
Kedua mata Mega mulai memerah ketika mengingat semua pengakuan menyedihkan Ai, isakan Ai yang sarat akan kelelahan, dan sebuah perasaan kecewa yang tidak bisa diungkapkan...Mega sedih setiap kali mengingat semua itu.
"Mega," Ustad Azam merasa jika Mega benar-benar serius dengan masalah ini.
"Aishi pingsan Ustad dan sampai sekarang ia masih belum bangun. Coba katakan, apa masalah ini tidak serius? Apa masalah ini tidak membutuhkan uluran kedua tangan orang tuanya? Tidak, Ustad. Masalah ini sangat serius! Ini bukan lagi masalah perseteruan biasa tapi ini menyangkut nama baik dan nyawa! Ini sudah sangat serius jadi bagaimana mungkin kedua orang tuanya tidak bisa ikut campur?"
Ustad Azam menghela nafas panjang. Ia hanya di luar pondok beberapa jam saja tapi dalam waktu itu sudah banyak kejadian hebat yang terjadi. Sekarang dia mengerti mengapa Mega sangat marah dan bersikeras ingin menghubungi kedua orang tua Ai, sahabat dari kekasihnya.
"Baiklah, pakai saja ponselku. Ini lebih cepat dan lebih baik." Ustad Azam memberikan ponselnya kepada Mega.
Mega terkejut, dia langsung mengambil ponsel Ustad Azam. Menyalakan layarnya dengan terburu-buru, hal pertama yang menyambutnya adalah wallpaper ponsel Ustad Azam. Ini adalah foto halangan depan pondok pesantren, jika dilihat baik-baik foto ini diambil beberapa tahun yang lalu karena cat di gerbang dulu dan sekarang sudah berbeda.
"Terimakasih, Ustad." Kemarahan Mega langsung menguap digantikan oleh wajah tersipu nya yang manis.
"Hem, telpon mereka dan berbicaralah yang sopan kepada mereka." Ustad Azam menasehati.
__ADS_1
Mega mengangguk cepat meyakinkan. Menekan kontak dan mulai mendial nomor orang tua Ai. Dia tidak tahu apakah ini adalah nomor Ayah atau Bunda Ai tapi yang pasti ada kata 'orang tua tercinta' di dalam catatan Ai tadi.
Tud~
Telpon terhubung. Mega sangat gugup, jari-jarinya mulai berkeringat.
Tud~
"Hallo, assalamualaikum?"
Deg
Bahkan setelah bertahun-tahun terlewati, Mega merasa jika suara Bunda Safira masih sama. Dan di dalam pikirannya saat ini ia juga yakin jika Bunda Safira mungkin akan sedikit terlihat lebih dewasa dari waktu itu dan tentunya lebih cantik lagi karena kabarnya dia baru saja melahirkan adik Ai, kelamin laki-laki dan perempuan.
Benar, adiknya yang lahir kemarin kembar dua, pasti tampan seperti Ayah Ali dan cantik seperti Bunda Safira.
__ADS_1
"Hallo, assalamualaikum?" Suara Bunda Safira kembali memanggil.
"Ah," Mega tersadar.
Dia mengeratkan genggaman tangannya di ponsel Ustad Azam.
"Hal-hallo, assalamualaikum, Tante?" Mega memberikan salam dengan gugup.
"Waalaikumussalam, maaf ini siapa, yah?" Suara Bunda Safira ramah.
"Tante ini adalah teman Ai di pondok pesantren." Mega tidak berani mengakui dirinya sebagai Mega, takutnya Bunda Safira masih ingat dengan kejadian hari itu.
"Teman Ai, siapa? Mega atau Asri?"
Faktanya Ai sudah sering membicarakan tentang mereka kepada Bunda Safira setiap kali menelpon.
__ADS_1
"Ini...aku akan langsung saja, Tante. Aishi Humaira mendapatkan masalah di pondok pesantren, ada rumor buruk yang mengatakan jika ia adalah gadis transgender. Rumor ini menyebar sangat cepat, Tante. Bahkan Aishi...dia tadi siang jatuh pingsan dan masih belum bangun sampai sekarang. Bila Tante berkenan, tolong datanglah ke pondok pesantren karena saat ini Aishi sangat membutuhkan dukungan Tante dan Om. Tante?"
Bersambung...