
3 tahun kemudian.
"Suara Rumaisha lebih bagus dari Kak Qais! Kalau Ahza tidak percaya tanya saja Kak Ai dan Bunda!" Suara teriakan nyaring Rumaisha kembali meramaikan rumah.
Ayah dan Bunda saja terpaksa harus menyingkir dari mereka untuk keselamatan pendengaran mereka yang sudah menua karena usia. Sedangkan Sifa seperti biasa, dia memilih duduk di sebuah sudut sambil memakan makanan ringan untuk menonton pertunjukan drama anak-anak untuk yang kesekian kalinya.
Mungkin ini adalah penghiburan untuk rasa sepinya karena tidak kunjung naik ke atas pelaminan menyusul teman-temannya yang sudah berumah tangga. Dia juga beberapa hari ini dalam mood yang buruk karena banyak rumor berterbangan di perusahaan mengenai kedekatan Sahid dengan seorang wanita cantik nan sholehah dari bagian logistik.
Mendengar kabar itu hatinya retak menjadi beberapa bagian. Pasalnya dia sudah menyukai Sahid sejak SMA tapi laki-laki itu seolah tidak melihat apa yang Sifa rasakan. Dia acuh atau lebih tepatnya dingin untuk masalah ini. Bahkan Sifa seringkali merasa bila Sahid adalah laki-laki yang kejam.
"Suara Kak Qais yang lebih baik! Kalau Kak Rumaisha tidak percaya kita akan bertanya kepada Aunty Sifa!" Ahza kebetulan melihat Sifa duduk di sebuah pojokan yang tidak terlalu jauh lengkap dengan kuaci di pelukannya.
"Aunty Sifa! Aunty Sifa!" Rumaisha dan Ahza berlari cepat mendekati Sifa.
"Ada apalagi?" Dari reaksi Sifa, dia sepertinya sudah berpengalaman menjadi hakim untuk anak-anak.
"Aunty Sifa apa yang Ahza bilang benarkan kalau suara Kak Qais mengaji lebih bagus dari milik Kak Rumaisha! Ahza.. Ahza sangat suka mendengarkan suara Kak Qais."
Lalu Rumaisha langsung berkacak pinggang. Memelototi Ahza dengan mata besarnya yang sejujurnya tidak terlihat menakutkan. Bukannya menakutkan Rumaisha malah terlihat sangat imut.
"Jelas Rumaisha yang lebih bagus!" Kata Rumaisha dengan percaya diri.
"Itu tidak-"
"Hentikan!" Sebelum mereka mengguncang rumah lagi Sifa terlebih dahulu mengambil tindakan.
Pertama-tama dia mengambil segenggam kuaci dari dalam kemasan kuaci merek tertentu dan memberikannya kepada Rumaisha. Hal yang sama juga Sifa lakukan kepada Ahza. Mereka berdua mendapatkan bagian yang adil.
"Makan itu." Kata Sifa sambil menggerogoti biji kuaci nya.
Rumaisha dan Ahza mengangguk patuh. Mereka berdua secara alami duduk memojok bersama Sifa sambil memakan biji kuaci yang agak sulit mereka kupas.
"Jadi," Kata Sifa pendek sebelum mengunyah kuaci yang berhasil di kupas ke dalam mulutnya.
Rumaisha dan Ahza menatapnya serius. Mereka bahkan menghabiskan segenggam kuaci manis yang ada di tangan mereka.
Menelan,"Aunty pikir," Masukkan lagi biji kuaci ke dalam mulutnya.
Menelan lagi,"Suara yang paling bagus di antara kalian adalah," Masukkan lagi biji kuaci ke dalam mulutnya.
Ayah dan Bunda yang diam-diam menonton dari jauh bahkan sampai menggigit jari melihat betapa berbelit-belit putrinya.
"Ekhem," Dia kemudian melirik air yang ada di atas meja.
"Aunty mau jawab tapi tenggorokan aunty kering jadi.."
"Rumaisha akan mengambil air untuk Aunty!" Rumaisha langsung berlari mengambil air di atas meja.
"Biar aku saja! Biar aku saja!" Lalu dikejar oleh Ahza dari belakang.
Mereka berebutan lagi mengambil gelas yang tentu saja dimenangkan oleh Rumaisha. Dengan bangga Rumaisha mempersembahkan segelas air minum kepada Sifa.
