
Ustad Vano berdiri lurus di depan pintu masuk stan makanan perbatasan antara santri laki-laki maupun santri perempuan. Sambil memegang tangannya di punggung, ia membawa pandangannya sesekali ke dalam untuk memastikan bila orang yang ia tunggu masih belum datang dan sesekali pula membawa pandangannya menatap luar untuk memastikan bila orang yang ia tunggu muncul.
Namun, di dalam maupun di luar dia tidak melihat keberadaan gadis lembut nan cantik itu. Hampir setengah jam berlalu, akan tetapi orang yang ia tunggu belum menampakkan dirinya. Tidak hanya ia saja, tapi kedua sahabat yang selalu mengikutinya pun sama sekali tidak terlihat.
Jujur, dia resah juga gugup takutnya terjadi apa-apa kepada orang yang ia tunggu kedatangannya itu.
"Apa yang terjadi, kenapa dia masih belum muncul?" Kakinya gatal ingin ke asrama putri tapi dia tidak bisa melakukannya begitu saja karena itu adalah area terlarang.
"Ustad, orang-orang sudah mulai makan siang tapi kenapa Ustad masih berdiri di sini?" Kevin datang menghampiri Ustad Vano.
Dia berdiri di samping Ustad Vano, pandangannya juga diam-diam mencuri pandang ke arah jalan setapak di depan sana.
Tidak ada bayangan siapapun. Kevin mendesah kecewa di dalam hatinya. Dia tidak memiliki naf*u makan dan dia pun tidak tenang. Karena itulah dia memutuskan untuk keluar stan dan tidak mengira akan bertemu dengan Ustad Vano.
Ustad Vano tidak meliriknya,"Aku tidak lapar, kamu bisa pergi makan bersama yang lain."
"Aku juga tidak lapar, Ustad." Kevin menolak masuk.
Dia berdiri di samping Ustad Vano yang tidak kalah resah darinya.
"Ada sebuah rumor yang menyebar pagi ini, tidakkah Ustad tahu rumor apa itu?"
Ustad Vano sama sekali tidak tertarik dengan rumor yang menyebar di pondok pesantren. Namanya juga rumor, belum tentu kebenarannya. Lagipula Ustad Vano juga tidak tertarik dengan urusan orang lain jadi untuk apa menanggapi sebuah rumor?
"Rumor hanyalah rumor, untuk apa didengarkan." Jawab Ustad Vano tidak tertarik.
Kevin menatap Kakak sepupunya rumit. Dia bertanya-tanya bagaimana reaksi sepupunya ini bila tahu jika topik rumor yang menyebar hari ini adalah terpaparnya rahasia Ai- yah, walaupun rumor ini adalah fitnah tapi dengan menyebarnya rumor ini lambat laun rahasia Ai akan diketahui banyak orang.
"Bahkan jika ini menyangkut masalah Aishi Humaira, apakah Ustad tidak akan perduli?" Tanya Kevin dengan suara yang sengaja direndahkan.
__ADS_1
Ustad Vano terkejut,"Siapa? Kamu bilang Aishi? Ada rumor apa tentang Aishi?" Ustad Vano bereaksi cepat, sesuai dugaan Kevin.
Ustad Vano tampak panik, wajah tampannya yang dingin mengeras tidak sabar.
Kevin menghela nafas panjang, karena terlalu acuh sepupunya ini bahkan tidak tahu nasib apa yang sedang dihadapi kekasihnya sekarang.
"Dia dirumorkan-"
"Cepat panggil Ustad ataupun Ustazah!" Suara teriakan panik seorang santri menarik perhatian Kevin dan Ustad Vano.
Karena suara panik ini pula Kevin terpaksa harus menelan suaranya.
"Apa yang sedang terjadi?"
Para santri mengintip dari dalam dengan rasa penasaran yang tinggi siapa pemilik suara melengking ini. Awalnya mereka ingin menertawakan tapi ketika melihat wajah panik santri perempuan itu mereka memilih untuk menutup mulut.
