
Tidak hanya Tiara saja yang dibuat takut dan takjub, tapi semua orang yang belum mengenal Safira pun dibuat terkejut olehnya. Mereka bertanya-tanya siapakah Safira sebenarnya?
Apakah Safira seorang dokter kejiwaan? Melihat betapa teliti penilaiannya, bukan tidak mungkin Safira adalah seorang dokter kejiwaan.
Tapi apakah ini mungkin?
Mereka merasa jika Safira sebenarnya lebih dari ini. Ia merasa jika Safira seharusnya bukan sekedar dokter biasa melihat betapa cakap bicaranya dan betapa tegas sorot matanya.
"Luar biasa, Bunda Aishi sangat tajam!" Ratna berbisik kagum.
Asri juga tidak kalah kagumnya,"Orang-orang pasti takut membuat masalah dengan keluarga Ai."
"Aku sudah bilang kan jika orang tua Ai ikut campur maka masalah ini akan menjadi sangat serius. Apalagi Bunda Ai adalah mantan jaksa-"
"Jaksa!" Asri dan Ratna kompak terkejut.
Mega menghela nafas panjang,"Iya, Bunda Ai adalah mantan jaksa. Papa dan Mamaku pernah bilang jika beberapa tahun yang lalu Bunda Ai adalah salah satu jaksa yang disegani di kota kami. Ia adalah orang yang sangat jujur dalam mengatasi masalah di pengadilan, selain itu ia juga cantik dan disukai banyak orang! Jadi, jangan heran dengan kecantikan Ai karena kecantikan itu diturunkan dari Bundanya." Mega tahu bila Ai adalah anak angkat tapi dia tidak ingin memberitahu siapa pun.
Toh, Ai juga bahagia dengan keluarganya yang sekarang dan yang paling melegakan adalah kedua orang tua angkat Ai memperlakukan Ai seperti anak kandung sendiri.
Hah, Mega pikir sahabatnya ini sangat beruntung.
__ADS_1
"Mashaa Allah, kok aku merinding, yah dengernya." Ratna mengusap tengkuknya.
"Aduh, gak bisa berkutik nih pelakunya kalau sama Bunda Ai." Ujar Asri prihatin dengan orang yang telah berani membuat masalah untuk sahabatnya.
"Aku... tidak mengerti apa yang Tante bicarakan. Aku..aku hanya merasa pusing saja, Tante, dan ingin segera kembali beristirahat di asrama." Tiara melakukan pembelaan dengan canggung dibawah pasang mata banyak orang.
"Oh ya, mengapa baru sekarang? Aku perhatikan sebelumnya kamu baik-baik saja." Safira kian membuat orang semakin yakin jika Tiara adalah dalang dibalik rumor itu.
"Aku-"
"Itu kamu, kan?" Potong Safira dingin.
"Apa?" Tiara sangat cemas dan gugup.
"Bukankah apa yang aku katakan benar?" Tanyanya santai.
Semua orang menahan nafas menanti jawaban yang keluar dari mulut Frida.
Frida tanpa ragu menganggukkan kepalanya. Dia mengkonfirmasi dihadapan semua orang jika orang yang telah mengambil laporan hasil kesehatan Ai adalah Tiara.
"Dialah orang yang mengambil laporan hasil kesehatan Aishi. Aku tidak tahu apa alasannya melakukan itu semua tapi memang dialah pelakunya. Aku berani mengatakan ini karena semuanya sudah ada di dalam rekaman cctv." Kata Frida bagaikan sebuah vonis hukuman untuk Tiara.
__ADS_1
"Tidak, tidak mungkin! Dia berbohong! Semua yang dia katakan tadi tidak benar!" Teriak Tiara panik.
Kemudian ia menunjuk-nunjuk Frida dengan jari tangan kanannya yang sedang bergetar ketakutan.
"Dia... Tante harus tahu jika orang yang selalu mengganggu Aishi di sini adalah dia, Tante! Dialah orang yang suka mengganggu putri, Tante! Kedua temannya bisa bersaksi untuk Tante!" Kini ia melemparkan masalah kepada Frida. Membongkar keburukan Frida dulu untuk mengalihkan perhatian.
Tiara yakin orang-orang akan lebih percaya jika pelakunya adalah Frida dan bukan dirinya. Sebab, Frida sudah terkenal blak-blakan di pondok pesantren jika sudah tidak menyukai orang.
Frida menghela nafas panjang, ia menatap Safira berani dan pada saat yang bersamaan malu menatap Ai, gadis tulus yang pernah ia sakiti dengan kata-kata buruknya.
"Aku mengakui bahwa sebelumnya pernah mengganggu Aishi. Tapi itu dulu saat Aishi baru menginjakkan kaki di pondok pesantren, dan aku mengakui perbuatan ku itu. Dan salah satu alasanku menyimpan bukti ini adalah untuk menebus kesalahanku kepada Aishi. Aku ingin meminta maaf kepada Aishi untuk semua kata-kata buruk yang pernah ku lontarkan kepadanya. Tentu saja, aku tidak akan keberatan mendapatkan hukuman di sini asalkan Aishi mau memaafkan ku dan pondok pesantren tidak mengusir ku. Selama tidak meninggalkan pondok, aku akan menerimanya." Frida mengakui semua kesalahannya tanpa bertele-tele.
Safira terkejut. Dia tidak menyangka bila putrinya akan mendapatkan gangguan dihari pertamanya masuk! Bila dia tahu... mungkin Safira tidak akan pernah mengizinkannya sekolah di sini.
"Keberanian mu mempertanggungjawabkan semuanya adalah bukti nyata bahwa kamu bersungguh-sungguh atas semua penyesalan mu. Nak, aku yakin Allah sudah memaafkan dan meridhoi langkah mu, dan aku juga yakin jika putriku telah memaafkan mu. Tiada yang lebih penting dari menyambung kembali ikatan tali silaturahmi. Nak, aku dan istriku juga berterimakasih kepadamu karena telah mau membantu kami menyelesaikan masalah ini. Terimakasih, Nak." Ucap Ali dengan suara tenang dan berwibawa. Selama berada di sini Ali selalu menundukkan kepalanya, menghormati putri dan istri tercintanya agar tidak menimbulkan fitnah.
Dia tidak mempermasalahkan masa lalu karena semuanya sudah terjadi, di samping itu Frida juga sudah bertanggungjawab dan mau mengakui kesalahannya.
Safira menghela nafas panjang, ia menatap wajah lembut putrinya yang kini juga sedang menatapnya dengan sebuah senyuman manis terbentuk di wajahnya yang cantik.
"Kami tidak akan mempermasalahkannya karena masa lalu adalah masa lalu. Selain itu kamu juga membantu kami mengungkap masalah ini, Nak, kami berterimakasih." Safira melunakkan hatinya, melapangkan dadanya dan mau menerima permintaan maaf Frida.
__ADS_1
Bersambung..