"Anak pintar." Puji Sifa sebelum meminum air putihnya.
"Hari ini gosip lagi dek? Enak banget yah sampai-sampai siapin kuaci segala." Suara nakal Ali masuk ke dalam rumah.
Dia sepertinya baru pulang bekerja dari kantor karena di belakangnya ada Sahid mengikuti sambil membawa tas kerja Ali.
Malang Sifa tidak tahu bila sang pujaan hati juga di sini jadi dia secara terang-terangan mengakuinya dan tidak sempat memperbaiki citra anggunnya.
"Sahid tumben pulang ke-"
"Blurh.." Sifa langsung memuntahkan air yang baru saja dia minum ke wajah polos Rumaisha.
"Aunty?" Rumaisha terlihat akan mulai menangis.
__ADS_1
"Eh Aunty salah! Suara Rumaisha yang paling bagus di sini. Jadi jangan nangis yah, kalau Rumaisha nangis nanti suaranya jadi jelek." Bujuk Sifa merasa bersalah bercampur malu.
Rumaisha menelan kembali keluhannya.
"Aunty gak bohong'kan?" Tanyanya polos.
Sifa menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil mengusap wajahnya dan memperbaiki pakaiannya yang sempat kusut.
"Aunty gak bohong, suara Rumaisha adalah yang terbaik." Katanya meyakinkan namun matanya berada di tempat yang lain.
Sahid melihat itu semua. Mulai dari tingkah konyol Sifa sampai ekspresi paniknya tadi, dia sudah melihatnya dengan jelas. Akan tetapi tidak ada yang berubah dari ekspresinya, itu masih datar dan dingin. Selain itu dia hanya menatap Sifa singkat karena setelah itu dia kembali membawa perhatiannya kepada Ayah dan Bunda.
Jelas saja, sikap dingin Sahid tadi membuat Sifa menjadi malu dan terluka. Dia menggigit bibirnya menahan sakit hati, pura-pura menunduk untuk mulai mengumpulkan kulit kuaci yang tidak sengaja terjatuh. Padahal aslinya dia ingin menyembunyikan wajahnya dari Sahid dan semua orang agar mereka tidak melihat ekspresi sendunya yang menyedihkan.
Ya Allah, cinta bertepuk sebelah tangan ini sangat menyakitkan. Sampai kapan aku harus seperti ini? Sampai kapan aku akan tetap keras kepala mempertahankan rasa yang tidak dimiliki olehnya?
Karena sungguh, ini sangat menyakitkan ya Allah. Batinnya terluka.
Sejujurnya, dia sudah biasa mendapatkan perlakuan dingin ini dari Sahid tapi tetap saja dia masih tidak terbiasa dengan rasa sakit ini.
Mungkin yah, mungkin semua wanita mendapatkan perlakuan yang sama dari Sahid tapi Sifa tidak bisa menolak betapa sensitif hatinya terhadap sikap Sahid.
"Aunty buang sampah dulu yah. Kalian berdua lebih baik pergi mandi dan siap-siap setor hapalan ke Ayah. Oh yah, Bunda kalian akhir-akhir ini kurang sehat jadi jangan terlalu nakal di depannya nanti. Apa Rumaisha dan Ahza mengerti?" Setelah selesai mengumpulkan kulit kuaci yang berserakan, dia meminta Rumaisha dan Ahza untuk pergi mandi.
Karena jika Ali pulang bekerja dia akan langsung meminta anak-anaknya untuk setor hapalan. Setelah itu Ali akan meluangkan waktunya untuk istri dan keluarga, mengesampingkan urusan pekerjaan di kantor.
Bagi Ali bila sudah di rumah maka waktunya akan dimiliki oleh keluarga dan dia tidak akan pernah terganggu sekalipun kantor sedang dalam keadaan mendesak.
"Oke, Aunty!" Mereka berdua segera berlari memeluk Ali, berbicara sebentar sebelum berlari masuk ke dalam kamar mereka untuk membersihkan diri.
Sementara itu, Sifa memperbaiki ekspresi wajahnya sebelum berdiri dan pergi ke membuang sampah. Dia sengaja tidak membuang sampah ke dapur dan malah pergi ke halaman depan karena ingin mencari udara segar.
Hatinya sedang sakit jadi dia butuh pasokan udara segar untuk menenangkannya.
