Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Putus


__ADS_3

Youn berdiri melihat dua orang yang tengah di tunggunya telah datang.


"akhirnya kalian datang juga. kau tau nona, teman galak mu itu mengkhawatirkan mu dari tadi siang?" Youn mengadukan kegelisahan Anisa pada temannya.


"dimana dia sekarang tuan Youn?"


"mungkin di dalam kamarnya nona."


"oh, terima kasih tuan, saya permisi." Norin beranjak pergi menuju kamar Anisa.


"kau lama sekali Hoon?sudah berbuat apa saja kau di sana dengannya?" tanya youn penasaran.


"kau mengintrogasi ku?"Shin tanya balik.


"come on, we are best friend, right? apa kau tak mau berbagi cerita denganku?"


"apa yang ingin kau tau?"


"kau berbuat apa saja di sana? kenapa lama sekali?"


"tidur....,"jawab Shin singkat.


"what, kau sudah tidur dengannya?"


"ya....!"


"wow, are you serius? bagaimana rasanya?"


"mantap," jawab Shin bohong.


Di tengah mengobrol, Norin dan Anisa datang menghampiri mereka sambil menggeret koper di tangan Norin.


"tuan Youn, anda sudah berjanji untuk mengantar kami pulang setelah menemani tuan bermain golf, sekarang kami ingin pulang tolong antar kami pulang." Norin menagih janji pada pria itu.


Youn melirik pada Shin." bagai mana bro?"


"kau antar kan saja temannya, kekasihku biar menjadi urusanku,"jawab Shin dengan pandangan yang tak lepas dari wanita yang tengah memegang koper.


"tidak, saya mau pulang bersama Anisa saja," tolak Norin.


"saya yang akan mengantar kamu pulang. saya tidak mau memberi kesempatan pada buaya ini untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan."


"ck, kau takut tersaingi olehku Hoon?"


"takut tersaingi? percaya diri sekali. Sudah sana pergi antar Anisa sampai ke rumahnya."


Anisa melirik ke arah Norin."apa kamu ngga apa apa kalau aku pulang duluan Rin?"


Norin menghela nafas berat."yaudah duluan aja Nis, maaf ya aku ngga bisa ngantar kamu."


"iya Rin, ngga apa apa aku maklum."


Sebenarnya Anisa malas sekali untuk pulang ke rumahnya apa lagi harus berjumpa dengan suaminya dan ia masih ingin bersama sahabatnya Norin. Tapi, mengingat ia bukan lagi seorang gadis melainkan seorang ibu yang memiliki satu orang anak yang sedang menunggu kepulangannya di rumah ia pun mengabaikan egonya.


"bro, kemana sopir pribadimu? tanya youn pada Shin.


"kenapa kau menanyakan sopir pribadiku? dia tidak masuk hari ini."


"yah, lantas bagaimana aku bisa mengantar nona ini jika tidak ada sopir mu?


"aku tidak akan menyuruhmu untuk mengantarkannya jika ada sopirku."


"kau tau kan bro, aku baru di negara ini dan aku tak tau jalan kota ini."

__ADS_1


"kau seperti hidup di jaman purba kala saja. jaman sudah canggih, kau gunakan saja ponsel mu itu sebagai petunjuk jalan."


"Oia, kenapa aku tak berfikiran sampai ke arah sana."


"karena pikiran mu hanya sibuk memikirkan tentang se lang ka ngan saja."


Youn mencebik kan bibirnya. Ia kesel di ledek tentang kebiasaan buruknya di depan dua wanita baik baik.


Youn dan Anisa memasuki mobil milik Shin. kemudian Youn melajukan mobil tersebut meninggalkan mansion besar milik Shin.


Shin menaiki anak tangga menuju kamarnya, di ekori Norin dari belakang.


"bukan kah tuan akan mengantar saya pulang kenapa naik ke atas?" tanya Norin sambil terus mengekor di belakang.


Shin tidak mempedulikannya, ia terus saja menaiki undakan tangga menuju kamarnya.


"tuan....tuan....tolong antar kan saya, saya ingin pulang,"teriak Norin.


