Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 14.3)


__ADS_3

Ai kini telah berdiri di depan pintu masuk rumah Umi. Tidak seperti biasanya, hari ini rumah Umi tertutup rapat seperti tidak ada siapapun di dalam.


Tok


Tok


Tok


Ai mengetuk pintu berusaha sesopan mungkin.


"Assalamualaikum, Um-"


Cklack


Pintu rumah dibuka dari dalam oleh seorang wanita cantik dengan senyuman anggun di wajahnya.


"Kamu akhirnya datang. Ayo, masuk." Almaira membuka pintu, mengajak Ai masuk dengan nada ceria nan ramahnya.


Terkejut, senyuman di wajah Ai perlahan meredup. Dia ternyata dibohongi oleh Tiara dan dia juga menebak bahwa tujuan Almaira ingin berbicara dengannya pasti tiada lain dan tiada bukan karena ingin membicarakan Ustad Vano.


Sekarang apa lagi?. Batinnya bertanya-tanya.


"Masuklah, aku tidak akan mengigit mu." Panggil Almaira dari dalam.


Ai tersenyum ringan, membawa kakinya masuk ke dalam dengan berat hati dan meragu. Ada saingan cintanya di sini, orang yang dipercayai menjadi tunangan Ustad Vano. Namun, ini hanyalah rumor karena ada seorang senior yang mengatakan jika Ustad Vano tidak pernah mempunyai hubungan apapun dengan Almaira.


Benar atau tidaknya, ia tidak tahu. Namun yang pasti, ia berharap jika rumor itu tidak benar.


"Kak Almaira, dimana, Umi?" Ai pura-pura bertanya, tampak bingung karena orang yang ada di depannya adalah Almaira dan bukan Umi.

__ADS_1


Almaira tertawa malu. Ia memukul ringan lengan Ai tanpa rasa canggung seperti yang Ai rasakan.


"Aku minta maaf karena telah membohongimu. Sebenarnya aku tidak bermaksud melakukannya karena ini sama saja menipumu. Akan tetapi jika aku tidak melakukannya, aku ragu kamu mau datang ke sini dan berbicara denganku." Almaira mengakui kesalahannya- tapi, Ai tidak melihat Almaira bersungguh-sungguh ketika mengatakan permintaan maafnya.


Bisakah Ai mengatakan jika gadis cantik nan cerdas ini, gadis yang disukai oleh banyak orang nyatanya tidak sebaik yang dikatakan orang-orang?


Dia bisa menciptakan sebuah kebohongan untuk menipu seseorang maka ada kemungkinan ia pernah melakukan kesalahan yang sama.


"Apa yang ingin Kak Almaira bicarakan denganku." Ai tiba-tiba berhenti tersenyum, ia menatap Almaira dengan ekspresi wajah yang sangat tenang.


"Ini hanya pembicaraan santai saja." Katanya sambil memperbaiki duduknya.


Ai diam, ia menunggu Almaira melanjutkan lagi kata-katanya.


"Kamu mengingkari janji, Aishi." Kata Almaira masih dengan senyuman lembut di wajah cantiknya.


Ai menjawab,"Janji yang mana?"


Ai tidak lupa, ia hanya berpura-pura tidak tahu saja. Sama seperti menguji air di sungai, Ai ingin tahu seberapa dalam kedalaman sungai tersebut agar ia bisa berpijak dengan benar.


Takutnya air yang tenang menyimpan arus yang deras di dalam sungai, bila salah berpijak kakinya akan tergelincir dan ia bisa basah kuyup karena terjatuh.


Ai tidak menginginkan akhir yang seperti ini.


"Aku tidak pernah menganggu hubungan kalian, aku menepati janjiku dengan menjaga jarak dari Ustad Vano." Ai langsung membantah.


"Jangan berbohong Ai, beberapa hari ini setelah Ustad Vano pulang aku mendengar dari seseorang bila kamu masih mencoba mengganggunya."


Ai sekali lagi menegaskan,"Aku menepati janjiku kepadamu, Kak. Tapi itu hanya awalnya saja karena seseorang tiba-tiba memberitahuku jika hubungan kalian hanyalah sebuah rumor. Ustad Vano tidak bertunangan dengan Kakak karena ia sudah memiliki seseorang di dalam hatinya." Dan Ai harap orang beruntung itu adalah dirinya.

__ADS_1


Dia yang telah mencintai Ustad Vano selama 13 tahun lamanya.


"Oh ya, boleh aku tahu siapa yang mengatakannya?" Senyum Almaira terlihat agak kaku dan terkesan dipaksakan.


"Kak Hana, senior yang tinggal di kamar yang sama dengan Kakak." Jawab Ai singkat.


Mendengar nama Hana disebutkan, senyuman manis di bibir Almaira sepenuhnya menghilang. Dia tidak lagi berpura-pura santai di depan Ai karena toh apa yang Ai katakan memang benar.


"Oh, ternyata dia sudah memberitahu mu." Katanya dengan nada jengkel.


"Lalu kenapa? Ini seolah kamu bisa memiliki Ustad Vano jika aku tidak bersamanya." Katanya dengan nada mencela.


Ai merapatkan mulutnya tidak ingin membalas. Saat ini Almaira terlihat sangat kesal tanpa kepura-puraan di wajah cantiknya.


"Aku sudah mendengar rumor tentang mu." Kata Almaira tiba-tiba berganti topik.


Deg


Ai kembali gelisah diingat tentang 'rumor' buruknya yang beredar di pondok pesantren.


"Sama seperti milikku, rumor buruk tentang mu memang tidak benar. Aku sudah tahu jawabannya." Almaira terus berbicara dengan kedua mata kini beralih menatap Ai. Ia tampak sangat menikmati setiap perubahan ekspresi di wajah Ai.


"Kamu memang tidak melakukan operasi transgender tapi kamu lahir ke dunia ini dengan kondisi cacat, apa aku benar, Ai?" Tanya Almaira mengejek.


Ai memejamkan matanya menahan sakit namun tetap membuka mulutnya untuk menjawab."Kesempurnaan hanya milik Allah SWT, Kak."


Almaira memutar bola matanya malas.


"Aku tahu, tapi dibandingkan dengan kami, kamu adalah produk cacat yang tidak bisa digunakan."

__ADS_1


Bersambung..


Assalamualaikum. Oh untuk Pengantin Pengganti saya gak bisa tulis dulu hehehe... karena ada bejibun tugas dan kesibukan yang harus dikerjakan. Novelnya yang di sini pun sedang dalam penghapusan dari NovelToon. Inshaa Allah, bila ada waktu luang saya akan menulisnya kembali 🍃


__ADS_2