
"Jangan bilang kamu tidak mengenalnya selama ini?"
Aku lebih malu lagi dari sebelumnya. Tapi menurutku ini wajar saja karena penampilan Arumi telah berubah drastis!
Dia tidak lagi menggunakan kacamata tebal ataupun kerudung tebal seperti dulu. Dia jauh lebih cantik daripada sebelumnya.
Kulitnya juga terawat dengan baik dan tidak kusam seperti dulu, dia nyatanya sudah pandai merawat diri. Hah, tidak heran aku sampai tidak mengenalnya dan malah mengira jika Arumi adalah gadis yang disukai Ustad Azam.
"Dia sudah mengalami banyak perubahan jadi wajar bila aku tidak mengenalinya. Lagipula, saudara mana yang akan menjadikan foto adiknya sebagai wallpaper ponsel."
Semuanya adalah salah Ustad Azam!
Jika dia tidak menggunakan foto Arumi sebagai wallpaper ponsel maka masalah ini tidak akan menjadi serumit ini!
"Siapa bilang aku menggunakan foto Arumi sebagai wallpaper ponsel? Aku tidak pernah melakukannya!"
Jelas-jelas aku melihatnya sendiri hari itu!
"Bohong, aku telah melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri jadi Ustad tidak bisa mengelak!"
"Ya Allah, tidak, aku sungguh tidak. Ponselku selalu menggunakan foto halaman depan pondok pesantren sebagai wallpaper ponsel. Entah itu dulu ataupun hari ini, wallpaper ponsel ku tidak pernah berubah."
Bagaimana mungkin?
__ADS_1
"Tapi hari itu salah satu sepupu Ustad menunjukkan ku foto.. astagfirullah! Apakah mereka sengaja mengerjai ku?"
Ini tidak mungkin'kan?
"Aku pikir mereka sengaja melakukannya tapi untuk alasan apa, aku masih belum bisa memastikan sekarang. Kamu tenang saja, masalah Arumi akan aku segera selesaikan dengan mereka. Lalu, bagaimana hubungan kita sekarang. Semua kesalahpahaman sudah kita selesaikan jadi bukankah seharusnya kita segera memperbaikinya?"
Aku mau, tapi tidak untuk sekarang karena aku harus menghubungi Mama dan Papa untuk memastikan kebenaran masalah ini.
"Tidak untuk sekarang,"Ini bukan berarti aku menolak, sungguh.
"Aku harus menghubungi Mama dan Papa dulu untuk memastikan kebenarannya sebelum membuat keputusan. Apakah Ustad Azam tidak keberatan?" Aku bertanya hati-hati.
"Aku tidak keberatan. Kamu bisa bertanya kepada mereka dan aku juga akan bertanya kepada kedua orang tuaku mengenai masalah ini. Aku harap kamu segera menghubungi ku setelah membuat keputusan."
Akhirnya masalah ini menemui titik terang. Meskipun belum kembali seperti dulu lagi tapi aku sangat lega saat tahu Ustad Azam selama ini tidak pernah mengkhianati ku ataupun berpindah hati.
Padahal di sini ada banyak sekali gadis-gadis cantik yang jauh lebih baik daripada ku tapi Ustad Azam tidak goyah dan terus mempertahankan hubungan kami.
Ya Allah, aku sangat bahagia mendengarnya!
"Ka-kalau begitu aku akan kembali."
"Kembalilah dan tidur. Waka sholat malam memang sebentar lagi akan datang tapi ini lebih baik daripada kamu tidak bisa beristirahat penuh."
__ADS_1
Dia sangat perhatian!
Tapi mengapa baru sekarang Ustad perhatian kepadaku, huh!
"Aku akan segera beristirahat tapi bagaimana dengan Ustad sendiri, apa Ustad Azam akan terus-menerus duduk di sini sampai waktu sholat malam datang?" Aku jelas khawatir.
Dia sebaiknya segera pergi untuk beristirahat di asramanya. Apalagi dia baru saja menempuh perjalanan jauh dan sangat membutuhkan waktu luang untuk beristirahat.
"Aku akan segera pergi, kamu tidak perlu khawatir."
Aku tidak bisa tenang!
Tapi masih mendebarkannya,"Baiklah, aku akan pergi. Em, Ustad...tolong lebih banyak beristirahat agar kaki Ustad cepat sembuh. Assalamualaikum!"
Lalu aku segera melarikan diri tanpa menunggunya menjawab salam. Aku kembali berbaring, memeluk erat kain mukena ku tidak berani mengintip keluar.
Aku sungguh sangat malu dan aku juga sungguh sangat bahagia, ya Allah.
Terimakasih, terimakasih untuk petunjuk yang Engkau berikan. Jika Engkau tidak memberikan kami petunjuk, maka kami berdua akan selalu terjebak di dalam kesalahpahaman yang tidak berujung.
"Terimakasih ya Allah."
Bersambung..
__ADS_1