
Uwekk uwek...
Bu Retno merasa heran pada anak gadisnya karena dari kemarin hingga sekarang masih saja muntah muntah sampai wajahnya pucat pasi. Mau di kerokin Elis menolak, mau di ajak ke dokter ia juga menolak. Sudah dua hari pula Elis tidak bekerja. Bu Retno mulai cemas jika Elis sakit terus tidak bekerja lagi akan mengurangi gajinya dan sudah pasti mengurangi pendapatannya bulan ini.
"ayok Lis, kita ke dokter aja biar kamu cepat sembuh. kalau kamu sakit kayak gini terus ngga kerja kerja gimana nanti gaji mu ngurangin."
"ma, apa mama menganggap aku ini mesin pencetak duit? kenapa sih di otak mama duit mulu yang di pikirkan. Iba sedikit gitu ke aku, aku ini lagi sakit ma," ucap Elis kesal.
"gimana ngga mikirin duit Elis, rumah ini masih rumah cicilan dan tiap bulan harus di bayar. makan sehari hari juga pake duit. makannya aku nyekolahin kamu biar bisa bantu cari duit buat bayar cicilan rumah ini."
"terus kenapa harus memeras Elis terus? kenapa ngga mama yang kerja nyari duit? pantas aja bapak pergi dan ngga pulang pulang karena mama yang terus menuntut bapak."
"jangan nyalahin mama dong, bapak mu itu memang ngga ada guna hidupnya. Biarin aja dia pergi ngga rugi juga. Dari pada di sini hidupnya cuma makan tidur doang."
tok tok tok
Terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Sambil ngedumel Bu Retno membuka pintu tersebut.
"assalamualaikum?"sapa Arief.
"kamu rief, kebetulan sekali kamu datang. Si Elis sakit tolong bawa berobat sana," titah Bu Retno dengan sesuka hati. Arief sebenarnya sudah malas sekali bertemu dengan Bu Retno yang selalu bersikap semaunya sama dirinya.
Elis ke luar."mas Arief....!" sapa Elis dengan mata berbinar binar.
"kamu lagi sakit Lis? mau saya antar berobat?"
"e..engga kok engga, aku ngga sakit. cuma masuk angin doang nanti juga sembuh," jawab Elis dengan gugup lalu menundukkan wajahnya."
"kamu itu aneh lho Lis, pucat pasi gitu bilang ngga sakit. Sana berobat mumpung ada si Arief."
"Elis bilang ngga mau ya ngga mau ma."
"dasar anak keras kepala."Bu Retno masuk ke dalam dengan perasaan kesal.
Arief dan Elis duduk di teras rumah.
"kedatangan aku ke sini mau membahas perihal kemarin malam saat kamu datang ke rumahku Lis?"ucap Arief.
"jadi mas Arief akan menikahi Elis secepatnya kan mas?"
"bukan begitu Lis, maksud ku boleh kan aku bertanya alasan kamu minta cepat di nikahi itu apa? bukannya selama ini kamu selalu menghindar dan seolah olah menjauhiku?"
"a aku berubah pikiran mas, a aku pengen cepat cepat nikah aja sama mas Arief," jawab Elis terbata bata.
"beneran? bukan ada sesuatu yang kamu tutupi dariku?"
Elis berdiri, ia emosi di tuduh ada yang ditutupi." mas Arief nuduh aku? apa yang aku tutupi mas? aku ini kan tunangan kamu jadi wajar kan kalau aku minta segera di nikahi?"
"bukan begitu maksudku Lis."
Brughh
__ADS_1
Elis pingsan seketika. Arief panik melihat tunangannya pingsan di hadapannya.
"ma...mama Retno...!" teriak Arief. Bu Retno tergopoh gopoh dari dalam.
"astaga Elis....!"teriaknya.
Arief mengangkat tubuh Elis lalu di tidurkan di atas sofa ruang tamu. Bu Retno mengambil minyak angin lalu di usap usap kan nya di hidung Elis.
"haduh Elis, kamu itu ada ada aja sampe pingsan segala."
"gimana ini ma, Elis belum sadarkan diri aja dari tadi." Arief cemas.
"coba kamu panggilin bidan Een, rumahnya pertama masuk perumahan ini yang cat biru."
Arief bergegas pergi untuk menemui bidan Een tersebut.
Sepuluh menit kemudian, Arif dan bidan Een datang. Bidan Een merupakan tetangga Bu Retno, bidan yang bertugas di puskesmas.
"kenapa dengan Elis Bu Retno?" tanya bidan tersebut sambil berjalan mendekati Elis yang tengah terbaring di sofa.
"ngga tau nih Bu bidan, tiba tiba aja pingsan."
"coba saya periksa dulu." Bu bidan mengambil stetoskop nya lalu mulai memeriksa di bagian bagian tertentu. ketika bidan tersebut memeriksa di bagian perutnya, ia mengerutkan dahinya.
"kapan Elis terakhir menstruasinya Bu Retno?"
Bu Retno mengerutkan dahinya." maksud Bu bidan apa?"
"apa....!" ucap Bu Retno dan Arief bersamaan.
Mata Bu Retno membelalak mendengar penyataan dari bidan Een, ia terkejut sekali anaknya hamil. anak yang ia bangga banggakan pada orang lain selama ini. Begitu pula dengan Arief tak kalah terkejut. Arief tidak menyangka tunangannya hamil entah oleh siapa.
Elis membuka matanya kemudian langsung terduduk setelah melihat ada bidan Een.
"bidan Een ngapain ada di sini?" tanya Elis dengan panik. Ia takut sekali di periksa oleh bidan tersebut dan ketauan sedang hamil.
