
Anisa berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia sedang kesusahan membuka pintu itu karena kedua tangannya memegang teko serta gelas yang baru saja ia ambil dari dapur.
Bertepatan dengan itu, Youn keluar dari kamarnya lalu menatap heran pada wanita yang tengah berdiri membelakanginya tepat di depan pintu sebuah kamar yang berhadapan dengan kamarnya.
"hei, sedang apa kau disitu? apa kau mau mencuri?" tanya youn dengan suara keras.
"mencuri?" gumam Anisa lirih. Kemudian ia berbalik.
praaakkkk...
Anisa menjatuhkan teko dan gelas kaca yang baru saja dibawanya dari dapur tanpa sengaja. Ia terkejut sekali tiba tiba melihat seorang pria tinggi tegap berdiri di belakangnya yang hanya menggunakan celana pendek selutut mempertontonkan perut sixpack dan lengan berotot serta tiga buah tato di kedua lengan atas serta di dadanya.
Youn terperangah melihat wanita cantik berpostur tubuh mungil serta berpenampilan tertutup di depannya. Karena untuk pertama kalinya ia melihat wanita itu ada di rumah ini.
"an.....anda siapa?" tanya Anisa dengan gugup.
"kenapa anda balik bertanya, mestinya saya yang bertanya anda siapa dan sedang apa anda di situ? apa anda mau mencuri?"Youn mencecar wanita yang tengah berdiri kaku sambil berkacak pinggang.
Anisa yang mulanya kaku berubah jadi berang setelah di tuduh mau mencuri. Ia menatap tajam pada pria tersebut.
"heh, enak saja anda bilang, tampang secantik ini di bilang pencuri! mungkin anda sendiri kali yang mau merampok rumah ini karena tampang anda lebih meyakinkan seperti seorang perampok. Lihat itu tato dimana mana! karena perampok itu rata rata memiliki tato seperti anda." Anisa membalas tuduhan pria itu sambil berkacak pinggang juga.
Anisa bukan lah Norin yang memiliki sikap lembut pada siapa saja sekalipun itu pada orang yang telah menyakitinya. Anisa hanya bersikap lembut pada ibu serta suaminya di rumah saja. Tapi, di luaran kerap kali ia bersikap bar bar pada siapa saja yang menyakitinya karena Anisa tidak suka di tindas.
Youn meraba bagian lengannya yang bertato. Lalu, meraba pada dada bidangnya yang tercetak sebuah tato naga di sana.
"apa benar tampang ku ini seperti seorang perampok? wanita ini badannya saja yang kecil tapi nyalinya besar juga. Tapi.....siapa wanita garang ini?" Youn bermonolog dengan pandangan yang tak lepas dari wanita kecil di hadapannya.
"apa liat liat?" Anisa menyentak Youn dengan mata di besarkan membuat pria itu bergidik lalu masuk kembali ke dalam kamarnya.
Anisa menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya. Ia kesal sekali pada pria yang sudah membuatnya terkejut dan mengakibatkan bawaannya terjatuh berserakan di lantai. Selain itu, pria tersebut juga menuduhnya seorang pencuri.
Anisa berjongkok memunguti pecahan beling kaca yang berserakan dimana mana. Tanpa ia sadari sepasang mata memperhatikannya di balik celah kecil pintu di kamar yang berhadapan dengannya.
Wanita itu memunguti pecahan kaca dengan buru-buru dan kurang hati-hati sehingga salah satu pecahan kaca tersebut mengenai tangannya.
"aww" pekik Anisa. Darah langsung mengucur keluar dari jari jempolnya.
Anisa meringis melihat darah yang terus menerus keluar dengan deras. Youn terperangah melihat darah yang sudah berceceran di atas lantai. jiwa kemanusiaannya meronta untuk segera menolong wanita garang itu. Kemudian Youn membuka pintu kamarnya lalu keluar menghampiri wanita yang masih terlihat meringis menahan sakit.
"what happen?" tanya youn pura pura tidak tahu padahal sebenarnya dirinya sudah mengintip dari tadi.
Anisa tidak menjawab pertanyaan dari pria tersebut. Ia masih saja meringis dan menekan jempolnya agar berhenti mengeluarkan darah.
__ADS_1
Youn tidak tinggal diam, kemudian ia berlari kecil mencari pelayan rumah besar tersebut untuk meminta kotak obat.
"bi....bibi..!" teriak Youn, tergopoh gopoh menghampiri bi Surti yang tengah mengelap meja.
"iya tuan...ada apa?"
"dimana kotak obat anda simpan?"
"untuk apa tuan?"
"jangan banyak tanya saya butuh Sekarang, cepat ambilkan."
"baik tuan." sang bibi segera mengambilkan kotak obat tersebut.
Youn membawa kotak obat itu setelah menerimanya dari Bi Surti. Ia menghampiri Anisa yang masih berjongkok menahan jempolnya agar tidak mengeluarkan darah. Setelah itu, Youn ikut berjongkok di hadapan wanita itu.
"sini biar aku bantu mengobatinya," ucap Youn dengan tangan yang sudah siap untuk meraih tangan wanita itu. Namun, wanita itu malah menyembunyikan jempolnya yang terluka. Ia enggan tersentuh oleh pria asing yang sama sekali tidak di kenalnya.
