Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 23.1


__ADS_3

وَلَا تَهِنُوْا وَ لَا تَحْزَنُوْا وَاَ نْتُمُ الْاَ عْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ


...Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman....


...(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 139)...


...🍚🍚🍚...


Pukul 4 pagi dia tiba-tiba terbangun dari tidur pulas nya. Dengan linglung dia menatap tempat di sampingnya karena tidak menemukan adanya jejak kehangatan dari suaminya.


"Mas Ali?" Panggilnya lembut.


Namun orang yang dia panggil tidak meresponnya sama sekali. Bingung, Safira akhirnya turun dari ranjang ingin mencari Ali diluar. Akan tetapi langkahnya langsung berhenti ketika melihat wajah damai Ali yang tertidur di atas sajadah.


Safira merasa damai bercampur sedih karena semalam memarahi Ali. Padahal Ali baru pulang kerja dan pasti kelelahan setelah pulang dari kantor.


"Maafin Safira ya, Mas. Padahal yang capek bukan hanya aku saja tapi Mas Ali juga capek ngurusin kami dan pekerjaan di kantor." Bisik Safira menyesal.


Bahkan suaminya tertidur di atas sajadah tanpa sempat naik ke atas ranjang mereka yang lebih nyaman.

__ADS_1


"Mas Ali.. bangun, Mas." Safira membangunkan Ali dengan gerakan yang sangat ringan.


"Kenapa, sayang?" Meskipun masih mengantuk, Ali dengan sigap bangun dari tidur pulas nya.


"Apa anak-anak bangun lagi?" Dia ingin berdiri melihat box anak-anak tapi segera dihentikan oleh Safira.


"Mereka masih tidur, Mas." Katanya seraya menarik Ali ke ranjang mereka.


"Sekarang Mas Ali lebih baik tidur di sini saja biar paginya bisa lebih baik."


Ali menolak tidur,"Ini sudah pukul 4 pagi." Katanya setelah melihat waktu di jam dinding.


"Waktu ini sangat bagus untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw, daripada tidur lebih baik aku menunggu masuknya waktu subuh saja sambil bershalawat." 10 atau 25 menit lagi azan subuh akan berkumandang jadi daripada menyambung tidur lebih baik mencari ridho Allah.


"Mas," Panggil Safira seraya memeluk suaminya.


"Hem?"


"Mas Ali..hari ini gak usah pergi kerja, yah?" Pinta Safira dengan suara kecil.

__ADS_1


Ali tersenyum, dia mengeratkan pelukan Safira sambil menghirup wangi khas istrinya yang sangat lembut. Istrinya mempunyai aroma bunga mawar yang tidak keras namun juga tidak lemah.


Ini harum dan sangat menyegarkan.


"Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan ku semalam jadi aku bisa tidak ke kantor 1 atau 2 hari untuk menemani kalian di rumah." Bisik Ali diiringi tawa kecil.


Dia pulang larut malam karena menyelesaikan semua dokumen untuk minggu ini. Semua itu dia lakukan untuk anak-anak dan istrinya. Dia ingin menyisihkan waktunya untuk menemani mereka di rumah sekaligus mengurangi beban istrinya.


Dia khawatir istrinya mengalami sindrom baby blues karena terlalu sibuk mengurus anak-anak.


"Bukan untuk menemani kami tapi untuk Mas Ali beristirahat. Safira tidak mau Mas Ali seperti Abi karena terlalu sibuk bekerja." Sakitnya melihat Abi terbaring di atas ranjang rumah sakit untuk menahan sakit dan sakitnya melihat kepergian Abi yang begitu tiba-tiba.


Safira masih belum melupakan semua kesakitan itu.


"Percayalah istriku, kalian dan pekerjaan tidak akan pernah sebanding harganya. Aku belajar dari Abi bagaimana menyikapi antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan. Sejak Abi masuk rumah sakit dulu aku berusaha untuk mengendalikan pekerjaan di kantor agar tidak menyita waktuku bersama kamu dan keluarga. Aku tidak ingin berpisah dengan kalian begitu cepat meskipun masalah ajal sudah digariskan oleh Allah SWT. Setidaknya, aku tidak ingin menyusahkan kalian semua ketika waktunya tiba-"


"Mas Ali, berhenti!" Safira memeluk kepala Ali takut.


"Jangan berbicara seperti itu lagi lain kali, Safira tidak suka!" Katanya gelisah.

__ADS_1


Dia pernah mengalami sakitnya perpisahan karena kematian, jujur ada rasa takut bila itu terjadi lagi meskipun dia tahu kematian adalah takdir yang tidak bisa dihindarkan, ditunda, ataupun dimajukan.


Itu pasti dan sudah ditentukan waktunya.


__ADS_2