
...وَا صْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِى ...
...Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku....
...(QS. Ta-Ha 20: Ayat 41)...
...🍚🍚🍚...
Ai awalnya ingin masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya, tapi dia tiba-tiba mengurungkan niatnya ketika mendengar suara teriakan Ali dari arah balkon. Kedua orang tuanya tidak banyak berbicara tapi Ai tahu bahwa mereka pasti sedang bertengkar.
Beberapa menit kemudian Ali keluar dari kamar dengan langkah tergesa-gesa namun kepalanya menunduk menatap lantai. Karena ini pula Ali tidak memperhatikan ada Ai di samping pintu kamarnya.
Setelah kepergian Ali, dia mendengar suara isak tangis Safira di dalam kamar. Ai cemas dan khawatir, dia masuk ke dalam kamar orang tuanya ingin menghibur Safira. Tapi sekali lagi dia mengurungkan niatnya karena saat ini Safira tampaknya tidak mau diganggu.
Dia duduk di lantai balkon, membenamkan wajahnya di lutut seraya menangis pilu.
"Bunda jangan menangis," Kata Ai dari jauh.
Dia tidak berani mendekati Safira walau untuk sekedar menghiburnya. Di samping itu Ai juga tidak mengerti urusan orang dewasa sehingga alangkah baiknya dia lebih baik memberi tahu Ayah dan Bunda saja atau kalau tidak dia bisa memberitahu Sifa. Dia yakin sesama orang dewasa pasti akan mengerti.
__ADS_1
Jadi, dia segera berlari ke lantai bawah. Untungnya Bunda, Ayah, dan Sifa sedang berkumpul bersama di ruang keluarga.
"Ai, hati-hati!" Sifa mau tidak mau ikut berlari menjaga Ai agar jangan sampai tersandung.
"Aunty! Aunty! Bunda dan Ayah bertengkar di kamar. Ayah marah jadi dia keluar dari kamar sedangkan Bunda nangis sendirian!" Adu Ai mulai menangis setelah sampai di depan Sifa.
"Eh, jangan nangis.. nanti Aunty ikutan nangis, lho." Sifa mengusap kedua mata persik Ai dengan tangannya.
"Ai kenapa nangis? Gak bisa tidur?" Tanya Bunda datang menghampiri mereka.
Ai menggelengkan kepalanya sedih. Karena takut Sifa ikut menangis dia berusaha sekuat mungkin untuk menahan air matanya.
Sifa menatap Bunda dengan tatapan keheranan. Memang wajar setiap rumah tangga mengalami konflik atau semacamnya, tapi untuk Ali dan Safira sebesar apapun konflik yang mereka lalui tidak pernah sekalipun Sifa mendengar pasangan itu bertengkar.
Malah mereka selalu manis dan harmonis setiap waktu, membuat Sifa sebagai penonton kadang ingin menciptakan drama di dalam rumah tangga Kakaknya itu.
Tapi siapa sangka, di saat apa yang dia harapkan terjadi di saat itu pula dia tidak mengharapkannya. Dia tidak suka mereka bertengkar apalagi saling menyakiti.
"Bunda beneran nangis di kamar?" Bunda memastikan.
__ADS_1
Kepala kecil Ai mengangguk dengan cepat, tatapan matanya yang polos bercampur jejak air mata membuktikan bahwa dia bersungguh-sungguh.
"Ai tahu gak Ayah sama Bunda kenapa bertengkar?" Tanya Bunda lembut.
Ai hanya menggelengkan kepalanya lemah. Dia benar-benar tidak tahu menahu urusan orang dewasa.
"Oke, terus Ayah sekarang dimana? Ai lihat gak Ayah tadi masuk kemana setelah keluar dari kamar?"
Ai masih ingat.
"Ayah pergi ke ruang perpustakaan, Nenek." Jawab Ai yakin.
Bunda cukup puas. Dia mengusap kepala Ai lembut seraya mengintruksikan Sifa untuk sementara menemani Ai. Sifa sebenarnya ingin ikut ke atas tapi karena Bunda sudah mengatakannya maka dia tidak punya pilihan selain mematuhinya.
"Ai sama Aunty Sifa dulu yah. Nenek akan pergi menemui Ayah dan Bunda agar mereka segera baikan." Kata Bunda pada Ai.
Ai menganggukkan kepalanya mengerti. Dia ingin kedua orang tuanya tidak bertengkar dan segera baikan.
Setelah itu Bunda naik ke lantai dua. Menaiki tangga selama beberapa menit hingga akhirnya dia berdiri tepat di depan pintu kamar Ali dan Safira.
__ADS_1