Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Nathan PDKT ?


__ADS_3

Makanan pun datang dan kami makan bersama. Seperti pernah merasakan begini, hanya orang yang duduk dihadapan ku bukan dia lagi.


Kami pun selesai makan dan mengobrol.


"Ternyata Bapak kelihatan nya sudah biasa yaa makan di rumah makan sederhana?."tanyaku tertawa


"Nad, bisa nggak sih diluar jam kerja, kamu panggil aku Nathan aja, kesannya aku kayak Bapak-Bapak banget. Ah kalau makan nasi Padang mah udah biasa, secara aku kan juga udah biasa hidup sederhana."jawabnya tertawa


"Hemm, enggak enak, masa sama Boss manggil nama aja, kesannya saya gak sopan."ucapku


"Please, kita ini diluar kerja, anggap aku temen kamu, kamu jangan beri sekat yang seolah kita ini cuma rekan kerja."ucapnya


"Ok kalau emang itu yang kamu mau, bisa apa aku?."ucapku tersenyum


Lalu tiba-tiba ada anak yang dulu pernah dibelikan Nasi Padang oleh Satrio.


"Dek, apa kabar kamu dan Ibumu?."tanyaku padanya yang sedang berada disampingku


Dia lalu menghampiri ku dan mencium tangan aku dan Nathan.


"Alhamdulillah aku dan Ibu baik, Om baik yang waktu itu mana Tan?."tanyanya penasaran


"Oh, Om Satrio lagi pergi dek."ucapku tersenyum kecut


"Hehe jangan-jangan putus yaa, Tan tapi kalau Tante ketemu Om Satrio lagi sampaikan salam aku yaa, berkat Om Satrio aku dan keluarga jadi bisa buka warung, sudah gitu Ibu juga sudah sembuh."ucapnya


"Putus? haha kamu ada-ada aja.Iyaa nanti Tante sampaikan, kamu mau beli Nasi Padang?."tanyaku


"Hehehe nggak, aku kebetulan lihat Tante, aku kira Tante sama Om itu, eh tahunya sama Laki-laki yang beda."ucapnya


"Oh begitu, yaudah Pokoknya semangat yaa, Om Satrio pasti senang lihat kamu sesenang ini."ucapku

__ADS_1


"Yaudah Tan, aku pamit dulu yaa."ucapnya sambil mencium tangan dan berlalu pergi


Aku masih menatap kepergian bocah itu, betapa dia terlihat bahagia sekarang dengan penampilan yang lebih segar.


"Nad, anak tadi siapa?."tanya Nathan


"Ehmm itu anak yang pernah ketemu aku dan Satrio disini, waktu itu Satrio bantu dia, karena Ibunya sakit."ucapku menjelaskan


"Oh begitu, Satrio memang baik banget, dari awal aku ke Bandung dan kenal dia, dia banyak bantu aku juga sampai aku bisa sukses seperti sekarang."ucap Nathan


"Oh ya , kita balik ke Kafe yuk."ajakku pada Nathan dan mengalihkan pembicaraan


"Buru-buru banget sih kamu, emang gak mau lama-lama sama aku?."ucapnya


"Bukan gitu, nggak enak kalau sampai telat ke Kafe."ucapku


"Ok, cuma Nad, nanti pulang kamu harus bareng aku yaa."ucap Nathan


"Memang nggak merepotkan kamu?". tanyaku


"Ya kalau nggak merepotkan, nggak apa-apa, aku mau."ucapku


Lalu kami kembali ke Kafe secara bersamaan.


Setelah sampai di Kafe, aku langsung bekerja kembali, sebenarnya waktu istirahat nya cukup lama, dari pukul 12.00 sampai pukul 13.00, sangat kami manfaatkan untuk makan siang, ibadah bahkan duduk-duduk santai sebentar, sebelum tamu makin banyak. Tapi disini tetap ada sistem bergantian, dimana ada yang tetap melayani pengunjung dan ada yang istirahat, setelah itu sebaliknya. Tahu sendiri jam makan siang justru banyak yang mampir ke Kafe apalagi pegawai-pegawai perusahaan.


Waktu berlalu dengan pekerjaannya yang cukup menguras tenaga.


