Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Selamat Datang Satrio


__ADS_3

Setelah perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya kami sampai ke Bandung.


Aku pun terus menggenggam tangan Satrio erat hingga kami sampai kerumah nya. Dirumahnya sudah banyak orang yang menunggu kehadiran kami.


"Nad, aku seneng deh, akhirnya bisa pulang ke rumah lagi bareng kamu, habis ini kita harus segera bicarakan pernikahan, aku nggak mau kamu tinggal di rumahku tanpa status yang halal."ucap Satrio menatapku dan kami masih berdiam diri didepan pintu rumah


"Iyaa aku juga seneng banget, iyaa nanti kita bahas pernikahan kita yaa sayang, yaa cuma yang terpenting kamu harus tetap jaga kondisi kesehatan kamu, kan kata dokter masih harus sering periksa."ucap ku khawatir


Satrio pun tersenyum padaku, lalu kami memencet bel rumah.


Ting tong...


Ting tong...


"Koq nggak ada orang yang Om?."tanya Satrio pada Om Heru yang sedang sibuk membalas chat relasi kerjanya


"Oh mungkin lagi pada beres-beres, yasudah kalian langsung masuk aja, Om buru-buru mau kekantor, ada urusan penting."ucap Om Heru


"Iyaa makasih Om, hati-hati yaa Om."ucap kami


Om Heru pun meninggalkan kami dan bergegas ke kantor dengan membawa mobil sendiri.


Lalu Satrio pun membuka pintu rumah nya yang memang tidak terkunci.


Ketika dibuka, sudah banyak orang menunggu diruang tamu.


"Surprise , Selamat datang Pak Satrio."ucap seluruh pegawai Satrio


"Eh kalian sudah berkumpul disini, ya ampun ini koq ruangan nya jadi kayak dihias buat ulang tahun?, tapi makasih semuanya."ucap Satrio


"Iyaa Pak, sama-sama, kita seneng Bapak sudah sehat dan kembali kesini."ucap Pak Satpam


Satrio pun tersenyum dan terlihat sangat terharu.


Lalu Nathan menghampiri Satrio.

__ADS_1


"Selamat datang yaa bro, gue kangen banget sama lu, rasanya gue pengen nyusulin lu ke Singapura, cuma kerjaan disini nggak bisa gue tinggal. Oh yaa gue punya hadiah buat lu."ucap Nathan sambil memberikan hadiah untuk Satrio


"Thanks you bro, ah lu emang sahabat terbaik gue, pasti lu juga yaa yang nyiapin ini semua?, maaf yaa gue udah ngerepotin."tanya Satrio


"Hehe iyaa , gue dibantu sama nyokap Nadia dan yang lainnya, santai ajalah ini gak seberapa, dibandingkan rasa bahagia kita pas tahu keadaan lu membaik."ucapnya


Satrio pun langsung memeluk Nathan. Setelah itu Satrio menghampiri Ibuku dan mencium tangan nya.


"Mantu Ibu, akhirnya pulang juga, Ibu kangen banget lho sama kamu, setelah denger cerita kamu dari Nathan, Ibu makin bangga sama kamu, ternyata kamu nggak ninggalin Nadia, kamu justru selalu menjaga Nadia diam-diam."ucap Ibu yang sekarang makin bijaksana menurut ku, setelah kepergian Bapak, Ibu lebih mudah memaafkan orang, bahkan Nathan pun sudah Ibu maafkan , walaupun dia dan keluarganya sempat membuat luka pada keluarga kami.


"Iyaa Bu, Satrio juga senang bisa ketemu dan kumpul lagi dengan kalian, Satrio janji akan nikahin Nadia dan nggak pernah ninggalin Nadia lagi."ucap Satrio


"Iyaa kamu harus janji buat anak Ibu bahagia, kasian pas kamu tinggalkan, Nadia seperti kehilangan semangat hidupnya."ucap Ibu tersenyum


"Iyaa Satrio janji."ucap Satrio


"Yasudah Nak, kamu duduk dulu, pasti masih lemas kan?. Ibu tinggal ke dapur dulu, ada sesuatu buat kamu." ucap Ibu


"Makasih yaa Bu."ucap Satrio


Lalu Satrio menyapa semua karyawannya , mereka mengucapkan selamat datang dan memberikan hadiah kepada Satrio, sebagai bentuk rasa syukur bahwa bossnya sudah kembali lagi.


Lalu kamipun mengobrol bersama dengan dihidangkan makanan yang banyak , yang dibuat oleh Ibu dan Asisten rumah tangga Satrio.


