
Tok tok tok
"Nis, tolong bukakan pintu. Itu ada yang mengetuk," teriak sang ibu di dapur.
"Iya mah," sahut Anisa yang sedang menyetrika baju.
Anisa berjalan ke arah pintu yang di ketuk lalu membuka pintu itu dengan pelan. Ia penasaran siapa malam hari bertamu ke rumahnya. Nampak pria bermata sipit sedang tersenyum manis ke arahnya.
"Youn," ucap Anisa dengan pupil mata melebar. Ia terkejut, bagaimana bisa pria di hadapannya kembali lagi ke rumahnya.
"Hello....mama Anisa!"sapa Youn dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya. Entah mengapa ia selalu merasa rindu pada wanita mungil bermata bulat di hadapannya.
"Ada perlu apa malam hari kemari?" tanya Anisa penasaran.
"Aku....aku...!" Youn menggaruk tengkuknya sambil tersenyum nyengir. Ia bingung mau beralasan apa datang ke rumah wanita yang sudah mengisi fikirannya beberapa hari ini.
"Aku....oh, aku mau menyampaikan sesuatu dari Hoon, eh maksud ku Shin."
"Menyampaikan sesuatu apa?"
"Tentang pengacara yang sudah dia sewakan untukmu."
"Oh, begitu."
"Apa kamu akan membiarkan aku berdiri saja mama Anisa?"
Anisa mencebik kan bibirnya."Sejak kapan aku jadi ibumu?"
"Sejak....Al jadi anak ku."
Jawaban Youn sontak saja membuat Anisa terperangah. Bagaimana mungkin pria yang baru di kenalnya selama dua minggu menganggap Al anaknya.
"Boleh kan aku menganggap Al sebagai anakku?"
"Siapa Anis?"tanya sang ibu yang tiba tiba datang di belakang Anisa.
"Lho, ada tuan Youn rupanya. Kenapa ngga di suruh masuk Anis?" sambung ibu lagi setelah ia tahu siapa yang ada di luar rumah.
"Ayok masuk tuan Youn,"titah ibu.
"Terima kasih Bu," jawab Youn lalu melirik ke arah Anisa yang sedang terdiam dan menunduk. Kemudian Anisa menggeser tubuhnya dari ambang pintu agar Youn bisa masuk ke dalam rumahnya.
"Al dimana Bu?"tanya Youn yang baru saja mendaratkan pinggulnya di atas sofa.
"Oh ada tuan, sebentar saya ambil dulu anaknya." kemudian Bu Nia memasuki kamarnya untuk mengambil Al yang sedang bermain di dalam kamarnya.
"Apa kamu tidak mau duduk mama Anisa?" tanya Youn pada wanita yang masih berdiri saja.
"Kamu mau minum kopi atau teh?tanya Anisa.
"Aku mau kamu duduk di sini."Youn menepuk sofa di sampingnya.
"Bukan minum kopi atau teh." Sambungnya lagi.
Tak selang lama, Bu Nia datang sambil menggendong balita gembul. Youn berdiri setelah kedatangan Bu Nia dan Al.
"Halo jagoan...!"
__ADS_1
"uncle....!" teriak Al sambil tertawa lebar.
"Sini uncle gendong."
Al merentangkan kedua tangannya mendengar Youn hendak menggendongnya. Kemudian, Youn mengambil alih menggendong Al lalu duduk kembali di atas sofa.
"Apa Al sudah sehat?" tanya Youn pada balita yang ada di pangkuannya.
"cudah uncle." jawab Al lalu tersenyum.
"good boy."
Anisa beranjak ke dapur meninggalkan Youn dan Al yang sedang mengobrol. Terdengar tawa dan canda Al dan Youn di ruang tamu.
"Al kok cepat akrab sama pria itu ya Nis? padahal sama si Rendi yang bapak kandungnya aja Al ngga pernah mau."
Anisa mengedik kan bahunya, ia pun merasa heran kenapa Al cepat sekali akrab dengan pria asing tersebut. Anisa menoleh ke ruang tamu, terlihat Youn masih saja mencandai Al dan membuat Al tertawa geli. Seulas senyum tersungging di bibirnya.
Anisa kembali ke ruang tamu sambil membawa secangkir teh dan cemilan lalu meletakkan nya di atas meja.
"Silahkan di minum."
Youn tersenyum."terima kasih mama Anisa yang baik dan cantik,"goda Youn.
Anisa menunduk, ia tersipu malu.
"Lihat mama mu Al, dia malu sama uncle."
"Youn......!"
"Iya sayang....!"
"Ma maaf kelepasan,"ucap Youn sambil menggaruk tengkuknya.
Anisa mendengus kesal.
Pukul sepuluh malam Al baru menguap, ia merasa sudah mengantuk. Tak biasanya Al tidur larut malam.
"Uncle, Al mau bobo," keluh Al lalu menguap.
"Al sudah ngantuk, yuk bobo sama mama."Anisa hendak menggendong Al tapi balita tersebut menolaknya.
"Al, mau bobo cama uncle,"ucap Al tiba tiba. Ucapan Al sontak saja membuat Bu Nia serta Anisa membesarkan pupil matanya. Bagai mana bisa Al berlaku manja pada Youn.
