang kalian buat tidak fatal dan aku lihat kalian juga sudah berubah beberapa bulan ini. Bergabunglah dengan kami, Umi dan Pak Kyai pasti tidak akan mempermasalahkan semua yang telah berlalu." Ujar Sasa.
Mega segera menolak,"Memang benar bila kesalahan yang kami buat tidak fatal tapi meskipun begitu kesalahan yang kami lakukan cukup banyak. Jadi, bagaimana mungkin kami masih memiliki wajah mencalonkan diri menjadi petugas kedisiplinan?"
Mereka semua mengobrol sambil berjalan-ah, lebih tepatnya hanya Sasa dan Mega yang aktif berbicara. Sedangkan Ai dan Asri mereka lebih banyak mendengarkan, sesekali berbicara bila ditanya.
Ini mungkin sudah biasa untuk Ai, entah ia dalam lara atau suka. Namun ini jelas tidak biasa untuk Asri. Sepanjang jalan dia berpikir bahwa langkahnya benar-benar terlalu ceroboh. Jujur, dia bingung dengan apa yang diinginkan oleh hatinya. Dia-
"Asri?" Panggil Sasa dengan rona merah muda di wajahnya.
Mereka sudah sampai di asrama tapi tiba-tiba Sasa menghentikan langkah mereka sebelum masuk ke dalam.
"Ya, Kak?" Asri menjawab sopan.
__ADS_1
"Itu..." Dia melirik kiri dan kanan sebelum berbicara, memastikan hanya mereka bertiga yang mendengarkan ucapannya.
"Bisakah kamu memberikan ku sarung Kevin?"
Ah,
Mereka bertiga jelas tertegun, termasuk Asri yang bertopeng senyum penuh ketenangan.
"Kalian jangan berpikir yang macam-macam...aku tidak bermaksud apa-apa kepada Kevin. Namun, dia adalah tunangan ku jadi...jadi aku harus mencuci sarung miliknya sebelum memberikannya kepada dia." Katanya di warnai dengan rona merah malu.
Jadi seperti itu.
Apa yang ia rasakan benar. Hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Tidak lagi sepasang kekasih tapi sudah menyandang gelar 'tunangan'.
Sekarang apa?
"Kam- oh, Kakak Sasa tunangan sama Kevin?" Mega tidak bisa menahan keterkejutannya.
Dia memang tahu tradisi keluarga Ustad Azam. Sejak anak-anak keluarga itu telah menetapkan jodoh untuk mereka. Terima atau tidak mereka harus melapangkan dadanya karena setiap jodoh adalah pertanda semakin erat hubungan persahabatan antara orang tua. Ini juga berlaku untuk Mega dan Ustad Azam dulu, bahkan Mega juga tahu Sasa sudah memiliki tunangan. Hanya saja dia tidak tahu laki-laki itu adalah Kevin,
Laki-laki yang juga disukai oleh sahabatnya.
Mega dilema, dia tidak mungkin membuat hubungan pertunangan Sasa dan Kevin terputus namun dia juga tidak tega melihat sahabatnya patah hati.
"Tentu, Kak." Asri menjawab dengan tenang.
__ADS_1
Dia melepaskan sarung Kevin.
"Tapi sarungnya kotor karena terkena lumpur di pakaianku." Asri tidak ragu sama sekali memberikan apa yang seharusnya menjadi milik Sasa.
Sasa tidak mempermasalahkannya,"Tidak apa-apa. Aku akan mencucinya nanti."
"Baiklah. Kak Sasa maaf telah merepotkan kalian berdua dan tolong sampaikan rasa terimakasih ku kepada Kak Kevin atas bantuannya."
Sasa mengambilnya dengan malu-malu.
"Inshaa Allah aku akan menyampaikan rasa terimakasih mu. Kalau begitu...aku akan pergi dulu. Kalian segeralah ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum waktu sholat masuk, assalamualaikum."
Asri menatap kepergian Sasa dengan senyuman lebar yang masih belum pudar di bibirnya.
"Waalaikumussalam-"
"Jangan menangis," Tangan Ai tiba-tiba sudah ada di wajah berlumpur Asri.
"Apa aku menangis?" Asri segera menyentuh wajahnya.
Dia memang merasakan cairan hangat di sudut matanya.
"Asri..." Mega tidak bisa mengatakan apa-apa untuk sesaat.
Asri mengusap wajahnya cemberut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, lagipula aku juga sudah dewasa. Bapak pernah bilang jika kita sudah dewasa jatuh cinta sangat mungkin terjadi. Dia juga mengatakan kepadaku bila patah hati satu atau dua kali itu tidak buruk, sekali-kali rasa sakit akan mengajarkan kita bagaimana cara bersikap dewasa. Mega, Ai, jangan khawatir. Aku sungguh tidak apa-apa. Lagipula ini hanya patah hati biasa, rasanya tidak terlalu sakit dan aku bisa melewatinya. Yakinlah, satu atau dua bulan lagi aku pasti bisa melupakannya. Dan mungkin saja, satu atau dua bulan lagi aku bisa bertemu dengan laki-laki yang benar-benar memenuhi tipeku. Ayolah, kalian tahu bukan aku orangnya seperti apa?"