Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Pencarian Norin


__ADS_3

Rio menatap lekat pada amplop yang baru saja di berikan oleh Intan adiknya. Jantung nya berdebar. Rasanya Rio tidak sanggup untuk membuka amplop tersebut karena takut isi amplop itu merupakan kata kata yang tidak di inginkan olehnya.


"Kenapa cuma di liatin aja mas?" Intan yang melihat kakaknya hanya menatap luar amplop itu pun jadi gatal ingin bertanya.


"mas takut Tan, mas takut kalau isinya tidak sesuai yang mas harapkan."


"bagaimana mas bisa tau kalau ngga membuka dan membacanya terlebih dahulu?"


Rio menatap amplop itu kembali, ia jadi ragu untuk membukanya. Kemudian ia menghela nafas berat.


"Nanti saja Tan bacanya. Mas mau ke rumah Norin dulu siapa tau dia sudah ada di rumahnya."Rio bangkit lalu berjalan melewati adiknya menuju mobilnya.


Intan menatap iba pada punggung kakaknya."Kasihan kamu mas, harus jatuh cinta pada wanita yang juga di cintai oleh orang besar seperti tuan Shin. Saingan mu sungguh berat mas."


Rio melajukan mobilnya menuju rumah Norin. Setelah turun dari mobil ia berjalan ke arah pintu pagar dan mendapati pintu tersebut tergembok. Rio menatap nanar ke rumah mungil tersebut. Kamu dimana dek? apa kamu masih berada di rumah pria jahat itu?"


Bu Yayuk ke luar dari rumahnya lalu mendapati seorang pria sedang berdiri menatap ke arah rumah tetangganya, Norin.


"bukannya itu mas Rio ya?" Bu Yayuk berjalan ke arah pria tersebut.


"mas Rio!"


Rio menoleh ke belakang."Bu Yayuk, apa norin sudah kembali ke rumah ini Bu?"


"semua cowok ganteng mencari mu mba Norin."gumam Bu Yayuk dalam hati.


"emm mba norin...dia..sudah pergi mas. Tapi jangan tanya kemana ya soalnya saya juga tidak tau."


"pergi kemana Bu?"


"tuh kan, baru saja saya bilang jangan tanya pergi kemana? karena saya benar benar ngga tau. mba Norin ngga mau ngasih tau mau pergi kemana yang jelas dia bawa koper dua."


Rio terdiam."Apa Norin pulang kampung? apa sebaiknya aku susul dia ke kampung saja? ya, semoga saja dia di kampung." Rio bermonolog lalu tersenyum.


"ya udah ya Bu. kalau gitu saya permisi dulu." Rio melajukan mobilnya kembali menuju rumah adiknya.


Seperti biasa. Balkon kamarnya merupakan tempat favorit Shin untuk merenung dan minum wine. Sudah beberapa gelas wine ia teguk namun fikirannya masih saja tetap kacau. Shin benar benar merasa frustasi atas pencarian Norin. Bandara yang letaknya di ibu kota sudah ia datangi, terminal bus sudah pula bahkan ia sudah mengerahkan orang untuk mencarinya namun belum saja ada hasilnya. Shin meneguk wine kembali hingga satu botol wine habis ia minum tanpa sisa.


Angin malam mulai berhembus kencang di bukit itu. Rasa dingin menusuk pori pori tidak ia hiraukan. Shin masih saja betah berdiri sambil menatap ke sebuah kota yang terlihat kecil.


"Aku rindu padamu Rin? come back please."


Sudah tak terhitung berapa kali ia melihat layar ponselnya. Berharap salah satu orang suruhannya dapat menemukan keberadaan Norin. Namun, lagi lagi ia kecewa. Tak satupun ada yang menghubunginya. Hingga sampai tengah malam dan kedua kakinya terasa pegal, Shin kembali ke kamarnya. Shin menatap nanar pada noda darah di atas spray berwarna putih. Ia sengaja tidak ingin mengganti spray yang sudah kotor oleh darah. Darah perawan Norin.