Samar, sebuah garis senyuman yang sangat tipis terbentuk di wajah tampan Sahid. Dia menunduk, bibirnya mengatakan sesuatu yang tidak jelas tapi orang bisa melihat jika kedua mata Sahid tampak berseri-seri malam ini.
Ali lalu menepuk pundak Sahid dengan akrab,"Jika kamu tidak segera menikahi adikku maka kamu harus menerima kekalahan jika suatu hari adikku mengalah dan memilih menerima lamaran dari laki-laki lain."
Ini adalah sebuah ancaman untuk Sahid agar segera mengungkapkan perasaannya kepada Sifa. Siapapun di rumah ini tahu jika Sahid sudah lama menyukai Sifa tapi mereka berpura-pura tidak tahu. Tidak sampai hari ini Ali tidak tahan dengan sikap panas dingin Sahid. Sebagai seorang Kakak dia tidak ingin adiknya terluka dan merasakan pahitnya mendamba cinta seperti yang dia rasakan dulu.
Jujur, itu amat sangat menyakitkan tapi anehnya sesakit apapun rasa itu kata menyerah sangat sulit untuk dilakukan. Hal ini karena setiap kali hati terluka karena merindu, hati juga akan berbisik jika sakit ini hanya sementara. Akan ada suatu hari dimana rasa sakit ini terbayarkan cepat atau lambat.
Sahid tertegun, sekilas Ali bisa melihat ekspresi panik diwajahnya.
"Aku ingin, Mas, tapi aku malu dengan diriku sendiri. Aku adalah anak yang terlahir dari keluarga miskin sedangkan Sifa ter-"
"Justru karena itulah aku memperkerjakan mu di perusahaan sebagai asisten pribadi ku. Aku tahu suatu hari nanti kamu akan menggunakan alasan ini untuk menyakiti hatimu sendiri dan hati adikku. Sahid, tahukah kamu apa yang dirasakan Sifa ketika mendengar banyak rumor tentang dirimu di perusahaan? Dia sakit, Sahid. Dia pasti sangat terluka tapi tidak pernah mengatakan atau menunjukkannya. Sekalipun itu hanyalah rumor dan tidak benar, tapi baginya yang hanya menjadi pendengar jauh semua rumor itu mungkin benar adanya. Maka dari itu aku akan memberikan mu sebuah pilihan. Jika kamu memang ingin menikahi adikku maka segera nikahi dia, jika tidak maka langsung katakan sekarang agar dia segera melepaskan kamu dan memulai hidup baru dengan cinta yang baru." Suara Ali tegas memberi Sahid dua pilihan.
Sahid terdiam, dia menatap kedua mata tegas Ali yang kini jauh lebih dewasa dari beberapa tahun yang lalu dengan pemikiran yang sangat panjang.
Sifa, gadis ini disukai banyak laki-laki dengan identitas yang sepantaran dengan keluarga Ali. Dia tahu dan dia juga sakit setiap kali mendengar mereka berusaha mendekati Sifa, berusaha mencuri perhatian, bahkan hati Sifa.
Sesungguhnya Sahid cemburu.
Tapi apalah daya, dia bukanlah dari generasi kaya sehingga sampai sekarang dia terus mengulur waktu mengungkapkan perasaannya kepada Sifa. Padahal jauh dari dalam hatinya dia sangat tahu betapa ingin dia menjadikan Sifa miliknya.
"Aku akan menikahinya. Bila status sosial ku tidak membuat Sifa malu maka aku akan menikahinya, Mas. Jujur, aku tidak ingin Sifa menjadi milik orang lain maka izinkanlah aku meminang Sifa, Mas." Katanya serius tanpa keraguan lagi.
Ali tersenyum puas. Dia menepuk pundak Sahid dan mendorongnya menjauh, lebih tepatnya Ali mendorong Ali untuk mencari Sifa.
"Kamu sudah mendapatkan restuku dan kedua orang tuaku. Maka temui lah Sifa sekarang, katakan beberapa patah kata untuk menenangkan hatinya. Kemudian bawa kedua orang tuamu besok ke sini untuk membicarakan hari dan tanggal pernikahan kalian."
Jantung Sahid berdegup kencang. Kedua tangannya mengepal kuat menahan perasaan bahagia yang selalu dia rindu-rindukan dalam sujud nya. Pernah suatu hari dia ingin mengungkapkan keinginannya ini kepada Ali namun keinginannya itu harus dia tahan karena dia lagi-lagi meragu di dalam hatinya.
