
Di sisi lain Mega sesekali mencuri pandang melihat Sasa yang berjalan lurus di depannya. Dia suka sekali tersenyum dan menyapa balik siapapun yang menyapanya. Tidak hanya itu saja, bahasanya juga sangat sopan dan menenangkan hati sehingga orang akan sulit membencinya.
"Tidak heran.." Gumam Mega seraya mengalihkan perhatiannya menatap hamparan hijau di sampingnya.
"Kita sudah sampai." Kata Tiara membuat langkah mereka berenam berhenti.
Mereka sekarang berdiri di depan sawah dengan 3 macam sayuran yang di tanam, yaitu timun, bayam, dan kentang. Di sawah samping kanan ada tomat dan cabai, di samping kiri ada sayur kol. Lalu di sawah yang di sampingnya lagi mereka tidak tahu di sana ada sayur apa karena jauh dari pandangan.
"Nah, apa kalian melihat sawah di belakang." Mereka bertiga sontak melihat ke belakang di seberang jalan
Itu adalah sawah yang terbentang luas dengan warna hijau kekuningan.
"Ini adalah padi yang kita semua tanam secara bersama-sama. Pak Kyai bilang sebentar lagi kita akan melakukan panen jadi aku harap kalian membagikan informasi ini kepada teman-teman sekamar kalian agar tidak terlalu kaget nantinya." Tiara dengan murah hati berpesan.
Ai dan yang lain mengangguk ringan, pandangan mereka masih belum bisa lepas dari pemandangan indah ini.
"Untuk hukuman Umi berpesan kalian memetik sayuran di sawah ini saja." Katanya sambil menunjuk sayuran yang ada di depan mereka.
Mereka harus memetik timun, bayam, dan kentang untuk makan siang atau malam nanti.
"Bersihkan juga rumput liar yang mengganggu agar tidak merusak tanaman." Frida menambahkan dengan senang hati.
"Oh ya," Dia pura-pura melihat mereka bertiga dengan ekspresi terkejut.
"Dimana Sari? Bukankah dia juga mendapatkan hukuman?"
Dia mengenal Sari. Batin Ai heran.
Ai dengan sopan menjawab,"Kami sudah mencarinya tadi tapi dia pergi entah kemana. Alhasil kami hanya bisa pergi bertiga saja."
"Bohong, kamu dan dia adalah musuh jadi-"
__ADS_1
"Maaf Kak, tapi kami bukan musuh, Kak. Silahturahmi di antara kami tidak terputus sekalipun ada masalah sebelumnya. Kami adalah teman sekamar." Untuk pertama kalinya Ai berani mengungkapkan ketidaksenangannya. Dia sudah lelah dipojokkan oleh Frida seolah-olah mereka adalah musuh yang telah bertikai bertahun-tahun.
"Kamu berani memotong ucapan ku?" Frida marah.
Ai menjawab serius,"Aku tidak sengaja, Kak."
Frida kehilangan sabar-
"Sudahlah, kalian harus segera mulai memetik sayuran sebelum matahari naik semakin tinggi." Tiara mengabaikan kemarahan Frida dan mendorong mereka bertiga turun ke sawah.
Frida kesal. Dia menghentakkan kakinya tidak senang karena urusannya diganggu oleh Tiara.
"Frida, aku sudah mengatakan untuk jangan mengganggu mereka." Kata Tiara mengingatkan.
Frida memutar bola matanya malas,"Dia selalu membuat masalah dan aku tidak tahan."
Tiara mengernyit,"Bahkan sekalipun dia suka membuat masalah kamu tetap tidak berhak melakukan itu kepadanya apalagi sampai menekannya. Ingat, Umi memperlakukan dia dengan sangat baik dan bahkan Ustad Vano juga berpesan untuk mengawasinya karena kondisi tubuhnya yang tidak sehat. Pikirkanlah baik-baik Frida jika kamu terus menekannya, pikirkan apa yang akan Umi lakukan kepadamu dan pikirkan juga apa yang akan Ustad Vano lakukan kepadamu."
