
Dia berlari kecil melewati lorong kantor pondok pesantren. Senyuman lembut nan manis merekah indah di wajah cantiknya yang ceria. Kedatangan Bapak bagaikan obat penawar untuk rasa tidak nyaman yang telah menggerogoti hatinya beberapa hari ini.
"Assalamualaikum?" Dia mengetuk pintu ringan sebelum memberikan salam kepada semua orang yang ada di dalam kantor.
"Waalaikumussalam, Asri?" Ustazah Nur kemudian berdiri dari duduknya, membawa Asri masuk ke dalam.
"Iya Ustazah, saya Asri." Katanya sopan.
Ustazah Nur tersenyum ramah. Ia lalu membawa Asri masuk ke dalam ruang tamu yang sebelumnya pernah menjadi saksi perjuangan Ustad Vano mengejar Ai.
Mengingat malam itu, Asri tidak bisa tidak tersenyum.
"Kemari lah, temui Bapak mu." Katanya mempersilakan masuk.
"Terimakasih, Ustazah."
Setelah itu dia masuk ke dalam dan melihat sosok ringkih yang sedang duduk tidak nyaman di atas sofa.
Bapak adalah orang yang sangat sederhana. Dia selalu berkutat di sawah bersama Ibu dan jarang menyentuh barang-barang mahal seperti sofa ini. Di rumah mereka hanya bisa duduk di lantai semen, makan dengan piring-piring besi yang anti pecah dan lebih murah daripada piring terbuat dari barang-barang pecah belah.
Jadi, duduk di tempat yang asing dan ber'uang seperti ini sudah pasti membuat Bapak tidak nyaman.
"Assalamualaikum, Bapak?" Suara lembut Asri segera menarik perhatian Bapak dari ketidaknyamanannya.
"Waalaikumussalam, Nak?" Bapak berdiri dari duduknya, memeluk Asri rindu karena sudah lama tidak bertemu.
"Bapak kok tumben datang ke sini, Ibu gak ikut Bapak?" Asri juga merindukan Ibunya.
Bapak menggelengkan kepalanya terlihat tidak baik-baik saja. Asri pikir pasti ada yang sedang Bapaknya pikirkan dan itu mungkin bukan hal yang baik.
__ADS_1
"Ibu di rumah tinggal sama Adek kamu. Mereka sebenarnya ingin ikut tapi tidak muat karena Bapak hanya bawa satu motor ke sini."
Di rumah mereka memang hanya ada satu motor, motor butut. Motor ini sering Bapak dan Ibu bawa ke pasar untuk menjual sayur hasil panen.
"Bapak... belum makan, ya?" Bapak terlihat pucat dan kedua matanya lebih cekung seolah jarang beristirahat.
Pekerjaan sawah tidak akan sampai menyita waktu istirahat, Asri yakin.
"Bapak gak bisa makan, Nak. Bapak selalu kepikiran kamu." Kata Bapak memaksakan senyum.
Asri juga rindu.
"Aku baik-baik saja di sini, Pak. Aku punya banyak teman dan tidak kekurangan makanan. Bapak tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi." Kata Asri menghibur.
Wajah Bapak menjadi sendu,"Nak, Bapak tahu kamu baik-baik saja di sini. Bapak... hanya khawatir kamu menolak untuk ikut pulang."
"Iya, Nak. Kamu terpaksa harus berhenti sekolah di sini." Kata Bapak dengan berat hati.
Deg
Jantung Asri sontak berdebar kencang. Ia meremat kedua tangannya sakit sambil menduga-duga apa penyebab ia harus berhenti sekolah di sini.
"Kenapa Asri harus berhenti sekolah di sini, Pak?" Asri berusaha menahan isak tangisnya.
Ia tidak ingin membuat Bapak sedih.
"Apa karena Bapak dan Ibu sudah tidak punya biaya lagi untuk membiayai, Asri?" Itu murni karena keluarganya tidak mampu dan Asri sangat mengetahui kebenaran ini.
"Ini adalah salah satu alasannya, Nak." Jawab Bapak dengan nada getir.
__ADS_1
"Alasan yang lainnya adalah Bapak dan Ibu tidak bisa membayar hutang kepada juragan Romlah. Bapak sudah menjual sawah kita dan hanya menyisakan satu sebagai tempat untuk mencari nafkah. Tapi itu masih belum cukup untuk melunasi hutang-hutang kita. Jika tidak segera dibayar, juragan Romlah mengancam akan melaporkan kita ke polisi, Nak." Ini adalah sebuah kabar buruk.
"Lalu apa yang harus Asri lakukan, Pak?" Tanya Asri getir.
"Asri hanya punya uang seadanya yang Asri tabung dari pemberian Bapak dan Ibu. Apakah Asri harus pergi mencari pekerjaan untuk melunasi hutang-hutang kita?" Asri pikir inilah satu-satunya jalan.
"Nak, juragan Romlah tidak ingin uang, tapi dia ingin salah satu diantara kamu dan adik kamu menikah dengan putranya."
Hancur rasanya hati Asri. Tanpa Bapak beritahu kabar selanjutnya pun dia tahu jika alasan ia berhenti dari pondok adalah karena untuk melunasi hutang-hutang keluarganya. Adiknya pasti tidak mau menikah dengan putra juragan Romlah, karena itulah Bapak datang membawanya pulang.
Asri tidak kuasa menahan kesedihannya. Dia menangis, dia menangis di depan Bapak karena sudah tidak kuasa lagi menahan rasa sakit dihatinya.
"Apakah Bapak ikhlas menikahkan Asri dengan dia?" Tanyanya pilu.
Bapak tidak mungkin ikhlas, sebab putra juragan Romlah terkenal suka membuat masalah di desa dan suka mabuk-mabukan pula. Bapak tidak akan ridho mengirim putrinya ke dalam lubang kehancuran.
Bapak menggelengkan kepalanya menahan sakit dan putus asa. Melihat putrinya menangis ia pun juga tidak kuasa menahan air matanya.
"Maafkan Bapak, Nak. Maafkan, Bapak." Mohon Bapak merasa bersalah.
"Bila Bapak dan Ibu ridho melihat Asri menikah dengannya maka Asri ikhlas, Pak. Asri tidak akan menolak menikah dengannya. Mungkin ini adalah jalan yang Allah garis kan untuk, Asri. Mungkin ini adalah jalan yang Allah telah takdirkan untuk Asri dan inshaa Allah..." Asri tidak kuasa melanjutkan ucapannya lagi.
Ia menangis terisak-isak, meremat kuat kedua tangannya menahan rasa sakit dari hatinya yang hancur.
"Aku ikhlas menerima semuanya."
Bersambung...
Jangan lupa perbanyak sholawat yah di hari Jumat 🍃
__ADS_1