"yaudah kalau gitu, karena Elis udah bangun saya pulang dulu. permisi ya!" kemudian bidan tersebut beranjak pergi meninggalkan Bu Retno serta Arief yang tengah diam membisu.
Bu Retno menatap nyalang ke arah Elis."apa benar kamu hamil Elis?"bentak Bu Retno.
Elis tersentak. Dugaannya benar bahwa bidan Een telah memeriksanya. Elis menunduk tidak berani menatap Bu Retno yang tengah murka padanya.
"katakan Elis, kamu hamil kan?" tanya Bu Retno.
Elis mulai menangis sambil menunduk. Bu Retno menoleh pada Arief yang sedang bengong." kamu Arief, kamu kan yang menghamili si Elis. Cepat nikahi dia." titah Bu Retno.
Arief tersentak." maaf bukannya saya tidak mau bertanggung jawab, saya akan bertanggung jawab jika itu anak saya. tapi kenyataannya saya tidak pernah menyentuh Elis secuil pun."
"apa maksud kamu, jadi kamu menuduh si Elis hamil oleh pria lain?"
"mama Retno tanyakan aja sama dia, siapa yang sudah menghamilinya?"
__ADS_1
Bu Retno menoleh lagi pada Elis yang masih menangis sesunggukan.
"siapa yang menghamili kamu Elis? katakan siapa ?"
Elis tidak menjawab pertanyaan Bu Retno ia masih saja menangis.
"Rasanya saya tidak bisa melanjutkan lagi pertunangan kita Lis. Saya tidak mungkin menikahi perempuan yang sudah mengkhianati saya. apa lagi sekarang kamu mengandung anak selingkuhan mu itu. maaf aku mundur," ucap Arief lalu beranjak pergi.
Elis mengejar Arief yang sudah ke luar rumah.
"mas Arief jangan tinggal kan Elis mas, Elis mohon maafkan Elis," ucap Elis sambil menangis kencang.
Arief tidak peduli, ia merasa sudah sangat sakit hati. Kemudian, Arief menaiki mobilnya. Elis masih belum menyerah ia mengetuk ngetuk kaca mobil." mas Arief tolong jangan tinggalkan Elis mas, maafkan Elis mas." Arief masih tidak peduli. Ia memundurkan mobilnya ke arah jalan lalu belok dan melaju meninggalkan rumah Bu Retno. Elis mengejar mobil Arief hingga ke jalan sambil teriak teriak memanggil nama Arief. Para tetangga merasa terusik oleh teriakan Elis malam malam. Mereka pun berhamburan ke luar melihat Elis yang terduduk di tengah jalan sambil meraung menangis.
Norin mendapati Elis yang tengah menangis di tengah jalan. Ketika ia baru saja memasuki gang komplek rumahnya bersama Doni.
"A Doni tolong berhenti dulu."
Doni memberhentikan motornya di pinggir jalan. Norin segera menghampiri Elis yang masih meraung menangis menyebut nama Arief.
"Astaghfirullah Elis, kamu kenapa Lis? kenapa duduk di jalan seperti ini? ayok bangun."
"mba Norin, mas Arief ninggalin aku mba. tolong aku mba, aku ngga mau putus dari mas Arief." rengek Elis.
"iya iya, tapi kamu bangun dulu jangan seperti ini gimana kalau ada kendaraan lewat dan ngga liat ada kamu terus nabrak kamu?"
Elis menurut. Ia bangun di bantu oleh Norin.
"ayok pulang jangan di sini, apa kamu ngga malu di liatin orang se komplek?"
Elis menurut. kemudian Norin menuntun Elis pulang ke rumahnya. Tiba di teras rumah Bu Retno, ia langsung menarik rambut panjang Elis tanpa mempedulikan siapa yang ada di samping Elis.
"dasar anak kurang ajar kamu, beraninya mempermalukan keluarga. Siapa....siapa yang menghamili kamu Elis?" bentak Bu Retno dengan sorot mata yang memerah.
"ampun ma, ampun....!" Elis kesakitan karena rambutnya di tarik kencang oleh ibunya. Norin merasa iba pada Elis yang di perlakukan kasar oleh ibunya sendiri.
"Bu Retno udah Bu, jangan seperti ini kasian Elis Bu. Tolong lepasin dan bicarakan semuanya dengan cara baik baik Bu." Norin berusaha meredakan kemarahan Bu Retno. wanita subur itu benar benar seperti sedang kesetanan jika sedang kalap.
"Diam kamu perawan tua, kamu senang kan lihat keluarga ku hancur seperti ini?" bentak Bu Retno dengan sorot mata tajam ke arah Norin.
Doni tidak suka pada sikap wanita yang membentak Norin." Seharusnya ibu bersyukur anaknya di tolongin tadi kalau ngga udah ke tabrak. Kenapa harus marah marah pada Norin yang ngga salah apa apa?"
"kamu juga jangan ikut campur urusanku, mending kalian pergi dari rumahku sekarang."
"ya Bu, kami akan pergi tapi tolong itu rambutnya Elis lepasin dulu," ucap Norin dengan lembut.
"terserah aku mau ngapain dia, dia anak ku, mau aku bunuh juga hak aku."
Elis yang mendengar ucapan sadis ibunya merasa ketakutan."tolong aku mba Norin, aku ngga mau mati mba," rengek Elis.
"oh, yaudah kalau gitu Rin, kita lapor polisi aja kasih tau kalau di komplek kamu ada penganiayaan biar masuk penjara," ancam Doni tiba tiba.
__ADS_1
Bu Retno terperangah lalu segera melepaskan rambut Elis. Ia takut pria tersebut benar benar melaporkannya ke polisi.