"Dina dan Dini mana Nad?."tanya Satrio


"Mereka belum pulang sekolah Sat, nanti sore pulang nya."ucapku


"Oh belum pulang, aku lupa mereka kan sekolah yaa, terlalu lama dirumah sakit membuat aku jadi banyak lupanya."ucap Satrio


"Sat, gue minta maaf yaa soal kejadian tempo hari, waktu gue batal lamaran sama Nadia."ucap Nathan merasa bersalah


"Nggak bro, lu nggak salah, kan gue yang maksa lu buat jagain Nadia dan nikahin dia, dulu gue mikir umur gue nggak akan lama, jadi gue sampai maksa lu banget, maaf yaa."ucap Satrio menyesal


Sampai hari ini, Satrio belum diberi tahu tentang Ayah Nathan, jadi wajar Satrio tidak emosi sama sekali dan tidak marah dengan Nathan. Kita merahasiakan nya untuk menjaga kesehatan Satrio, khawatir Satrio sakit lagi apabila mendengar berita buruk itu. Sementara aku dan Ibu sudah memaafkan apapun yang terjadi, yang penting buat kami sekarang adalah bisa berkumpul dengan orang-orang yang kami cinta, lagi pula untuk masalah Ayah Nathan sedang diselidiki oleh Om Heru, jika terbukti bersalah akan segera diberi hukuman setimpal. Jadi kami nggak perlu marah atau dendam dengan Nathan. Mengingat kebaikan Nathan juga sudah banyak sekali, walaupun Ayahnya bersalah tapi Nathan aku yakin tidak terlibat sama sekali, apalagi dengan mendengarkan penjelasan nya yang masuk akal, bahwa selama ini dia tinggal di Bandung dan tak tahu apa-apa tentang kematian keluarga Satrio.

__ADS_1


Lalu Nathan pun meminta maaf lagi padaku.


"Nad, aku minta maaf yaa udah nggak jujur sama kamu, kalau sebenarnya aku disuruh untuk menikahi mu oleh Satrio dan aku juga minta maaf kalau lamaran waktu itu kacau, aku berharap kamu sudah benar-benar memaafkan aku."ucapnya padaku


"Ya waktu itu aku nggak tahu kalau ini rencana kamu dan Satrio, jadi waktu itu memang aku marah sama kamu, tapi setelah tahu alasannya, aku sama sekali nggak marah, pantas aja kamu waktu itu tiba-tiba ingin sekali melamar ku, ternyata karena Satrio yaa, memang Satrio tuh nyebelin dan tukang maksa."ucapku tertawa


"Emm walaupun aku tukang maksa tapi kamu suka kan?."ucap Satrio meledek


"Untung aku tahu alasan kamu sebenarnya, coba kalau aku nggak tahu sampai hari ini, pasti aku marah banget sama kamu."ucapku cemberut pada Satrio


"Sudah, sudah koq kalian malah berantem sih, yaa intinya aku sudah nggak akan ganggu Nadia lagi, kan sekarang sudah ada bodyguard nya."ucap Nathan tertawa


"Iyaa bro, thanks banget lah, gue waktu itu frustasi dan cuma mengkhawatirkan Nadia aja, makanya gue terpaksa meminta lu buat nikahin Nadia, kan gue pikir lu jomblo jadi apa salahnya, tapi gue salah ternyata cinta nggak bisa dipaksa. Ngomong-ngomong lu masih jomblo nggak nih?."tanya Satrio


"Emang parah lu, bikin gue waktu itu deg-degan dan bingung, yakali gue tiba-tiba ngelamar Nadia yang gue sama dia itu yaa gak ada perasaan apa-apa, untung lu sahabat gue, jadi gue mau-mau aja. Sekarang gue udah punya doi baru bro, dia pengunjung Kafe dan masih kuliah, nanti gue kenalin ke kalian."ucap Nathan


"Oh sukanya sekarang sama anak kuliah? , iya gue mau kenalan sama pacar baru lu, gue wajib tahu orang nya, baik apa nggak nya buat lu, biar lu nggak salah pilih."ucap Satrio


"Tau sih boleh, asal jangan terlalu deket, aku nggak suka kamu deket sama perempuan lain."ucapku tertawa


"Haha belum jadi pacar sih, masih gebetan, tapi bentar lagi juga jadi pacar gue."ucap Nathan


"Aamiin, pokok nya gue selalu dukung lu. Kalau bisa cari pacar kayak dia nih, nyebelin tapi ngangenin."ucap Satrio sambil memencet hidungku


"Ih Satrio, awas kamu yaa."ucapku kesal


Lalu Ibu datang menghampiri kami, membawa makanan disebuah nampan.


"Sudah, sudah , nih Ibu bawain makanan kesukaan Satrio."ucap Ibu


"Ih Ibu, koq Satrio yang dibikinin. Nadia kan yang anak Ibu."ucapku bercanda


"Ih kamu Nad, jangan cemburu lah sama calon suami, sebentar lagi dia akan jadi anak Ibu juga tau."ucap Ibu tertawa


Lalu kami pun menghabiskan waktu untuk melepas rindu dan bercerita banyak hal.

__ADS_1


__ADS_2