Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 16.10)


__ADS_3

Adit menjadi murung,"Pak, apa aku boleh bertemu dengan Asri?"


Bapak dan Ibu saling tatap, merasa kasihan, mereka memutuskan untuk memanggil Asri.


"Biar Ibu yang panggil, Pak." Ibu pergi ke bagian dalam rumah, mengetuk pintu Asri ringan sebelum masuk ke dalam.


"Nak, Adit ingin bertemu denganmu. Apa kamu mau menemuinya?" Tanya Ibu sembari mendekati putrinya yang sedang duduk di atas kasur.


Asri telah mendengar semua pembicaraan tadi. Ironis rasanya. Ia diperlakukan seperti barang oleh mereka, dibeli bila ada uang dan jika tidak dia akan tinggal dengan sebuah surat perjanjian yang telah ditandatangani.


Dalam hati ia bertanya-tanya, ya Allah mengapa dunia begitu kejam?


Ia adalah manusia!


Ia bukan barang tapi kenapa mereka memperlakukannya seperti barang murahan?


Tak terkira betapa sedih hati Asri saat ini.


"Aku tidak mau, Bu. Aku sedang tidak enak badan." Tolaknya seraya membaringkan diri di atas kasur.


Memunggungi Ibu agar tidak bisa melihat ekspresinya saat ini.


Ibu melihat suasana hati Asri sedang tidak baik jadi ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan keluar memberitahu mereka jika Asri tidak mau keluar.

__ADS_1


Ini adalah sebuah pukulan keras untuk Adit. Dia menjadi lebih murung dan tidak bersemangat. Bahkan setelah pulang dari rumah Asri pun, ia langsung mengurung diri di dalam kamar. Menghabiskan waktu untuk menyendiri dan jauh dari keramaian rumah.


Sementara itu di rumah Asri desas desus mulai menyebar kemana-mana. Bahkan Fina yang menjadi penyebab pernikahan ini terjadi ikut-ikutan bergosip dengan para gadis desa. Tidak bisa ditampik, lamaran Adit kepada Asri membuat mereka cemburu. Mereka jelas tidak senang dan melampiaskannya dengan membuat cerita-cerita buruk tentang Asri.


Cerita-cerita ini begitu hidup sampai akhirnya malam sebelum akad pun tiba. Asri berdiri kosong di depan jendela kamarnya menatap hamparan sawah di depan yang diselimuti sang malam yang gelap gulita.


Tidak ada yang menarik, bahkan seharusnya ini cukup menyeramkan karena minimnya cahaya. Tapi Asri seolah tidak perduli dengan suasana malam yang mengerikan ini. Pikirannya terbang mengingat masa-masa menyenangkannya bersama Ai, Mega, dan teman-teman kamar yang lain.


Bila saja waktu bisa diulang mungkin ia akan memuaskan hatinya menikmati masa-masa indah itu agar tidak ada lagi penyesalan seperti hari ini.


"Apa aku harus melarikan diri?" Dirinya bertanya-tanya diambang keputus'asaan.


Padahal dia sudah berusaha melapangkan hatinya untuk menerima semua ini tapi rasa sakit dihatinya tidak bisa dibohongi.


Dia sungguh sangat terluka diperlakukan selayaknya barang yang bisa dibeli bila memiliki uang banyak.


Ia benar-benar tidak memiliki jalan keluar.


"Ya Allah..." Bisiknya dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


"Tolong lapangkan hatiku... tolong ya Allah, tolong lapangkan hatiku..." Mohon nya seraya meremat dadanya menahan sakit.


"Apa ini sebuah hukuman ya Allah karena aku telah begitu lancang menyukai laki-laki yang telah memiliki gadis lain dihatinya? Apa ini hukuman untuk ku ya Allah?" Bisiknya bertanya-tanya.

__ADS_1


Karena sungguh, rasanya begitu sakit. Dia sangat kesakitan namun hanya bisa melampiaskannya dengan sebuah tangisan.


"Apa ini hukuman?" Bisiknya mulai menenggelamkan diri ke dalam tangisan tertahan.


...🍃🍃🍃...


Setelah sholat subuh Asri mulai bersiap menggunakan baju pengantin sewaan dan mulai dirias oleh perias sewaan dari desanya.


Wajah cantik Asri perlahan dilapisi oleh make up tebal yang sangat mencolok dengan lipstik merah menyala. Baunya yang tidak tertahankan seringkali membuat Asri kesusahan bernafas, ia padahal meminta kepada perias agar menggunakan make up yang tipis tapi tidak didengarkan.


Mau tidak mau Asri harus menggunakan make up tebal dengan bau yang tidak enak. Pukul 11 siang Asri bersama keluarganya berjalan perlahan menuju rumah saudagar Romlah yang telah dipadati banyak orang.


Sepanjang jalan Asri menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Ada yang menyayangkan, bersuka cita, atau ada pula yang tidak tertarik dengan urusan keluarga Asri.


Apapun itu Asri memilih untuk tidak memikirkannya. Beberapa menit berjalan, mereka akhirnya sampai di rumah saudagar Romlah.


Berdiri di depan gerbang rumah adalah Rodi, laki-laki yang akan segera menghalalkan Asri hari ini.


"Asri," Rodi tersenyum konyol di depannya dengan pakaian yang tidak rapi.


Rodi, berand*l yang ditakuti oleh anak-anak desa mengulurkan tangannya ke depan Asri dan disambut oleh suara-suara penuh godaan.


Asri terkejut melihat uluran tangan Rodi. Tangan hitam legam milik Rodi yang ada di depannya saat ini dipenuhi oleh garis-garis tato beraneka ragam warna.

__ADS_1


Ini sangat mengerikan.


"Ayo Nak, sambut tangan calon suami kamu." Ibu menarik Asri dari lamunannya.


__ADS_2