
Kini hanya ia sendirian di pondok pesantren sedangkan kedua sahabatnya telah pergi bersama kebahagiaan masing-masing. Sejujurnya, ini adalah sebuah kabar yang sangat membahagiakan namun disaat yang bersamaan dia merasa sangat kesepian.
Dua hari setelah kepergian mereka, asrama, kelas, stan makanan rasanya tidak seasyik dulu lagi. Sekalipun masih ada teman-teman kamar yang lain menjadi teman bicara dan bermain, tapi ia tetap merasa kesepian karena kedua sahabatnya yang telah pergi.
"Aishi sama Mega nikah muda sama Ustad Vano dan Ustad Azam. Mereka beruntung yah disukai oleh Ustad-ustad yang telah diidolakan banyak santri."
Saat ini ia ada di dalam stan makanan bersama teman-teman kamarnya yang lain untuk makan siang bersama.
"Ini adalah takdir yang Allah garis kan untuk mereka." Ujar Asri dengan senyum tipis terbentuk di wajahnya.
Hanya Allah yang tahu betapa berat perjuangan kedua sahabatnya selama ini hingga sampai pada titik ini. Berulangkali terjebak dalam rasa sakit dan kesalahpahaman yang tiada henti, kedua sahabatnya telah menyerahkan semua urusan hati kepada Allah SWT.
Dan lihat sekarang, kedua sahabatnya telah mendapatkan buah manis dari hasil kesabaran mereka. Rasanya begitu manis hingga ia pun ikut merasakan manisnya.
Ia bersyukur kedua sahabatnya bahagia dan ia bersyukur kedua sahabatnya bisa tersenyum cerah bersama sumber kebahagiaan mereka.
Ia bahagia tapi tidak bisa menampik bahwa rasanya cukup tidak nyaman berjuang sendirian tanpa suara-suara penyemangat dari kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Benar, Asri. Apakah Aishi dan Mega mengundangmu datang ke acara akad mereka?" Ratna bertanya karena penasaran.
Asri tersenyum lembut,"Mereka mengundangku tapi aku menjawab inshaa Allah karena pondok belum tentu mengizinkan ku pergi. Di samping itu aku tidak yakin pergi ke kota sendirian apalagi kota itu sebelumnya tidak pernah aku datangi."
Asri adalah orang desa, tidak pernah menginjakkan kaki di kota besar apalagi di kota tempat kedua sahabatnya tinggal. Jarak terjauh yang bisa ia datangi adalah pondok pesantren ini dan itupun ditemani oleh Bapak.
Sejujurnya ingin sekali ia pergi menyusul kedua sahabatnya ke kota. Tapi apalah daya dia tidak berani datang ke kota sendirian apalagi keuangannya sangat tidak mencukupi untuk dibawa ke kota.
Jadi, sangat kecil kemungkinan ia bisa mendatangi acara pernikahan kedua sahabatnya tersebut.
Asri tersenyum kecil. Ia kembali menundukkan kepalanya mulai menyibukkan diri dengan makanan yang ada di depannya. Padahal ia beberapa hari ini cukup tidak berselera melihat makanan. Tidak seperti sebelumnya ketika kedua sahabatnya masih ada di sini. Dia akan sangat berselera setiap kali melihat makanan. Di antara mereka bertiga, dia adalah orang pertama yang selalu menghabiskan makanan lebih dulu dan Ai adalah yang terakhir.
Setengah jam menghabiskan waktu di dalam stan makanan, satu persatu santri mulai meninggalkan stan makanan begitupula dengan Asri. Ia tidak menyia-nyiakan waktunya di sini dan segera mengikuti teman-teman kamar kembali ke asrama.
Tapi di tengah perjalanan pulang mereka tidak sengaja melihat Tiara dan Sari di depan kantor staf asrama putri. Mereka tidak berdiri dengan wajah tertunduk dan tas-tas pakaian di lantai.
Tidak perlu ditanyakan lagi kemana mereka akan pergi karena semua orang sudah tahu mereka berdua telah resmi dikeluarkan dari pondok pesantren. Sebagai hukuman atas kesalahan yang mereka buat, pondok pesantren memutuskan jika mereka berdua tidak bisa lagi tinggal dan menuntut ilmu di dalam pondok pesantren.
__ADS_1
Mau tidak mau dan terima atau tidak terima, mereka harus menjalankannya. Tidak ada negosiasi atau keringanan karena masalah yang sudah mereka buat telah masuk dalam ranah tindakan hukum negara.
Tapi untung saja dari pihak Ai maupun Safira dan Ali tidak akan memperpanjang masalah ini ke meja hijau. Mereka menyerahkan sepenuhnya kepada pondok pesantren, biarkan pihak pondok yang memutuskan hukuman apa yang paling layak untuk kedua orang ini.
"Eh, lihat. Bukankah itu Kak Kevin dan Kak Sasa?"
Deg
Asri tanpa sadar membawa pandangannya mengikuti kemana arah teman-temannya melihat. Di depan mereka, hanya tinggal beberapa langkah lagi Kevin dan Sasa berjalan bersama-sama dengan jarak yang cukup jauh. Mereka tidak hanya berdua saja karena masing-masing dari mereka memiliki teman. Misalnya Sasa dengan Khanza dan Kevin dengan seseorang yang Asri tidak tahu siapa namanya.
Intinya Asri sering memperhatikan laki-laki itu mengikuti Kevin kemana-mana.
Rasanya tidak nyaman. Ia kemudian membawa pandangannya berpaling melihat permukaan tanah berkerikil yang jauh lebih menarik daripada melihat pemandangan manis di depan namun terasa pahit dihatinya.
"Assalamualaikum, Kak?" Ratna dan yang lain memberikan salam dengan kompak dan sopan.
"Waalaikumussalam. Apa kalian akan segera kembali ke asrama?" Meskipun tahu jawabannya Kevin masih tetap menanyakannya, hanya untuk sekedar basa-basi saja.
__ADS_1