
Sementara itu, Asri dan Mega secara kompak menggigit bibir mereka untuk menahan tawa yang ingin meledak minta dikeluarkan.
Mereka sangat senang melihat interaksi lucu antara Ai dan Ustad Vano. Ya, meskipun mereka harus diam-diam mengintip, tapi sensasinya sungguh sangat menyenangkan.
"Oh maaf, aku tidak memperhatikannya." Ustad Vano kali ini menurunkan tangannya dengan benar sehingga Ai bisa menjangkau kantong plastik hitam itu dari tangannya.
Ai mengambil kantong plastik hitam itu dari tangan Ustad Vano meskipun ia harus berjinjit sedikit. Hah, tingginya benar-benar disayangkan pada momen-momen seperti ini.
"Terimakasih, Ustad." Ai memegang erat kantong plastik hitam yang kini telah beralih ke tangannya.
Kedua tangannya terasa amat sangat dingin. Bahkan, kedua lututnya pun mulai lemas ingin segera melarikan diri untuk bersembunyi dari Ustad Vano.
Di saat Ustad Vano ada di sini dia ingin bersembunyi darinya, tapi di saat Ustad Vano tidak ada di sini, Ai rindu dan ingin sekali melihatnya.
Hah...
Bukankah cinta itu terlalu rumit?
"Ekhem," Ustad Vano berdehem ringan.
"Bila kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk memberitahu ku. Inshaa Allah, selama itu baik aku bisa memenuhinya. Juga," Senyum di wajahnya perlahan menguap.
"Jangan ulangi lagi kesalahan kemarin. Jangan mengirim surat kepada santri laki-laki ataupun kepada Ustad yang tinggal di sini. Jika kamu tidak mau mendengarkan maka aku akan menghubungi kedua orang tuamu sebagai gantinya." Dia mengancam Ai dengan membawa-bawa kedua orang tua Ai.
Ancaman ini sangat berhasil. Meskipun Ai tidak bermaksud memberikan surat kemarin tapi dia masih saja takut. Di dalam hatinya dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi.
"Tolong maafkan kami, Ustad. Kami janji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi." Ai dengan tulus berjanji, khususnya untuk diri sendiri.
Hati sudah sepenuhnya ditempati oleh Ustad Vano. Tidak ada tempat yang tersisa untuk laki-laki lain, jadi bagaimana mungkin ia mau memberikan surat kepada seseorang yang tidak ia sukai?
Ustad Vano dengan serius memegang janji Ai. Ini adalah janji orang yang ia cintai, sejujurnya Ustad Vano sangat senang.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan memegang janjimu." Untuk yang kedua kalinya dia kembali melirik jam dinding besar itu.
"Sekarang kalian bisa masuk dan sarapan. Ingat, manfaatkan waktu untuk beristirahat setelah kalian selesai sarapan, assalamualaikum." Pesan Ustad Vano sebelum pergi meninggalkan mereka bertiga- tepatnya, untuk Ai seorang.
Karena di sini hanya dirinyalah yang merasa kehilangan sedangkan dua lainnya sibuk memikirkan makanan yang ada di dalam kantong plastik hitam ditangan Ai.
"Waalaikumussalam." Jawab Ai terjebak dalam perasaan manis.
Dia... bolehkah dia berharap jika Ustad Vano juga menyukainya?
Mulai dari perhatian yang hanya diberikan kepadanya seorang, bisakah Ai mengesampingkan rumor yang beredar dan berharap bila gadis beruntung itu adalah dirinya sendiri, Aishi Humaira.
"Ekhem, cie yang senyam-senyum sendiri." Asri mulai meledek.
Mega juga ikut-ikutan.
"Gimana Ai rasanya, setelah bekerja dengan susah payah sang pujaan hati tiba-tiba datang menawarkan sebuah hidangan manis. Melayang gak tuh rasanya?"
"Jangan menggodaku. Di sini banyak orang, aku tidak ingin-"
"Ada rumor buruk tentang Ustad Vano." Asri sudah hafal dengan apa yang ingin Ai katakan.
"Itu lagi? Masih meragukan Ustad Vano?"
Ai tersenyum malu, dia mengalihkan pandangannya dari mereka sambil berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan.
"Ayo sarapan, jika tidak Ustad Vano akan kembali lagi dan memarahi kita." Dengan begitu ia buru-buru masuk ke dalam meninggalkan mereka berdua.
"Cek...kapan sadarnya sih Ai kalau Ustad Vano tuh suka sama dia. Perasaannya gak bertepuk sebelah tangan kayak aku." Ucap Asri ngenes.
Dia baru saja melebarkan sayap ingin terbang menggapai cintanya. Tapi siapa yang akan mengira ketika baru saja mengepak salah satu sayapnya patah. Naas, ia jatuh dan harus menderita untuk menumbuhkan kembali sayapnya yang patah.
__ADS_1
"Ai orangnya pemalu jadi wajar. Nah, kamu orangnya terlalu bar-bar makanya Kak Kevin gak doyan." Mega bercanda.
Asri tersentil tapi masih bisa tersenyum.
"Tahu ah. Eh tapi ngomong-ngomong Ustad Vano tadi pagi keluar pondok, yah?" Asri merasakan jika kantong plastik hitam itu agak hangat.
"Eh masa sih, aku juga sempat dengar dia bilang makanannya harus dimakan dalam keadaan hangat. Coba lihat di dalam ada apa, aja?"
Topik berganti dengan sangat cepat. Bila menyangkut makanan semua yang mereka pikirkan segera meluap.
"Mashaa Allah, Ustad Vano beli roti kok banyak banget. Masih anget lagi!" Asri sangat senang melihat isi kantong plastik hitam tersebut ternyata dipenuhi oleh roti basah yang masih hangat dan wangi.
Setelah sholat subuh tadi Ustad Vano memang keluar pondok sebentar untuk mengambil pesanannya. Jadi, ketika sampai di tangan Ai rotinya masih hangat dan kebetulan waktu yang paling tepat untuk dimakan.
"Makan yuk, bagi sama Ai. Nanti sisanya kasih ke teman-teman kamar deh." Saran Asri sudah menelan ludah.
"Bagi-bagi juga sama staf dapur." Kata Mega tidak jauh berbeda situasinya dengan Asri.
"Pasti dong."
Mega mendelik,"Tapi apa enggak kurang ajar kamu ngasih anak-anak kamar makanan sisa?"
Asri memutar bola matanya dengan jujur.
"Kalau enggak, kamu mau berbagi dengan makanan sebanyak ini? Untuk ukuran anak-anak di kamar, makanan segini gak cukup dibagi apalagi di sana Sari. Kalaupun dibagi rata-rata kita cuma dapat sepotong, kamu mau?"
Asri bukannya tega tapi makanan sebanyak ini tidak akan cukup, lagipula dia ingin makan banyak hehehe... karena dia adalah penyuka roti. Di samping itu Asri masih trauma sama si Sari. Doyan makan banyak, tamak, dan kikir. Dia tidak tahan berbagi makanan dengannya.
"Enggaklah, mana mau aku. Ya udah, rotinya kita makan dulu baru sisanya untuk mereka."
Pada akhirnya Mega juga berpikir seperti Asri. Mereka sangat ingin makan makanan dari luar tapi karena aturan pondok mereka terpaksa harus berpuasa. Hah... sekarang apa yang mereka inginkan sudah ada di depan hidung jadi bagaimana mungkin mereka rela mendapatkan sedikit?
__ADS_1