Shin menghentikan langkahnya lalu berbalik."apa kamu benar benar ingin menjauhi aku hah? sana pergi....pergi sejauh mungkin dari ku, asal kamu tau aku benci dengan perasaan ini kenapa harus mencintai wanita seperti mu yang tidak pernah bisa memahami perasaan ku? wanita yang menuntut ku untuk dinikahi. Ck, apa kau tak tau bahwa aku tidak pernah memiliki ke inginan untuk menikahi mu sampai kapan pun?" bentak Shin dengan suara lantang serta sorot mata yang tajam.


Norin tersentak, air matanya luluh. Ia tidak menyangka pria yang selama ini mengejar cintanya berani membentak dan mengeluarkan kata kata yang sangat menyakitkan. Mempermainkan hidup serta perasaannya selama ini, sungguh sakit sekali rasanya.


Dengan linangan air mata Norin berjalan mendekati Shin."Mestinya dari awal saya sadar, bahwa saya ini hanya sebatas pungguk merindukan bulan. Maaf jika permintaan saya ini berlebihan dan memberatkan diri tuan. saya.....saya tidak akan pernah lagi mengharapkan apa apa dari tuan, saya janji," ucap Norin dengan bibir gemetar. Kemudian ia mencabut cincin dari jari manisnya lalu ia meraih sebelah tangan Shin dan meletakkannya di sana.


"saya kembali kan cincin ini pada tuan, saya tidak pantas memakainya. tuan bisa memberikannya pada wanita lain, wanita yang mau menjadi apa yang tuan inginkan. maaf jika selama ini saya sudah banyak merepotkan hidup tuan."


Norin menyeka air matanya dengan telapak tangannya."saya permisi!"


Norin bergegas pergi meninggalkan pria yang masih diam menatapnya datar. Norin berjalan menuju pintu utama dan sampai di teras ia menghentikan langkahnya.


"ini untuk terakhir kalinya aku ke rumah mu tuan Shin, smoga kamu mendapatkan wanita yang kamu inginkan, wanita yang mau menjadi pendamping mu tanpa terikat sebuah pernikahan seperti yang kau mau. Semoga hidupmu selalu bahagia."


Norin tertawa lirih, ia menertawakan hidupnya. hidup seperti di atas kapal yang terombang ambing di tengah lautan.


Norin menapaki jalanan panjang dengan tatapan yang kosong dan jiwa yang hampa. Hari mulai gelap tak di hiraukan nya. Ia tidak peduli jika ada binatang buas yang menerkamnya sekalipun, mungkin lebih baik dirinya tak ada di dunia ini.


Tak terasa sudah seperempat jalan telah ia lewati. Rasa lelah serta keringat membanjiri tak di pedulikan nya hingga akhirnya penglihatannya ber kunang kunang lalu gelap. Norin ambruk di tengah jalan.


ciiiiiiiiiitttttt


Sebuah mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi mengerem tepat di atas seonggok tubuh manusia yang tergeletak di tengah kegelapan malam. Mobil itu hampir saja melindasnya.


"apa tadi yang hampir aku tabrak?"orang itu penasaran lalu keluar dari mobil dan berjalan ke arah depan.


dengan bantuan sorot mobil pria itu mendekati tubuh yang tergeletak serta sebuah koper. Dari pakaian serta koper, orang itu bisa mengenali siapa pemilik tubuh yang tergeletak?


"astaga....noriinnnn!" teriak orang itu.


"apa yang terjadi denganmu Norin?" Youn langsung menggendong tubuh Norin dan memasukannya ke dalam mobil. Youn berputar arah mencari rumah sakit.


Youn berkali kali menelpon Shin. Namun, telponnya tidak di angkat angkat olehnya.


"brengsek, kemana kau bro!"


Youn menoleh ke arah belakang dimana Norin di letakan.


"apa yang terjadi denganmu Norin? kenapa kamu bisa pingsan di tengah jalan?"


Sementara Shin tengah menikmati satu botol wine di atas balkon kamarnya. Minuman yang menurutnya mampu menenangkan fikirannya itu di teguk nya hingga habis.


