
Jadi, mereka butuh proses untuk menerima semua kehidupan di sini. Apalagi membiasakan diri terjerat dalam aturannya yang ketat, tidak menutup kemungkinan anak-anak baru yang berasal dari kota mengeluh dan banyak melakukan kesalahan di hari-hari pertama masuk.
"Mashaa Allah, Sasa! Jadi orang jangan terlalu baik, dong. Sekali-kali bukalah mata kamu dari sisi yang berbeda karena tidak semua yang kamu lihat sesuai dengan fakta yang terjadi." Frida tidak tahan dengan kelembutan hati Sasa.
Dia gemas ingin memberikannya kuliah dadakan perihal nilai kehidupan.
"Kamu harus pikirkan baik-baik kenapa mereka selalu membuat kesalahan ketika Ustad Vano dan Ustad Azam ada di sini? Jangan bilang jika ini kebetulan karena kebetulan tidak akan terjadi berulang kali!" Ucap Frida kepada Sasa.
Rekan-rekannya yang lain tanpa sadar mulai memikirkan setiap masalah yang terjadi dua hari ini dan selalu berhubungan dengan 3 santri baru. Yang paling aneh adalah setiap masalah itu terjadi bertepatan dengan kedatangan Ustad Vano dan Ustad Azam, contohnya saja hari ini!
"Jika Allah berkehendak apapun bisa terjadi. Kebetulan tidak harus datang sekali atau dua kali, tapi juga bisa berkali-kali. Kita tidak bisa mencegah ataupun melarangnya karena semua sudah Allah atur. Adapun kamu dan Frida, mulai sekarang berhentilah berperasangka buruk kepada mereka. Kita tidak bisa menilai orang dari luar karena yang mengetahui isi hati mereka hanyalah Allah SWT." Sasa adalah orang yang bijaksana dan orang yang selalu mengedepankan pikiran positif dalam segala hal. Inilah salah satu alasan Umi mengangkatnya menjadi ketua kedisplinan asrama putri.
Selain punya jiwa kepemimpinan, Sasa juga nyatanya mampu mengemban amanah dan semua tugas-tugas itu.
Frida tidak puas tapi tidak mengatakan apa-apa. Wajahnya menjadi cemberut, dia kesal dengan Sada karena tidak mau mendengarkannya padahal apa yang dia katakan itu benar.
Sasa menghela nafas panjang, tersenyum kecil kepada yang lain dia lalu kembali meluruskan punggungnya menghadap ke depan. Mereka masih belum jalan karena rombongan Ustad Vano dan Ustad Azam masih belum bergerak.
Dari tempatnya berdiri Sasa diam-diam mengintip sosok dingin yang berdiri lurus tidak tergoyahkan yang kebetulan berdiri tepat di samping Ustad Vano. Meskipun tidak saling menatap dengan pemilik punggung dingin itu tapi Sasa tetap puas.
"Sepertinya suasana hati Ustad Azam sedang baik." Bisik Sasa sambil mengulum senyum di bibir tipisnya.
__ADS_1
Sementara itu dilain tempat Ai dengan langkah panik melarikan diri menyusul Mega dari belakang. Dia berlari kencang dan takut melihat ke belakang. Seolah-olah Ustad Vano dan Ustad Azam akan memburunya untuk menerima hukuman!
"Mega, tunggu!" Teriak Ai.
Mega mendengar suara Ai memanggilnya, dia menoleh ke belakang dan terkejut melihat Ai kini sedang berlari mengejarnya. Dia lalu melambatkan langkahnya menunggu Ai agar segera menyusulnya.
"Ai, kenapa kamu mengikuti ku?" Dia senang Ai juga pergi.
Ai terengah-engah mengatur nafasnya yang memburu,"Aku tidak berani di sana terlalu lama." Tepatnya dia harus menghindar Ustad Vano!
Mega tidak heran setelah mendengar jawabannya,"Lalu dimana Asri?"
"Aku tidak tahu, mungkin dia masih di sana." Perut Ai rasanya tidak nyaman karena berlari.
Mega juga sama buruknya dengan Ai. Jadi, mereka memutuskan untuk bersembunyi di tempat yang aman untuk beristirahat sebelum kembali ke asrama.
"Kita harus istirahat-eh, itu'kan Asri!"
Asri berlari panik mengejar mereka berdua dengan ekspresi yang menyedihkan. Seolah-olah dia baru saja dianiaya dan tidak mendapatkan keadilan.
"Kalian! Kalian!" Dari jauh dia sudah membuat keributan.
__ADS_1
"Jangan berteriak jika kamu tidak ingin dihukum lagi." Teriak Mega sakit gigi.
Ancaman ini sangat bermanfaat karena setelah itu Asri tidak berteriak lagi.
"Kalian.." Dia memegang perut bagian kanannya yang terasa agak sakit.
Kondisi ini juga dirasakan oleh Ai dan Mega. Mereka benar-benar jarang berolahraga!
"Ambillah nafas sebelum berbicara." Kata Ai sambil menarik Asri ikut duduk dengannya di bawah pohon rimbun yang entah apa namanya Ai tidak tahu.
Intinya daun pohon ini sangat rimbun dan tidak tinggi sehingga dapat menyembunyikan keberadaan mereka dengan baik.
"Ini gawat! Ini gawat! Kita bertiga mendapatkan hukuman lagi dari Ustad Vano." Kata Asri berapi-api.
Ai dan Mega tidak terkejut karena mereka sadar telah membuat kesalahan.
"Dia bilang kita harus membersihkan masjid nanti malam setelah selesai makan. Ustad Azam juga menambahkan jika kita tidak bisa pergi sebelum kita menyelesaikannya!"
Kali ini Ai dan Mega langsung bereaksi ketika mendengarnya.
"Yang benar saja, kita hanya bertiga tapi masjid yang kita bersihkan tidak main-main luasnya. Bayangkan, yang sholat dan beribadah di sana lebih dari 20.000 santri! Satu atau dua jam gak akan cukup untuk membersihkannya!" Keluh Mega berapi-api.
__ADS_1