
Akhirnya kami kembali ke Kafe, lalu pegawai lain melihat aku terheran-heran, mungkin karena aku bareng Pak Satrio. Dan karena aku kelihatan jelek gak pantes deket-deket Pak Satrio.
Lalu aku kembali bekerja dan Pak Satrio ke ruangan Pak Nathan. Katanya sih mereka mau main PS diruangan Pak Nathan, secara ruangannya mewah dan cukup besar, cuma setahuku Pak Nathan orang nya serius, paling Pak Satrio yang memaksa untuk menaruh PS diruangan, biar kalau dia datang dia bisa santai.
Hari sudah sore, pelanggan lumayan banyak di jam segini, biasalah banyak anak-anak muda baru pulang sekolah, maupun orang-orang yang kerja juga baru pulang.
Lalu ada 4 orang remaja yaa kira-kira SMA lah, memanggil aku untuk memesan menu.
Lalu aku menghampiri mereka.
"Iyaa Adik-adik, silakan lihat menunya." ucapku pada mereka
"Mbak kita mau pesen kopi macchiato 2 cappucino 2, sama roti bakar topping cokelat dan keju 2." ucapnya
"Maaf dek, kopi macchiato nya yang espresso macchiato atau yang latte macchiato?." tanyaku
"Oh yang latte macchiato mbak, maaf tadi lupa bilang." ucapnya
Lalu aku mengulang pesanan mereka dan segera menemui Mas Adam untuk memberikan kertas pesanan.
"Mas Adam nih ada pesanan." ucapku
"Ok Nad, tunggu yaa." ucapnya
Lalu Mbak Lala juga membuat roti bakar pesanan.
Makanan dan kopi pun selesai dibuat , aku segera mengantarkan pesanan mereka.
"Ini dek pesanannya, silakan dinikmati." ucapku
Lalu seorang diantara mereka berteriak.
"Mbak gimana sih ini di rotinya ada cabai, pedas banget ini." ucapnya lalu minum kopi
"Maaf dek, sebentar saya cek dulu." ucapku sambil melihat rotinya
__ADS_1
"Waduh kayaknya ada yang ngerjain lagi nih." batinku
"Kalau begitu kita nggak mau bayar , kita mau pulang aja." ucap mereka
"Tunggu dulu, duduk kalian, saya tahu yaa ini tuh akal-akalan kalian supaya nggak mau bayar dan dikasih ganti rugi, emang dikira saya bodoh apa, saya juga pernah waktu sekolah kayak kalian, ngambil gorengan 5 bayar 1. Jadi jangan deh kalian fitnah-fitnah saya." ucapku tegas
"Ih si Mbak udah salah ngotot yaa, kita laporkan ke polisi lho Mbak, karena telah memberikan pelayanan buruk, Kafe ini juga bisa ditutup." ucap salah seorang dari mereka
Tiba-tiba Pak Nathan dan Pak Satrio datang. Karena dipanggil oleh Mas Adam.
"Ada apa ini ramai-ramai?." tanya Pak Nathan
"Ini lho Pak, pelayan Bapak masa mau ngerjain kami, didalam rotinya ada cabai rawit, yaa kami kepedasan lah, pelayanan di sini buruk, saya nggak mau tahu Bapak pecat dia atau ganti rugi ke dia." ucap salah satu dari mereka
"Nadia , siapa yang buat Roti?." tanya Pak Nathan
"Mbak Lala Pak." ucapku
"La, sini La, cepat !" teriak Pak Nathan
"I...iya Pak, ada apa?" tanyanya
"Iya saya buat roti Pak, tapi gak pakai cabai rawit, saya bikin seperti biasa, kalau nggak percaya Mbak Nadia saksinya Pak." ucapnya
"Maaf Pak, saya juga tahu Mbak Lala nggak mungkin tega berbuat seperti itu apalagi membuat nama baik Kafe rusak, maaf saya lancang, saya mau menggeledah tas anak-anak itu." ucapku lalu menarik 4 tas mereka
"Jangan gitu dong mbak,gak sopan." ucap salah satunya
"Berisik." ucapku
Lalu ketika aku membuka tas berwarna abu-abu itu aku temukan plastik kecil berisi cabai rawit.