Youn sedikit kesal melihat sikap wanita itu yang tidak ingin di obati olehnya.
"apa kau akan membiarkan darahmu itu keluar terus dan habis? setelah habis kau akan mati karena kehabisan darah?" ucap Youn dengan sorot mata tajam.
Mendengarkan kata mati, Anisa terperangah. Ia langsung ingat pada anaknya Al, jika ia mati bagaimana nanti nasib Al?
"Sini berikan tangan mu yang terluka itu padaku biar aku obati. Jika kau membiarkannya dengan waktu yang lama selain darahmu akan habis, luka itu akan mengalami infeksi."
Sesekali Anisa melirik pada wajah tampan yang tengah mengobati jempolnya.
"jangan takut padaku, meskipun tampang ini seperti perampok tapi aku masih memiliki jiwa kemanusiaan. lagi pula profesi ku bukan seorang perampok melainkan aku seorang dokter." Youn terus saja nyerocos seolah olah menepis ke khawatiran wanita di yang tengah di obati nya.
"hah, pria bertato ini seorang dokter? tidak meyakinkan." Anisa bermonolog.
Jempol Anisa sudah selesai di perban oleh pria yang mengaku sebagai dokter.
"jangan sampai terkena air, bisa lama keringnya lukamu itu,"celoteh youn tiba tiba.
"terima kasih!" ucap Anisa sambil menunduk.
"kau ini siapa sebenarnya?apa kau pekerja baru di rumah ini?" tanya youn.
Anisa diam saja."apa kamu tidur di kamar itu? ya sudah kembali saja ke kamarmu biar nanti aku menyuruh pelayan untuk membersihkan lantai ini."
Youn bergegas pergi mencari pelayan untuk membersihkan lantai tersebut.
__ADS_1
Anisa masih berdiri menatap punggung laki laki yang tengah berjalan.
"meskipun terlihat sangar tapi ternyata punya sisi baiknya juga orang itu." Kemudian Anisa masuk ke dalam kamarnya.
Baru saja Shin masuk ke dalam kamarnya. Lalu, ia melihat kekasihnya sedang mengemasi pakaiannya.
"kamu mau kemana sayang?" tanya Shin heran.
Norin melirik pada pria yang baru saja datang entah dari mana.
"Ngga seharusnya kita satu kamar kan tuan? kita bukan pasangan suami istri," jawab Norin sembari tangannya sibuk memasukan baju bajunya ke dalam koper.
Shin berjalan mendekati wanita itu. Lalu, ia berjongkok meraih sebelah tangannya yang sedang memegang pakaian. Shin mengerti bahwa perbuatannya tadi merupakan sebuah kesalahannya dan sudah pasti melukai perasaan wanitanya.
"sayang......maafkan aku, maafkan aku yang sudah berbuat berlebihan padamu. Aku menyesal dan aku janji tidak akan berbuat seperti itu lagi padamu. Aku janji!" Shin memohon maaf pada wanita yang sudah di perlakukan semena mena olehnya selama ini.
Kata maaf sudah sangat sering Norin dengar dari mulut pria itu. Namun, lagi dan lagi pria itu mengulangnya kembali, memeluk serta menciumnya sesuka hati.
"Apa, apa kita bisa membuat sebuah perjanjian?" tanya Norin dengan serius.
"Perjanjian....perjanjian apa maksudmu sayang?" tanya Shin dengan posisi masih berjongkok dan memegang sebelah telapak tangannya.
"Jangan pernah secuil pun menyentuh diri saya sebelum........tuan menikahi saya!"
Kejadian yang hampir saja merenggut mahkotanya membuat wanita itu berfikir bahwa ia harus bisa bersikap tegas pada pria yang menganggap dirinya sebagai kekasihnya.
Shin tersentak mendengar permintaan wanita di hadapannya. Kemudian Ia melepaskan tangan wanita itu dari genggamannya. Lalu, ia berdiri dan berjalan membelakangi wanita yang masih menunggu persetujuannya.
Norin tersenyum kecut melihat Shin menjauh dari dirinya. Ia tahu bahwa pria itu tidak pernah memiliki niat untuk menikahinya. Tak terasa cairan bening menetes ke pipinya. Lalu, ia menghapus air mata itu dengan jari lentiknya.
Norin bangkit. Lalu, ia berjalan pelan sambil menggeret kopernya mendekati pria yang tengah berdiri menatap pada pintu balkon yang terbuka.
"malam ini, saya akan tidur dengan Anisa tuan. Dan besok saya akan pulang ke rumah kecil saya."
Norin melangkah pergi meninggalkan kamar itu tanpa di hiraukan oleh pria yang sedang diam mematung.
Shin melirik pada wanita yang sedang membuka pintu lalu menutupnya kembali. Shin mengusap wajahnya dengan kasar." f u c k i n s h i t, kenapa jadi seperti ini?"
Tok tok tok
Anisa membuka pintu kamarnya nampak wanita tinggi semampai berdiri di ambang pintu dengan sebuah koper di tangannya.
"Norin.....!"
__ADS_1
"aku mau tidur di sini nemenin kamu boleh kan?" ucap Norin sambil tersenyum.
"boleh banget dong....yuk masuk!"