Frida mendengus marah, dia tidak berbicara tapi ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia jelas cemburu. Dia cemburu karena Ai mendapatkan perlakuan baik dari Umi dan bahkan Ustad Vano. Hanya karena lemah Ai bisa membuat masalah sesuka hati di sini, bukankah itu sangat keterlaluan?
Di dalam hatinya dia bertanya-tanya apakah Ustad Vano mengenal Ai ataukah Ustad Vano menyukai Ai, tapi pemikiran ini segera dipatahkan ketika dia mengingat kejadian kemarin.
Ustad Vano sama sekali tidak mengenal Ai apalagi sampai tertarik, Tiara yakin itu. Hanya saja..dia masih belum menemukan alasan yang tepat kenapa Ustad Vano menaruh perhatian kepada Ai.
"Ini pasti karena kedua orang tuanya berbicara secara pribadi kepada pihak pondok untuk mengawasi keadaannya selama tinggal di sini." Ini adalah satu-satunya jawaban yang paling masuk akal.
...🍁🍁🍁...
"Mashaa Allah, Ai! tahu gak tadi aku kaget banget liat kamu motong ucapan si Ibu tiri itu!. Aku kira kamu orangnya lembut banget." Asri tidak bisa menahan keterkejutannya ketika melihat orang yang dia pikir lembut, bersih, tidak tersentuh, dan berhati suci ini bisa juga melawan balik dengan serius.
Dia pikir Ai lebih suka diam sekalipun orang lain merendahkannya.
__ADS_1
Ai tersenyum malu,"Ai memutuskan tidak ingin membuat Bunda khawatir di rumah. Dia selalu bilang untuk menjadi orang baik tapi bukan berarti diam saja tanpa melakukan apa-apa ketika diganggu. Jadi..em, aku ingin berubah.." Walaupun itu sangat sulit.
Tapi setidaknya dia tidak mau terus ditekan.
Mega tersenyum canggung di sebelah Ai.
"Bunda Ai sangat galak ketika sedang marah. Kita tidak bisa mengatakan apa-apa bila Bunda Ai sudah berbicara." Mega masih mengingat kejadian 11 tahun lalu itu.
Itu adalah hari dimana semuanya berubah di dalam keluarganya.
Ai juga malu, dia samar-samar mengingat kejadian itu.
"Apa kamu masih marah?" Dia mengacu pada pertengkaran mereka di kelas dulu.
Mega lantas menggelengkan kepalanya merasa lucu,"Saat itu kita masih anak-anak dan pikiran kita tidak jernih. Di samping itu aku adalah orang yang bersalah di sana jadi kamu tidak perlu merasa bersalah."
Asri bingung mereka sedang membicarakan apa,"Beritahu aku apa yang sedang kalian bica- astagfirullah! kenapa kulkas berjalan datang- eh, salah ngomong lagi!. Itu.. Ustad Vano sama Ustad Azam ngapain ke sini? Tapi eh.. ganteng juga yang ada di belakang mereka." Perhatian Asri langsung teralihkan ketika melihat laki-laki tampan di belakang Ustad Vano dan Ustad Azam.
"Ustad Vano.."
"Ustad Azam!"
Ai dan Mega kompak bergumam panik. Ekspresi wajah mereka tampak bertolak belakang tapi tidak bisa menyembunyikan perasaan gugup!
"Ini pasti akan sakit lagi." Bisik Mega lemah.
"Apa yang harus aku lakukan..aku gugup jika Ustad Vano juga di sini." Ai sangat gugup, bahkan kedua tangannya bergetar ringan.
Bersambung..
__ADS_1
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ini adalah novel selanjutnya yang akan update mulai hari Senin. Ini bukan cerita Kayana yah karena penulisannya untuk sementara diundur dulu.
Ini adalah Aku Bukan Humaira. Hanya saja karena telah direvisi saya mengganti judulnya menjadi Pengantin Pengganti, jangan lupa mampir yah🍁