"Ini Pak ketemu barang buktinya, dia ternyata sengaja mau menjebak saya agar saya dipecat Bapak." ucapku
"Oh bocah masih kecil udah berbuat jahat yaa." ucap Pak Satrio
__ADS_1
"Hei kalian, minta maaf pada Mbak Nadia dan Mbak Lala, kalau tidak saya laporkan ke polisi sekarang juga." ucap Pak Nathan
"I...iyaa maaf Pak dan Mbak-mbak, kami cuma iseng aja." ucap mereka
"Iseng , aku gak percaya, cepat katakan siapa nyuruh kalian." ucapku mengancam
"Ka..kami disuruh seseorang , tapi dia menggunakan topeng, jadi kami tidak tahu dia siapa, hanya dia membayar kami masing-masing Rp 1.000.00,- , tujuan nya supaya Mbak ini dipecat." ucap salah satu dari mereka
"Sudah aku duga, yasudah aku udah maafin kalian, tapi kalian harus tetap bayar makanan dan minuman disini, setelah itu pergi. " ucapku
"Yasudah kalian sebelum pergi push up dulu 50 kali ". ucap Pak Satrio
"Hah, 50 kali pak." jawab mereka heran
"Ok melawan, tambah jadi 100 kali." ucap Pak Satrio
Lalu mereka menuruti Pak Playboy.
"Yaudah Nadia dan Lala silakan kembali kerja, untuk masalah ini biar saya dan Satrio yang mencari tahu." ucap Pak Nathan
Akhirnya masalah nya selesai, walaupun aku sadar bahwa akan lebih banyak lagi masalah yang datang kepada ku, karena ku tahu terlalu banyak orang yang tidak menyukai ku disini.
Siska memanggil ku.
"Huss Nadia , ada masalah apalagi sih?" tanyanya
"Hemm, biasa ada yang mau jebak aku biar aku dipecat, pakai drama roti isi cabai rawit." ucapku lelah
"Hemm, duh kamu yang sabar yaa, aku tahu sejak pertama kali kamu masuk sampai sekarang masalah mu makin banyak, tapi kira-kira siapa yaa orang nya, kan Bu Melisa keluar kota dan trio kwek-kwek juga lagi dihukum boss untuk bersihkan seluruh Kafe, dari kamar mandi sampai gudang." ucap Siska heran
"Ya Sis, nggak ada yang gak mungkin, paling juga orang yang sama, yang sudah benci dari awal sama aku, kan orang berduit gak mesti ada untuk hancurkan orang, banyak kan orang yang bisa disuruh, bukan aku berprasangka buruk, tapi siapa lagi orang yang benci sama aku, kalau bukan dia." ucapku mengarah ke Bu Melisa
"Iyaa sih Nad , feeling ku juga sama, apalagi mungkin ada kejadian kamu digudang sama Pak Satrio, belum lagi kamu berduaan pas makan siang dan trio kwek-kwek dihukum, bisa aja memang mereka ngadu ke Bu Melisa, yaa cuma mau gimana, dari dulu boss udah terlanjur bucin , jadinya masih akan terus percaya sama Bu Melisa, yang ada kalau kita ngomong tapi nggak punya bukti, paling kita yang dipecat."ucapnya
"Yasudahlah, kita nggak usah bahas ini dulu, aku akan cari ide untuk membongkar semuanya, yasudah yuk kita kerja lagi."ucapku
__ADS_1
Lalu kami bekerja kembali, kali ini aman tanpa gangguan hingga tiba waktu malam, aku bersiap untuk membawakan sebuah lagu, ya mesti dilarang Bu Melisa, bodo amatlah, lagian dia cuma pacar boss bukan istrinya, aku sih yakin si trio kwek-kwek akan mengadu tentang apapun yang terjadi dan nyawaku pasti akan terancam.
Tapi jangan panggil aku Nadia, jika mengurus hal seperti ini saja aku takut. Aku nggak akan pernah takut dan akan mau kalah sama nenek lampir. Suatu saat aku akan mendapatkan hati Pak Nathan dan aku yakin itu.