Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 23.8


__ADS_3

Ai mengangkat kepalanya menatap wajah cantik Safira,"Ada apa, Bunda?" Wajahnya terlihat pucat.


"Mau temenin Bunda nyiram tanaman di taman belakang, gak?" Tanya Safira menawarkan.


Ai langsung berdiri dan menganggukkan kepalanya agak bersemangat.


"Mau, Bunda. Tapi adik-adik nanti main sama siapa?" Tanyanya ragu sembari melihat ketiga adiknya yang sedang asik bermain di ruang keluarga.


"Ada Ayah, aunty Sifa, dan Nenek yang main sama mereka. Jadi Ai temenin Bunda aja ya ke taman belakang biar Bunda di sana gak kesepian." Bujuk Safira dengan ekspresi khawatir yang dibuat-buat.


Ai tidak mau melihat Safira kesepian di sana jadi tanpa memerlukan banyak waktu dia berhasil terbujuk oleh rayuan Safira.


"Ai ikut, Bunda. Ai gak akan biarin Bunda kesepian di sana." Sama seperti dirinya, karena kesepian itu amat sangat tidak menyenangkan.

__ADS_1


Safira tersenyum puas. Dia mengusak-usak puncak kepala Ai sebelum menariknya ke taman belakang. Di sana dia dan Ai mulai menyirami bunga mawar hitam yang baru saja di tanam kemarin.


Bunga mawar hitam ini adalah bunga yang ada di rumah Abi. Untuk mengenang Abi, Safira sengaja menanam bibit bunga mawar hitam yang banyak sekali Abi siapkan untuk ditanam di berbagai sudut di rumah.


Sebelum rencana itu dilaksanakan, Abi malah pergi meninggalkan dunia ini. Safira dan kedua Kakaknya yang lain memutuskan untuk menanam bibit bunga mawar hitam itu sebelum mereka mati.


"Ai pernah melihat bunga ini bersama Kakek." Ai bercerita tentang kenangannya bersama Abi.


"Bunda," Panggil Ai dengan kepala tertunduk.


"Ya, sayang?" Safira menghentikan kegiatannya. Duduk di atas rumput seraya mengamati tingkah Ai yang tidak biasa.


Anaknya sedang bersedih, pikir Safira menebak.

__ADS_1


"Apa..Bunda masih menyayangi Ai meskipun Bunda sudah memiliki Qais, Rumaisha, dan Ahza?" Tanyanya dengan suara yang kecil dan tangan kecil yang sibuk mengorek-ngorek tanah.


Jadi ini masalahnya. Batin Safira menyimpulkan.


Dia tidak langsung menjawab. Tangannya yang ramping menarik Ai untuk lebih dekat lagi dengannya dan mengangkat wajah Ai agar menatapnya.


"Apa Ai kesepian karena Bunda terlalu sibuk mengurus adik-adik yang lain?" Tanyanya dengan senyuman manis dibibir.


Ai spontan menganggukkan kepalanya, tapi beberapa detik kemudian dia menggelengkan kepalanya malu.


"Ai dihati Bunda tidak akan pernah tergantikan. Antara Ai dan si kembar tidak ada yang menjadi kedua. Kalian berempat akan selalu menduduki peringkat pertama dihati Bunda. Mungkin beberapa bulan ini Bunda terlalu sibuk mengurus si kembar tapi itu bukan berarti Bunda tidak menyayangi Ai lagi. Si kembar masih kecil sayang dan mereka masih sangat membutuhkan perlindungan jadi Bunda harus siaga bersama mereka. Tapi Ai berbeda, Ai sudah besar dan tidak terlalu membutuhkan penjagaan Bunda. Di samping itu Ai juga bersekolah sehingga Bunda pikir Ai tidak akan kesepian. Nak, tolong maafkan Bunda yang terlalu sibuk mengurus adik-adik kamu. Demi Allah, dihati Bunda kalian selalu menjadi tempat pertama dan tidak ada perbedaan antara Ai dengan si kembar." Ujar Safira dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.


Dia berusaha membuat Ai merasakan betapa tulus kasih sayangnya. Karena begitulah adanya, walaupun Ai bukan darah dagingnya tapi posisi Ai sama dengan si kembar. Mereka selalu menjadi yang pertama, entah itu saat ini ataupun di masa depan nanti.

__ADS_1


__ADS_2