"Kenapa perasaan ini sangat menyiksa ku? bagaimana caranya aku bisa menenangkan hati serta pikiranku ini?"


Hari menjelang pagi. Youn berjalan ke arah meja makan dan nampak bi Surti sedang mempersiapkan makanan untuk sarapan.


"Pagi bi..!"


"Pagi juga tuan Youn."

__ADS_1


Youn menggeser kursi untuk ia duduki lalu mengambil dua roti panggang.


"Apa tuan Hoon belum turun bi?" tanya Youn.


"Saya belum melihat tuan Hoon turun sejak dari semalam tuan Youn."


"Oh, begitu? Padahal sudah jam delapan. Apa dia masih tidur dan tidak mau bekerja."


"saya kurang tau tuan. saya permisi dulu tuan."


"bibi."


"ya,tuan."


"apa Norin ada bicara sesuatu pada bibi waktu seminggu lalu dia disini?"


"ti tidak tuan, nona Norin tidak bicara apapun."


"tapi, bibi yang mengantar dia pulang ke rumahnya bukan?"


"benar tuan. saya yang mengantar nona Norin pulang karena beliau meminta saya untuk mengantarnya pulang dan tuan Shin telah mengijinkannya."


"tapi, apa dia benar benar tidak memberi tau bibi kalau dia mau pergi kemana?"


"nona Norin pergi?" tanya bi Surti dengan heran.


"iya, dia pergi dan tidak ada satu orang pun yang tau dia pergi kemana? oleh karena itu jika bibi tau kemana dia pergi tolong kasih tau kami."


"ya sudah bi, terima kasih."


Bi Surti menduga jika kepergian Norin ada hubungannya dengan peristiwa seminggu lalu. Namun, Bi Surti memilih diam dan tidak mau ikut campur urusan majikannya karena ia hanya seorang pelayan.


"Oya Bi, tolong bikin kan susu segar untuk tuan Hoon biar saya yang membawanya nanti ke atas.


"baik tuan."


Youn menaiki anak tangga menuju kamar Shin. Setelah tiba di depan pintu, ia mengetuk pintu kamar berulang kali namun tidak ada sahutan dari dalam. Youn mencoba menarik gagang pintu dengan pelan.


cekleek


Pintu tersebut terbuka."ish, kenapa kau diam saja kalau tidak di kunci? buang buang waktu ku saja." Youn mengumpat kesal pada pintu tersebut, seolah olah pintu itu memiliki nyawa.


Setelah itu, Youn memasuki kamar besar itu, nampak seonggok tubuh masih terbaring di atas ranjang. Shin masih tidur dengan lelap entah jam berapa ia tidur tadi malam.Youn meletak kan nampan berisi susu serta roti yang ia bawa dari bawah di atas meja. Tak lupa ia menyelip kan secarik kertas di atas nampan. Kemudian, Youn bergegas ke luar dari kamar tersebut.


"Noriiiinn...!" Seketika Shin teriak dan membuka matanya. Ia mendapati tubuhnya penuh dengan keringat.


Kemudian, ia mengusap wajahnya dengan kasar bisa bisanya ia bermimpi wanita yang sedang ia cari di pagi hari. Setelah itu, ia bangkit dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat. Hari ini, Shin harus melakukan pencarian Norin kembali.


Setelah rapih Shin berjalan ke arah sofa lalu mendapati sebuah nampan berisi susu, roti panggang dan secarik kertas. Shin langsung membacanya.


"Kau harus makan bro, agar memiliki tenaga untuk terus mencari Norin hingga menemukannya."

__ADS_1


Shin menyunggingkan senyum. Sahabatnya ternyata sudah tidak marah lagi dan masih peduli padanya. Setelah itu, ia memakan roti panggang serta meneguk susu yang masih hangat tersebut.


"Mama berangkat kerja dulu ya sayang." Ucap Anisa sambil menciumi Al yang sedang di gendong neneknya di teras depan rumahnya.


