Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 13.15)


__ADS_3

Mega untuk yang kedua kalinya memutar bola matanya malas. Susah sekali berbicara dengan orang yang selalu mendengarkan pendapat tidak penting orang lain diluar sana.


"Ini hanyalah rumor, aku sangat yakin ini tidak benar. Jika memang ini bukan rumor lalu kenapa Ustad Vano secara terang-terangan memanggil Ai 'sayang' di depan kita?" Mega bertanya balik, membuat Ratna sepenuhnya terdiam.


Dia juga berpikir seperti itu. Bila Almaira memang telah bertunangan dengan Ustad Vano, lalu kenapa Ustad Vano dengan intim memanggil Ai 'sayang' di depan mereka tadi?


Tidak hanya itu saja, namun Ustad Vano juga tidak sungkan-sungkan menggendong Ai dan mendekapnya seperti kekasih yang takut kehilangan cintanya.


Apalagi yang harus ia pertanyakan?


Semuanya hanya rumor, tidak ada yang benar dari semua ini kecuali kejutan yang ia dapatkan hari ini.


"Lalu...apa yang harus kita lakukan?" Asri masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah yang sudah pucat pasi.


"Apakah kita akan diam saja tanpa memberitahu kedua orang tua Ai?" Katanya bimbang.


Jika kedua orang tua Ai tahu maka masalahnya akan sangat serius tapi mereka berhak tahu apa yang sedang terjadi kepada Ai di sini. Masalah ini sangat serius dan berdampak buruk untuk kondisi mental Ai.


"Jika kedua orang tua Ai tahu maka masalah ini akan sangat serius jadinya." Ratna juga merasa bimbang.


"Tapi mereka berhak tahu, apalagi kondisi Ai sudah seperti ini, apa kamu pikir mereka tidak akan marah jika kita diam saja tanpa memberitahu mereka?" Asri berbicara logis.


"Aku juga sependapat dengan kamu tapi jika masalah ini sampai ke telinga mereka, apakah pelaku yang telah menyebarkan rumor bisa diketahui begitu saja? Aku pikir ini akan sangat sulit. Di antara ribuan santri perempuan, si pelaku pasti pandai menyembunyikan dirinya." Ratna pikir membawa kedua orang tua Ai juga tidak bisa menyelesaikan masalah di sini.


Coba pikirkan saja, di sini ada ribuan santri perempuan. Di antara ribuan kepala ini, pondok pesantren akan kesulitan menemukan pelaku penyebar rumor.


"Bila kita berusaha Allah pasti akan menunjukkan jalan." Mega kemudian bangun dari duduknya, melirik Ai yang sedang tertidur ia lalu beralih menatap Ratna dan Asri.


"Tolong jaga Ai sebentar karena ada sesuatu yang harus aku urus di luar." Pesan Mega kepada Asri dan Ratna.

__ADS_1


Setelah mengucapkan salam, ia keluar dari ruang medis. Di luar ia berpapasan dengan beberapa anggota kedisiplinan asrama putri termasuk Frida, senior yang dulu suka mengganggu Ai.


Mega hanya menatap acuh tak acuh Frida sebelum pergi tanpa perlu mengatakan apa-apa. Dia awalnya tidak menyukai Frida tapi sejak insiden Ai pingsan di dalam masjid, entah mengapa Frida tidak pernah lagi mengganggu Ai.


Syukurlah, setidaknya Ai bisa melewati hari-hari di pondok dengan menyenangkan sejak saat itu.


Mega pertama-tama pergi ke asramanya. Di dalam hanya ada beberapa orang saja yang sedang mempersiapkan diri pergi ke masjid.


Mereka menyapa Mega, bertanya apakah keadaan Ai baik-baik saja. Dengan dingin Mega menjawab bahwa Ai masih belum bangun sampai dengan saat ini. Praktis ini membuat mereka menjadi merasa bersalah. Karena rumor itu Ai menjadi drop dan jatuh pingsan.


Setelah menjawab beberapa pertanyaan Mega tidak mau berlama-lama lagi. Dia membongkar lemari Ai, mencari catatan buku kecil yang biasanya Ai bawa kemana-mana.


"Aku ingat pernah melihatnya di sini." Dia menggeser lembar demi lembar untuk mencari apa yang ia butuhkan.