"Secepat itu?" Tanyanya masih belum percaya bercampur perasaan bahagia.
__ADS_1
Ali tersenyum simpul,"Apa kamu tidak mau?"
"Tidak, Mas. Aku mau! Aku akan memberitahu kedua orang tuaku malam ini dan membawa mereka besok datang ke sini!"
Ali puas dengan semangatnya.
"Ya, bawa mereka datang untuk bertemu dengan kami."
...🍚🍚🍚...
Suara langkah berat terdengar dari belakangnya. Sifa tidak berani menebak siapa pemiliknya meskipun di dalam hatinya dia jauh berharap bahwa itu adalah Sahid.
"Di sini dingin, gunakan ini untuk menghangatkan tubuh mu." Suara berat Sahid terdengar begitu dekat dengannya.
Sifa tersentak, wajahnya seketika tidak berani menoleh ke belakang. Tubuhnya semakin kaku ketika Sahid menyampir kan jas hitam itu di belakangnya.
Rasanya hangat, sangat hangat. Sifa bisa merasakan panas tubuh Sahid yang masih tertinggal di dalamnya dan Sifa seolah sedang didekap Sahid ketika mencium wangi khas tubuhnya yang candu.
"Mas..Sahid," Dia sangat bahagia sampai-sampai tidak bisa mengatakan kata-katanya dengan benar.
Sahid tersenyum. Tangan kanannya menggosok lehernya merasa canggung.
"Bagaimana kabarmu sekarang? Aku dengar dari Mas Ali jika kamu akan segera lulus kuliah." Tanyanya canggung.
Sifa melihat senyum Sahid tadi dan langsung terpesona. Hampir.. hampir saja dia bertingkah konyol lagi di depan Sahid.
Jadi setelah dia tersadar, dia secepat kilat menundukkan kepalanya menahan malu juga perasaan bahagia yang sedang meluap-luap.
"Alhamdulillah Sifa baik, Mas. Kuliah Sifa juga sebentar lagi rampung." Dia lalu melirik Sahid dari sudut matanya.
"Lalu bagaimana dengan Mas Sahid sendiri? Setelah bekerja di kantor Mas Ali, Mas Sahid jadi jarang ke rumah. Apa..Mas Ali membuat Mas Sahid terbebani selama bekerja di kantor?" Tanyanya malu.
Sahid tertawa kecil. Rasanya agak canggung tapi tidak secanggung pertama.
"Itu tidak mungkin. Mas Ali adalah pemimpin yang sangat bertanggungjawab di kantor. Dia tidak pernah menyulitkan bawahannya melainkan kami menanggung tugas sesuai posisi kami." Jawabnya mengakui.
Kinerja atasannya itu-ah, atau lebih tepatnya calon Kakak iparnya itu sangat luar biasa. Jujur, dia sangat mengaguminya bahkan sejak dia pertama kali bertemu dengannya.
"Syukurlah..Sifa senang mendengarnya." Bisik Sifa menahan gugup.
Sahid tersenyum lembut, matanya yang biasa serius malam ini terlihat sangat lembut. Di samping itu, rona merah diam-diam merambati daun telinga Sahid. Membuat suasana di antara mereka yang awalnya canggung kini dibuahi oleh rasa manis.
Sayang sekali mereka masih belum halal. Jika tidak, mungkin Sahid sudah membawanya masuk ke dalam pelukan untuk berbagi kehangatan. Namun, untuk hari yang manis itu Ali harus cukup bersabar.
"Sifa," Panggil Sahid setelah mempersiapkan diri cukup lama.
"Ya, Mas?" Jawab Sifa dengan detak jantung yang semakin berdegup kencang.
"Aku..akan membawa kedua orang tuaku besok untuk menemui kedua orang tuamu. Untuk itu.. apakah kamu bersedia menerima kedatangan kami?"
Dug
Dug
Dug
"Apa Mas Sahid bersungguh-sungguh?" Sifa rasanya ingin menangis.
Sahid tersenyum lembut,"Aku bersungguh-sungguh."
Mendengar ini sebuah senyuman lega terbentuk di wajah cantik Safira. Dia tanpa sadar menganggukkan kepalanya semangat, membuat Sahid tanpa sadar tertawa kecil dibuatnya.
"Maka aku akan menunggu kedatangan Mas Sahid."
...END...
__ADS_1