"Ustad..." Santri perempuan itu berlari tergesa-gesa ke depan stan makanan- lebih tepatnya dia mendatangi Ustad Vano dan Kevin yang sedang berdiri di depan stan makanan.
"Ustad atau Ustazah siapapun itu tolong kami...ada yang jatuh pingsan di dalam kamar Fatimah RA." Katanya memberitahu.
Wajah maupun matanya memerah seolah baru saja menangis.
Fatimah RA?
Ini adalah nama kamar Ai di pondok pesantren.
Mendengar nama kamar ini disebut Ustad Vano tiba-tiba merasakan sebuah firasat buruk. Akan tetapi dia tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang di depan gadis itu maupun di depan santri yang kini mulai fokus mendengarkan pembicaraan mereka.
"Tenangkan dirimu dulu dan katakan dengan jelas siapa teman kamar mu yang pingsan?"
__ADS_1
Ustad Vano berharap jika itu bukanlah nama orang yang ia tunggu-tunggu sedari tadi. Dia sangat berharap bila orang yang ia tunggu-tunggu kedatangannya sedari tadi baik-baik saja di sana.
Tapi gadis itu mengecewakan harapannya karena orang yang pingsan adalah Aishi Humaira, gadis cantik nan lembut yang telah mengisi pikiran Ustad Vano sepanjang hari.
"Teman kamarku yang pingsan bernama Aishi Humaira, Ustad. Dia tiba-tiba pingsan saat kami-"
"Aku mengerti." Potong Ustad Vano tiba-tiba merasakan sakit dihatinya.
Perasaan ini... perasaan sakit ini sama ketika ia melihat Ai pingsan di dalam masjid dulu. Jantungnya berdetak kencang tapi hanya ada rasa sesak tidak tertahankan yang ia rasakan.
Dia tidak bisa mengendalikan pikirannya karena beberapa detik kemudian dia telah berlari sekuat tenaga meninggalkan Kevin, gadis itu, dan seluruh santri yang menyimak obrolan mereka.
Semua orang,"...." Sebenarnya siapa yang tidak tenang?
Kevin tidak tinggal diam. Dia memanggil beberapa Ustad yang kebetulan sedang makan di sana dan memanggil petugas kedisiplinan asrama putri untuk segera menyusul Ustad Vano menuju asrama putri. Maka jadilah banyak orang yang berbondong-bondong datang ke asrama putri untuk menyelamatkannya Ai.
"Aishi Humaira...apa yang pingsan ini adalah gadis transgender itu?" Salah satu santri perempuan yang sedang makan siang mulai mengangkat topik ini di atas meja makan.
Karena kejadiannya sudah seperti ini maka mereka mau tidak mau ikut-ikutan membicarakannya. Rumor ini pasalnya sangat hangat dibicarakan pagi ini, menyebar dengan cepat kemana-mana sehingga hampir semua orang di asrama putri tahu tentang rumor Aishi Humaira, si gadis transgender.
"Aku dengar dia menyukai Ustad Vano dan sangat suka membuat masalah untuk menarik perhatian Ustad Vano sejak masuk ke sini." Yang satu menimpali.
Pembicaraan ini rasanya sangat menyenangkan untuk diperbincangkan.
"Astagfirullah, dia terlalu berlebihan menyukai seseorang. Selama aku mondok di sini tidak pernah sedikitpun aku mendengar jika ada seorang santri perempuan yang mengejar-ngejar seorang laki-laki apalagi jika laki-laki yang dikejar seorang Ustad." Gadis di samping juga menimpali.
Orang yang pertama membuka topik pembicaraan memutar bola matanya malas.
"Masalahnya dia adalah gadis jejadian bukan gadis asli seperti kita-kita ini. Urat malunya sudah lama putus sejak dia berani melakukan operasi transgender. Nih yah, pikirin deh baik-baik, sama Allah aja dia gak malu apalagi sama kita yang manusia biasa bin lemah." Katanya di dampingi sebuah candaan.
__ADS_1
"Nana, hati-hati dengan apa yang kamu bicarakan. Ini terlalu kasar, tahu!" Temannya mengingatkan dengan murah hati.