
"Alhamdulillah rencana kamu berhasil, kalau gak berhasil gimana?" Tanya Mega menakuti-nakutinya.
Sasa menggaruk pipinya yang tidak gatal. Cengengesan tanpa berani melihat wajah Mega, calon Kakak iparnya.
"Sasa...gak pernah berpikir sampai ke sana, Kak, hehehe..."
Mega menggelengkan kepalanya tidak berdaya.
"Kakak bersyukur dek, karena rencana kamu hubungan Kakak dan Ustad Azam menjadi jelas. Sejujurnya, dulu Kakak juga pernah berpikir jika Ustad Azam tidak memiliki perasaan kepada Kakak karena responnya yang selalu tampak tidak tertarik. Tapi ternyata itu salah dan alhamdulillah, Ustad Azam ternyata memiliki rasa yang sama dengan Kakak. Alhamdulillahnya lagi, Kakak dan dia akan segera menikah beberapa hari lagi. Mashaa Allah, Kakak tidak pernah berpikir untuk menikah muda dulu karena Ustad Azam tidak pernah memberikan kode apa-apa. Kakak senang banget dek, tapi juga gugup karena usia Kakak baru 18 tahun dan akan menjadi seorang istri." Rona merah kebahagiaan menghiasi kedua pipi Mega, menciptakan ilusi bila Mega adalah seorang gadis pemalu padahal sejatinya dia adalah gadis yang cukup dingin.
Memang benar, gadis manapun yang berada di posisi Mega pasti tidak bisa lepas dari rona merah penuh rasa manis nan syukur ini. Apalagi bila sang calon suami adalah laki-laki yang selalu mengisi hati dan doa-doa dalam sujud. Hanya Allah yang tahu betapa manis dan membahagiakannya perasaan itu.
Sasa meraih tangan Mega ikut tertular perasaan bahagianya, senyuman lebar terbentuk indah di wajah cantiknya yang meneduhkan dan telah lama bermandikan air wudhu.
__ADS_1
"Keberanian Mas Azam menikahi Kakak di usia semuda ini adalah bukti bahwa Mas Azam sangat bersungguh-sungguh kepada Kakak. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan mendiamkan Kakak seperti tahun-tahun sebelumnya dan dia juga mengambil langkah besar dengan cara menghalalkan Kakak untuk menghilangkan penghalang yang selalu membelenggunya mendekati Kak Mega. Demi Allah, Kakak sangat beruntung bertemu dengan Mas Azam. Meskipun sempat meragukan perasaan Mas Azam sebelumnya, tapi aku tidak bisa menampik bahwa aku sangat cemburu ketika mengetahui bagaimana dalamnya perasaan Mas Azam kepada Kakak. Di dunia ini, laki-laki yang seperti Mas Azam tidak banyak tapi bukan berarti tidak ada. Hanya saja... orang-orang yang bisa bersanding dengan mereka adalah orang-orang yang pantas untuk mereka. Dan Kak Mega memang pantas bersanding dengan Mas Azam, aku dan kedua orang tuaku ikut bahagia dengan kebahagiaan kalian berdua."
Hati Mega terenyuh, ia meremat kuat tangan Sasa untuk menunjukkan bahwa ia sungguh sangat bahagia dan tidak bisa berkata-kata. Kedua matanya menimbulkan riak-riak tipis berusaha menahan air mata yang ingin keluar.
Seperti yang Sasa katakan, dia memang beruntung mendapatkan Ustad Azam. Laki-laki kaku yang kesulitan menunjukkan perasaannya. Laki-laki kaku yang lebih banyak menggunakan ekspresi datar daripada membentuk senyuman lebar di wajah tampannya. Laki-laki kaku yang disukai banyak santri namun disaat yang bersamaan juga ditakuti oleh banyak santri. Laki-laki kaku yang tidak suka berbicara dan lebih banyak diam untuk melantunkan ayat-ayat cinta dari Sang Pencipta, betapa Mega sangat beruntung bisa bersanding dengannya dan menjadi pendamping yang akan melahirkan anak-anak hasil dari cinta mereka.
Hanya Allah yang tahu betapa manis dan lembut perasaan bahagia yang Mega rasakan saat ini.
"Lalu," Mega mengangkat kepalanya menatap Sasa yang kini sedang menatapnya dengan bibir tersenyum.
"Bagaimana denganmu dan Kevin? Aku dengar dari Ustad Azam kalian akan kembali bersama dari pondok pesantren."
Ketika mendengar pertanyaan ini, lantas senyuman yang merekah indah di bibir Sasa segera menguap entah kemana. Itu menjadi redup dan membawa warna sendu di wajah cantiknya.
__ADS_1
"Dia... tidak pulang bersamaku." Katanya menahan senyum pahit.
Melihat Sasa seperti ini juga membuat warna merah di pipi Mega menguap.
"Kenapa, dek? Apa terjadi sesuatu di pondok pesantren sehingga kalian tidak pulang bersamaku?" Tanya Mega hati-hati.
Sasa tersenyum pahit,"Dia memang mengatakan jika ada sesuatu yang harus diurus di pondok pesantren, tapi...aku tahu itu tidak ada hubungannya dengan pondok pesantren."
Mega penasaran,"Tidak ada hubungannya dengan pondok pesantren, maksud kamu apa, dek?"
Sasa tidak langsung menjawab. Ia menarik tangannya terlebih dahulu dari tangan Mega, menatap Mega dengan perasaan rumit lalu beberapa detik kemudian ia mengalihkan pandangannya sambil menghembuskan nafas panjang.
"Akhir-akhir ini dia sangat tertarik dengan seorang santri perempuan di pondok pesantren. Meskipun ia tidak mengatakannya secara langsung, namun aku bisa melihatnya dari sikap Kevin yang tidak biasa. Selain itu aku juga merasakan jarak diantara kami berdua yang semakin jauh saja jaraknya, seolah-olah ia sengaja mendirikan dinding penghalang di antara kami berdua." Ucap Sasa mulai bercerita sembari mengingat hari-hari yang ia lewati di pondok pesantren penuh dengan perasaan tidak nyaman dan cemburu.
__ADS_1