Sampai akhirnya di pertengahan buku, ia menemukan apa yang dia cari-cari. Ini sangat penting untuk Ai sehingga ia menggunakan banyak warna untuk menandainya.


Beberapa detik kemudian dia merapikan kembali barang-barang Ai. Menaruhnya kembali di dalam lemari, menguncinya sebelum pergi dari asrama.


"Sekarang aku hanya perlu menemui- Ustad Azam!"


Mega telah merindukannya seharian ini tapi tidak bisa bertemu karena Ustad Azam pergi entah kemana.


"Mega, kebetulan kamu ada di sini-"


"Ustad, tolongin Mega dulu!" Pinta Mega memelas.


Setelah pembicaraan malam itu Mega tidak canggung lagi berbicara dengan Ustad Azam. Meskipun tidak seperti dulu, tapi sikap Mega sudah berubah banyak dalam waktu dua hari ini. Ustad Azam sangat senang kecuali masalah surat kemarin dia masih belum mendapatkan penjelasan dari Mega.


"Kamu mau aku bantu apa?" Ustad Azam jelas penasaran dan dia juga sangat bersedia membantu.

__ADS_1


Dia baru saja pulang dari luar pondok pesantren setelah mengurus sesuatu dan tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini.


"Tolong izinin Mega minjam telpon umum. Mega ingin menelepon seseorang dan ini sangat penting." Mohon Mega amat sangat serius bercampur lucu.


Jika mereka sudah halal, ingin sekali Ustad Azam mencubit pipi Mega. Tapi sayang, mereka masih belum bisa naik ke tahap itu karena Mega masih bersekolah. Padahal Ustad Azam ingin sekali segera menghalalkannya, dan dia juga bersedia menjadi guru Mega setelah menikah nanti sehingga Mega tidak akan kekurangan ilmu saat menikah nanti.


"Kamu ingin menghubungi siapa?" Tanya Ustad Azam was-was.


Takutnya Mega menelpon seseorang yang tidak seharusnya dihubungi.


Mega rasanya ingin sekali menendang kaki Ustad Azam, padahal dia saat ini sedang terburu-buru tapi Ustad Azam masih saja mengintrogasi nya.


"Mega mau nelpon kedua orang tua Ai, Ustad. Mega mau kasih tahu mereka gimana keadaan Ai sekarang dan Mega mau minta tolong mereka agar segera membantu Ai untuk mendapatkan keadilan di sini." Kata Mega jujur.


Dulu, ia pernah menjadi pelaku yang menyebarkan rumor tentang rahasia Ai. Dan pada saat itu, Ai hanya punya Rina sebagai pendukungnya sedangkan teman-teman kelas yang lain berdiri di pihak Mega.


Ai pasti terluka saat itu tapi ia tidak pernah menangis. Ia terlihat kuat padahal nyatanya rapuh. Dan ini juga berlaku sampai hari ini.


Ai adalah Ai, dia pandai menyembunyikan lukanya. Entah itu di masa lalu ataupun hari ini, Ai tidak pernah berubah.


Jadi untuk menebus kesalahannya di hari itu, Mega memutuskan untuk membantu Ai mendapatkan keadilannya di sini. Meskipun jalannya sulit tapi Mega akan terus mencoba membantu Ai terlepas dari semua rumor buruk ini.


Dia harus menangkap pelaku dibalik rumor buruk ini dan untuk semua itu, ia membutuhkan bantuan orang tua Ai. Dengan bantuan mereka, pondok pesantren akan bekerja keras mencari pelaku dibalik rumor buruk ini dan menghukum pelaku dengan sangat berat!


"Menelpon kedua orang tua teman mu? Tapi untuk apa? Daripada menghubungi mereka lebih baik bicarakan semua masalah dengan pondok pesantren. Mereka pasti bisa membantu teman mu-"


"Tidak bisa, Ustad! Masalah ini sangat serius!" Potong Mega keras kepala.


"Ada rumor buruk yang menyebar tentang Aishi pagi ini dan karena rumor ini orang-orang mulai memandang Aishi dengan cara yang kejam! Mereka memberikan Aishi bahu dingin, mengabaikan bahkan menjaga jarak darinya! Padahal itu semua gak benar, rumor itu bohong. Dan sekarang apa Ustad tahu apa yang terjadi kepada Aishi?"

__ADS_1


__ADS_2