Tibalah waktu malam dan waktu nya pulang.


Kali ini aku ikut mobil Nathan, semua karena tawarannya. Lalu aku ikut ke parkiran dan duduk di kursi depan dekat Nathan.

__ADS_1


Aku memakai seat belt dan hanya terdiam.


"Nad, koq akhir-akhir ini banyak diem sih? cerita dong, biasanya kamu yang paling antusias?."tanyanya sambil menyalakan mesin mobil


Lalu mobil pun berjalan.


"Eh masa sih ? perasaan aku , aku biasa aja deh, mungkin karena kita sibuk aja kali, jadi jarang ngobrol."ucapku


"Nggak, aku serius, waktu dirumah juga kamu kebanyakan ngurung diri dikamar aja, bahkan kalau ketemu di Kafe, kamu juga jarang ngobrol sama aku, kamu nggak marah kan soal Meli?." tanyanya


"Oh itu, yaa aku cuma butuh waktu untuk beristirahat dari pikiran-pikiran yang menyiksa, tenang aja aku nggak marah sama kamu, lagian kamu juga korban, masa aku marah kepada sesama korban."ucapku tertawa


"Oh baguslah, sebenarnya aku nggak tega sama Meli, kasihan harus dihukum seumur hidup, walau bagaimanapun dia pernah aku sayang, yaa cuma sikapnya sudah keterlaluan. Aku nggak habis pikir, aku selama ini tertipu oleh dia."ucapnya


"Iyaa bener sih, perasaan nggak tega itu wajar koq, apalagi dia adalah orang yang pernah kamu cinta, mungkin juga sekarang masihkan?."tanyaku


"Nggak, aku sudah nggak cinta sama dia, sekarang ada perempuan baik yang sudah mengisi hati ku. Perempuan ini nggak sekedar cantik tapi pintar dan bijaksana."ucapnya


"Oh syukurlah kalau kamu sudah menemukan pengganti Meli, karena kamu nggak pantas sama perempuan jahat seperti itu. Ngomong-ngomong, siapa perempuan yang lagi kamu suka? kenalin yaa ke aku?."ucapku


"Ah masa kamu nggak tahu, orang nya pasti kamu kenal banget, orang nya itu kamu Nad."ucapnya sambil mengerem mobil dan memberhentikan sejenak


"Hah? aku ? koq aku ?."tanyaku heran


"Iyaa maaf yaa Nad, aku mau jujur tentang perasaan ku, aku sebenernya mencintai mu, bahkan sebelum putus dari Meli, aku sadar setelah kamu jadian dengan Satrio, disaat itu aku merasa cemburu, sampai akhirnya aku tahu kamu hanya pura-pura pacaran dengan Satrio, disitu aku merasa lega dan yakin aku punya kesempatan bersamamu.Nadia mau nggak kamu buka hati kamu buat aku? aku janji, akan mencintai kamu setulus hati, aku janji nggak bakal kecewain kamu apalagi ninggalin kamu, mungkin ini saat yang tepat, lagi pula kita sama-sama sendiri kan?."ucapnya


Aku bingung mau jawab apa, disisi lain aku pernah menyukai nya, tapi aku sadari itu hanya sekedar rasa kagum. Disisi lain aku juga banyak berhutang Budi padanya, dimulai dari tempat tinggal bahkan pekerjaan, semua berkat kebaikan nya. Tapi aku nggak mau gitu aja berpaling dari Satrio, aku harus ketemu Satrio dulu.


"Nad, hei koq melamun? kalau belum siap jawab nggak apa-apa, aku akan tunggu koq."ucapnya


"Ehmm, iya kasih aku waktu yaa, aku sekarang belum mau berhubungan dengan laki-laki manapun, aku masih harus menata hati ku, masih ada Satrio yang nggak bisa hilang dihatiku, itu nggak bisa aku elak lagi."ucapku tersenyum

__ADS_1


"Ok gak apa-apa, yang penting kamu bahagia dan jangan sedih-sedih lagi, aku yakin kamu jodohku."ucapnya


Lalu dia menjalankan kembali mobilnya dan sebentar lagi kami sampai rumah.


__ADS_2