Tin tin tin


Anisa menoleh ke belakang tampak mobil yang di kemudikan oleh Youn berhenti di depan rumahnya. Anisa mengerutkan dahinya, ia heran kenapa pria tersebut masih pagi ke rumahnya? pikir Anisa.


Youn keluar dari mobil lalu berjalan ke arah mereka sambil menyunggingkan senyum manis


"Uncle Yun....!" teriak Al senang.


"Hello jagoan, ibu serta mama Anisa." Youn berdiri tepat di depan mereka.


"Youn, ada perlu apa? kenapa pagi pagi sudah datang kemari? aku masuk kerja hari ini." Anisa bertanya sekaligus protes.


"Justru aku sengaja datang pagi karena aku mau mengantar mama Anisa berangkat kerja."


"tidak usah repot repot Youn, aku bisa naik kendaraan umum."


"tapi aku sudah terlanjur kesini bagaimana?"


"sudah Anisa, ikut saja dengan tuan. Beliau sudah jauh jauh datang eh kamu tolak."


Anisa menghela nafas. Sebenarnya ia ingin sekali menjaga jarak dari pria tersebut mengingat statusnya yang belum secara resmi bercerai. Ia takut hubungan pertemanan antara dirinya dengan Youn akan menjadi bahan gossip dari tetangganya. Anisa berjalan ke arah mobil setelah mencium Al serta Salim pada sang ibu.


"Bagaimana kabar Norin apa sudah di temukan dimana berada?" tanya Anisa membuka obrolan di saat mereka dalam perjalanan menuju pabrik.


"Belum, tapi Shin sudah mengerahkan beberapa orang untuk mencari Norin."


"Kamu dimana Rin?"gumam Anisa dalam hati dengan sorot mata nanar ke arah depan.


Shin masih saja melakukan pencarian seorang diri. Ia tidak ingin hanya mengandalkan orang orang suruhannya saja melainkan dirinya sendiri ikut turun mencari ya. Shin mendatangi setiap tempat tempat ramai, Seperti taman, mall, bahkan ia menyusuri jalanan kota.


Ketika Shin mengistirahatkan tubuh lelah nya di sebuah bangku kosong, tanpa sengaja ekor matanya melihat pada sebuah bangunan yang cukup megah di hadapannya. Shin tahu bahwa tempat tersebut merupakan tempat beribadah.


"Bukan kah Norin sering beribadah? apa dia ada di sana?"


Shin berjalan pelan ke arah masjid itu lalu berdiri menatap pada bangunan serta orang orang yang hendak beribadah di masjid tersebut. Tak selang lama, suara merdu adzan Dzuhur berkumandang di masjid tersebut. Shin terpaku mendengarnya. Ia merasa suara itu bisa menenangkan hati dan fikirannya yang sedang kacau saat ini.


Shin memejamkan matanya mendengar suara adzan yang masih berkumandang hingga suara adzan tersebut selesai.


"Aku tidak pernah merasakan tenang seperti ini, bahkan ber botol botol wine pun tidak bisa membuat hati ini tenang barang sejenak."


Masjid tersebut menyita perhatiannya. Ia melanjutkan langkahnya kembali menuju masjid yang terletak tidak terlalu jauh. Shin berdiri di ambang pintu memperhatikan deretan orang orang sedang melakukan ibadah. Lagi lagi Youn terpaku melihatnya. Tenang sekali rasanya melihat pemandangan orang orang yang sedang beribadah dengan khusuk hingga mereka selesai Shin baru tersadar.


Orang orang mulai bubar dan keluar satu persatu dari masjid melewati Shin yang berdiri di tengah pintu hingga tersisa satu orang.


"Maaf, apa tuan hendak melaksanakan sholat?" tanya seorang pria paruh baya.


Shin tersentak." Sholat? apakah yang tadi kalian lakukan itu namanya sholat?" tanya Shin dan membingungkan pria paruh baya tersebut. Namun, tak lama pria paruh baya itu mengerti bahwa pria asing di hadapannya merupakan bukan seorang muslim.

__ADS_1


__ADS_2