Pukul sebelas malam Shin baru memasuki kamarnya. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia melihat tiga puluh panggilan tak terjawab dari Youn.


"kenapa dia meneleponku sampai puluhan kali, apa sangat penting?"

__ADS_1


Shin penasaran, kemudian ia menelpon balik.


"brengsek kau brengsek kau, kemana saja kau dari tadi brengsek?" Youn memaki Shin. ia kesal sekali pada temannya itu.


"apa maksudmu marah marah padaku?"


"apa kau bilang? kau melarang ku untuk mengantarkan Norin tapi kamu sendiri telah tega menyuruhnya pulang berjalan kaki."


"a...aku..."


"diam dulu kau brengsek aku belum selesai bicara."


hening.......


"kau tau apa yang terjadi dengannya hah? tubuhnya hampir saja ku tabrak. dia pingsan tergeletak di tengah jalan. Bagaimana jika orang jahat yang menemukan tubuhnya atau binatang buas yang memangsanya brengsek?"


Shin terdiam, tubuhnya gemetar. bagaimana bisa ia melupakan wanita itu? ia sibuk dengan perasaannya sendiri tanpa memikirkan bagaimana wanita itu pulang ke rumahnya?


Shin benar benar menyesal atas apa yang sudah ia lakukan pada wanita itu. hanya satu kata untuknya saat ini yaitu "jahat."


"to..tolong beri tau aku di rumah sakit mana kau sekarang?" tanya Shin dengan bibir gemetar.


"cih, tidak perlu kau datang. biar aku saja yang mengurusnya."


Tut...Tut...tut...


"Youn....Youn...kurang ajar kau Youn!" umpat Shin kesal.


Shin tidak tinggal diam, ia langsung berjalan cepat menuju garasi mobil tanpa memperhatikan penampilannya terlebih dahulu.


Shin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mencari keberadaan Norin dan Youn di setiap rumah sakit. Tapi, karena di kota tersebut hanya ada tiga rumah sakit jadi tidak membuat Shin terlalu sulit mendapatinya.


"Youn.....!" teriak Shin sambil berjalan menghampiri pria yang tengah menunggu di kursi tunggu.


Youn menoleh pada pria yang tergopoh gopoh menghampirinya lalu berdiri. Tanpa basa basi lagi Youn melayangkan pukulannya.


Buggh


Buggh


Buggh


Youn dengan brutal memukuli perut serta wajahnya Shin hingga pelipisnya mengeluarkan darah. Shin tidak melawan, ia membiarkan saja temannya menghajarnya karena memang ia pantas mendapatkan itu.


"brengsek kau, bajingan kau. tega sekali kau hampir membuat mati kekasihmu sendiri. Se nakal nakalnya aku, tapi aku tidak setega dirimu brengsek." Youn meluapkan kekesalannya pada temannya yang dia anggap bodoh itu.


"maaf tuan, maaf ini rumah sakit apa lagi ini tengah malam, tolong jangan ribut di sini bisa mengganggu kenyamanan pasien di rumah sakit ini."Seorang suster melerai mereka.


Tak berselang lama. Seorang dokter yang menangani Norin keluar dari ruangan. dokter itu menatap pada dua pria yang tengah berdiri mengharap informasi darinya.


"siapa keluarga pasien di sini?"


"saya dokter!" ucap Shin dan youn bersamaan. kemudian mereka saling pandang.


"kalian berdua keluarga pasien ?"


"saya temannya dok!" jawab Youn.


"saya kekasihnya dok!" jawab Shin.


"okey, kalau begitu saya sampaikan pada kalian berdua saja ya. Pasien masih belum sadarkan diri tapi luka di keningnya sudah kami obati. pasien mengalami asam lambung tinggi, selain itu magh kronis dan satu lagi pasien mengalami HB yang sangat rendah dan dia harus segera mendapatkan transfusi darah. Masalahnya stok golongan darah pasien sedang kosong di rumah sakit ini."


"darah apa yang di butuh kan oleh pasien dok ?" tanya youn.

__ADS_1


" kami butuh darah O."


"ambil saja sebanyak banyaknya darah saya dok!" ucap Shin tiba tiba.


__ADS_2