"Al, ngga boleh manja seperti itu, uncle Youn mau pulang ke rumahnya nak,"ucap Anisa.
"No mama," ucap Al, ia merajuk dan menekuk kan wajah lucu nya.
"Al mau di nina bobokan oleh uncle?" tanya Youn.
Al mengangguk lalu Youn tersenyum.
"Dimana kamar Al?" tanya Youn pada Al.
"Al biasanya tidur dengan Anisa kadang dengan saya tuan Youn," jawab Bu Nia.
"Oh, terus malam ini Al mau tidur di kamar siapa?"
__ADS_1
"Kamal mama."
Youn menoleh pada Anisa lalu Bu Nia secara bergantian.
"Ya sudah tuan, tidurkan Al di kamar Anisa saja."
"Baik bu, let's go baby boy kita bobo." Youn berdiri sambil menggendong Al menuju kamar Anisa.
Youn memasuki kamar Anisa yang berukuran tidak terlalu besar namun terlihat bersih dan rapih. Kemudian, Youn menidurkan Al di atas kasur cukup besar dan Youn sendiri ikut merebahkan tubuhnya di atas kasur tersebut. Youn mulai mengelus elus rambut Al hingga Youn ikut tertidur lelap di atas kasur yang sama dengan Al.
"Mah, kenapa Youn lama banget menidurkan Al, apa Al belum mau tidur?"
"Coba kamu lihat dulu Nis."
Anisa beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju kamar tidurnya. Ia membuka daun pintu kamar tersebut dengan pelan. Nampak pemandangan mengharukan, Youn ikut tertidur pulas sambil memeluk balita di sampingnya. Pemandangan yang belum pernah ia lihat antara Rendi dan Al. karena Rendi sendiri belum pernah menidurkan Al.
Anisa mendekati dua pria yang sedang tidur pulas sambil berpelukan. kemudian, ia menyentuh lengan kekar Youn dan menggoncang nya dengan pelan. Namun, pria tersebut tidak mau bangun.
"gimana ini, kenapa dia ikut tertidur juga di kamarku? mana tidurnya kayak kebo susah di bangunin."Anisa bermonolog.
Anisa keluar dari kamarnya lalu menghampiri sang ibu kembali.
"gimana Nis?"tanya sang ibu.
"Youn malah ikut tidur dengan Al mah. di bangunin ngga mau bangun."
"yaudah, biarkan aja dia tidur di kamar mu malam ini nemenin Al."
"tapi mah....!"
"kamu masih bisa tidur di kamar tamu kan Nis? ya udah mamah ngantuk mau tidur dulu."
Anisa kembali ke kamarnya lalu memasangkan selimut pada dua laki laki beda generasi yang sedang tertidur pulas. Setelah itu, ia kembali ke luar dan menutup pintu tersebut.
Terdengar Ayam berkokok menandakan waktu menjelang pagi hari.
"emm jangan nakal sayang......!"ucap Youn dengan mata terpejam. Namun, tak lama kemudian ia mengejapkan matanya perlahan. Nampak balita gembul tersenyum tepat di depan wajahnya sambil tangannya menarik narik hidung mancung Youn.
Youn terperangah, kenapa bukan mamanya yang menarik narik hidung Youn melainkan anaknya. Padahal ia sedang bermimpi bermesraan dengan Anisa.
"Al, kamu jahil sekali kenapa mengganggu uncle yang sedang mimpi indah bersama mamamu," ucap Youn gemas lalu mengangkat tinggi tubuh gembul balita tersebut dengan kedua tangannya. Sontak saja membuat Al tertawa terbahak bahak.
Anisa mendengar suara kericuhan di kamarnya lalu ia berjalan menghampiri kamarnya. Ia ingin melihat apa yang sedang di lakukan oleh Youn serta Al di pagi hari.
"kalian sudah bangun?" tanya Anisa yang menyembul di balik pintu.
Youn dan Al menoleh ke arah pintu." sudah mama," ucap Youn dan Al bersamaan.
Youn melirik pada balita yang masih di angkat tinggi lalu tertawa. Begitu pula dengan Al, mereka terlihat seperti ayah dan anak yang kompak.
Anisa tersenyum melihatnya." Udah dulu becanda nya, Al harus mandi dulu okey."
"ngga mau, Al mandi cama uncle."
"Al ngga boleh gitu, ngga boleh merepotkan orang lain terus. Ayok turun mandi sama mama aja."
"Al bukan orang lain bagiku Nisa. Dia anak ku. biar saja aku yang memandikannya. tidak usah khawatir meskipun aku belum pernah memiliki seorang anak tapi aku bisa memandikannya, anggap saja aku memandikan diriku sendiri.
__ADS_1
Anisa menelan saliva nya dengan susah payah mendengar ucapan Youn yang mengatakan Al anaknya. Youn yang mau memandikan Al, hal yang tidak pernah di lakukan oleh Rendi terhadap Al, anak kandungnya sendiri.
"ayok boy, kita mandi." Youn menurunkan Al. Kemudian, ia menggendong Al lalu berjalan keluar melewati Anisa menuju kamar mandi yang terpisah.