Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 12.9)


__ADS_3

"Kak Sasa tidak perlu turun. Aku...kami masih bisa naik sendiri." Kata Asri sambil tersenyum malu. Suasana hatinya tidak bagus tapi bukan berarti buruk.


Dia tidak butuh bantuan Sasa karena dia merasa mampu. Dulu, ketika masih tinggal di desa kehidupan sehari-harinya ia habiskan di sawah bersama Bapak dan Emak. Jadi dia sudah terbiasa bersentuhan dengan sawah ataupun lumpur.


"Benar bisa sendiri?" Sasa menarik kakinya kembali.


Asri masih tersenyum, bersikap seolah-olah tidak ada yang salah dengan dirinya.


"Beneran, Kak." Dia lalu bangun, merapikan jilbab panjangnya yang sudah basah dan menempel di badannya.


Setelah lekuk badannya tidak terbentuk, dia membantu Ai dan Mega bangun dari duduk mereka. Sambil berpegangan tangan mereka bertiga naik kembali ke atas.


"Asri, terimakasih." Bisik Ai setelah mereka berhasil naik.


Asri tersenyum,"Bukan apa-apa."


Sekarang mereka sudah di atas lagi, berdiri di bawah tatapan mata banyak orang. Baju gamis dan jilbab mereka sangat kotor, di samping itu mereka bertiga kompak kehilangan sandal. Milik Ai dan Asri terlalu dalam masuk ke dalam lumpur sehingga mereka sangat kesulitan berjalan, jadi daripada harus terjatuh untuk yang ketiga kalinya dan menjadi lebih malu lagi, mereka akhirnya memutuskan untuk membiarkan sandal mereka di dalam lumpur dan berjalan tanpa menggunakan alas kaki.


Sedangkan Mega, yah, dia hanya kehilangan sandal kanannya saja sedangkan sandal kirinya masih utuh ditempat meskipun sudah dipenuhi lumpur.


"Siapa yang mau menjelaskan kenapa kalian bertiga membuat keributan?" Tanya Ustad Vano masih marah.


Pasalnya dia sempat melihat mereka bertiga berdiri di depan seorang laki-laki dan berujung jatuh ke dalam sawah.


Mereka bertiga kompak menutup mulut, tidak ada yang berani membuka mulut.


"Oh, kalian tidak mau membuka, mulut? Maka aku akan bertanya langsung kepada saksi kunci dari keributan yang kalian ciptakan." Ustad Vano melirik santri laki-laki yang 'diributkan' oleh Ai, Mega, dan Asri.


Dia melambaikan tangannya meminta santri laki-laki itu datang dan berdiri di dekatnya.

__ADS_1


Sementara itu Ai, Mega, dan Asri tidak yakin dengan siapa saksi kunci yang Ustad Vano maksud tadi.


"Apa yang dia maksud laki-laki asing itu?" Bisik Mega kepada mereka berdua.


Asri tidak yakin, dia mencoba mencuri pandang melihat santri laki-laki itu tapi malang, bukannya melihat wajah santri laki-laki itu tapi dia malah menemukan wajah datar Kevin.


"Astagfirullah!" Dia segera menundukkan kepalanya.


"Ada apa?" Bisik Ai sangat gugup.


"Aku ingin kembali tidur ke asrama." Bohong Asri, ah, lebih tepatnya dia ingin menyembunyikan dirinya ke dalam asrama saat ini!


"Ya Allah, bila tahu begini lebih baik aku rebahan saja di dalam asrama." Dumel Mega mulai menyesal.


"Kalian bertiga ini aneh, tadi saat diminta berbicara oleh Ustad Vano kalian hanya diam saja, sekarang saat Ustad Vano memanggil saksi kunci kalian malah langsung mengobrol. Apa kalian tidak malu dan tidak menghormati Ustad Vano?"


Yah, bisa ditebak itu adalah suara siapa. Benar, orang yang berbicara tadi adalah Frida.


"Selain kami, tidak ada yang diizinkan berbicara." Peringat Ustad Azam serius.


Malu, Frida langsung menutup mulutnya serapat mungkin. Dia bahkan mengecilkan lehernya seakan-akan ini mampu menyembunyikan keberadaannya.


"Cih, rasaain." Gumam Mega senang.


Hem, calon suaminya memang orang yang sangat perhatian! Mega yakin Ustad Azam akan membantunya lepas dari hukuman dan dia juga yakin Ustad Azam mau membantu kedua sahabatnya lepas dari hukuman.


Hem, ada untungnya juga mempunyai hubungan asmara di dalam pondok pesantren!


"Dengar baik-baik apa yang dia katakan-"

__ADS_1


"Ustad," Panggil Asri sangat gugup dan dia juga malu.


"Hem?"


Asri mengakui perbuatannya,"Ini... sebenarnya kesalahanku dan mereka berdua tidak bersalah. Aku...aku awalnya ingin memberikan...su-surat kepadanya."


Semua orang langsung terdiam, mereka bersimpati atas kegagalan romansa Asri yang berujung tragedi tercebur ke dalam sawah berlumpur.


"Tidak, tidak Ustad! Dia bohong." Kata Ai seraya memegang erat surat yang ada ditangannya.


Ini semua adalah kesalahannya sejak awal. Karena jika dia tidak jatuh ke sawah maka Asri tidak akan dipaksa dalam situasi ini.


"Surat ini.." Katanya seraya menunjukkan surat yang telah basah dan kotor karena air berlumpur.


"Se-sebenarnya itu adalah surat ku. Tadi..aku akan memberikannya kepada laki-laki itu tapi aku terpeleset dan terjatuh." Dia membuat sebuah kebohongan dihadapan banyak orang.


Bahkan Asri dan Mega tercengang dibuatnya. Mereka tidak tahu akan ada skenario ini.


"Jadi, kamu ingin memberikan surat kepada laki-laki ini?" Tanya Ustad Vano dengan aura marah yang mendominasi.


Ai takut, tapi ini adalah keputusannya sendiri jadi-


"Ai bohong, Ustad! Surat itu bukan milik Ai ataupun Asri, tapi itu adalah milikku. Laki-laki itu..ya, aku berencana memberikannya tapi terjadi sebuah kesalahpahaman sebelum bisa memberikannya kepada laki-laki itu." Mega berbicara dengan lancar, mengakui tanpa ragu bahwa surat itu adalah miliknya.


Semua orang,"...."


Karena sudah seperti ini maka lebih baik dihukum bersama-sama saja!. Batin Mega nelangsa.


Bersambung..

__ADS_1


Lagi?


__ADS_2