Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Salah sasaran


__ADS_3

Sepanjang jalan Anisa melamun. Ia tidak menyangka kenapa harus bertemu dengan suami serta istri sirinya di minimarket. Kedua matanya mulai berembun. Namun, Anisa menahannya agar tidak terjatuh. Youn melirik pada wanita yang hendak menangis.


"menangis lah, jika menangis itu dapat mengurangi beban di hatimu, apa kamu butuh bahu untuk bersandar? bahuku siap untuk menjadi sandarannya,"goda Youn.


Anisa menundukkan wajahnya, air mata yang ia tahan luluh seketika. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu menangis sesenggukan. Youn membiarkan wanita itu menangis menumpahkan isi hatinya. Ingin rasanya ia merengkuh tubuh yang tengah rapuh itu dan memberi kekuatan untuknya. Namun, ia sadar siapa dirinya? ia hanya seorang pria asing yang baru saja mengenal wanita di sampingnya. Selain itu, Anisa merupakan wanita baik baik. Youn tau tak sembarang pria yang bisa menyentuh anggota tubuhnya.


Apalah dirinya, hanya seorang Casanova yang kerap kali bergonta ganti pasangan. Jika Anisa mengetahui kelakuan buruk pria di sampingnya, mungkin saja Anisa akan merasa jijik padanya dan menjauhinya.


Mobil yang di tumpangi Youn serta Anisa sudah tiba di pekarangan luas rumah sederhana Anisa. Youn memperhatikan rumah sederhana bercat biru di hadapannya. Ini untuk pertama kalinya ia mengunjungi rumah Anisa karena kemarin malam Anisa hanya meminta Youn untuk menurunkannya di pinggir jalan.


"mama ......mama....." seorang balita gembul berlari ke arah Anisa yang baru saja turun dari mobil.


"Al....Al...jangan lari nanti terjatuh," teriak wanita paruh baya tergopoh gopoh mengejar balita yang sedang masa fase aktifnya.


Anisa tersenyum lebar lalu berjongkok dan merentangkan kedua tangannya bersiap untuk menangkap balita gembul yang sedang berlari ke arahnya.


"mamaa......!"Anisa memeluk Al, lalu menciumi wajah gembul itu.


"mama kangen sekali sama Al," ucap Anisa sambil terus menciumi wajah anaknya.


Youn tersenyum hangat melihat pelukan antara ibu dan anak. Pemandangan mengharukan ini belum pernah ia lihat sebelumnya.


"aku tidak menyangka, di balik sikap cuek dan jutek wanita ini, ternyata menanggung beban yang begitu berat di hidupnya. Di khianati suami di saat anaknya masih kecil seperti ini, kamu wanita yang kuat Anisa....!" Youn bermonolog.


"Al nanyain kamu terus dari pagi Nis," lapor sang ibu setelah ia berada di hadapan Anisa.


"iya mah, maaf ya sayang mama tinggalin Al terus," ucap Anisa lalu mencium pipi gembul anaknya.


Bu Nia menoleh pada pria asing yang tengah bersender di pintu mobil.


"Nis, itu siapa?" tanya sang ibu.


Youn yang menyadari bahwa wanita paruh baya itu menanyakan tentang dirinya lalu ia berjalan mendekati mereka dan tersenyum.


"halo ibu, saya Youn, teman Anisa," ucap Youn sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan wanita paruh baya itu. Bu Nia menyambut uluran tangan Youn.


Bu Nia yang belum mengetahui perihal menantunya Rendi, tersenyum kaku pada pria tersebut. Ia takut kehadiran pria itu menjadi bumerang untuk pernikahan anak dan menantunya. Anisa yang tau ke khawatiran ibunya langsung menjelaskan.


"mah, ini tuan Youn, temannya Norin juga. tadi di rumah sakit Norin meminta tuan ini untuk mengantar Anisa pulang katanya biar cepat sampai ke rumah."


"oh begitu, maaf tuan, saya tidak tau."


"nama saya Youn, panggil saja Youn jangan tuan."

__ADS_1


"oh, baik kalau begitu mari nak Youn masuk dulu."


"terima kasih ibu, tapi maaf sepertinya saya tidak bisa lama karena saya harus kembali ke rumah sakit lagi."


"oh, begitu."


"tapi, jika next time saya berkunjung ke rumah ibu apa boleh bu?"


Bu Nia tersenyum." tentu saja boleh, rumah kecil kami ini selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin bertamu."


"wah, senang sekali saya mendengarnya."


Youn melirik pada Anisa yang sedang menggendong balita gembul."aku pulang dulu Anisa, don't cry anymore okey?" Anisa mengangguk kecil.


"hello boy, apa uncle boleh tau siapa namamu?" tanya Youn pada balita yang tengah menatapnya.


"Al......." ucap balita itu.


Youn tersenyum gemas lalu menjewel hidungnya."cepat lah tumbuh besar jagoan, agar kamu bisa melindungi mamamu dari orang jahat okey ?"


"okcee......." jawab Al lalu tersenyum.


Youn gemas sekali melihatnya. Ia mencubit kecil pipi gembul Al lalu mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi gembul tersebut.


Anisa tersentak begitu pula dengan Youn. Lalu, Youn segera berdiri tegak sambil menggaruk tengkuknya.


"ma...maaf aku tidak sengaja." Anisa tidak marah pada Youn karena itu bukan suatu kesengajaan. Ia hanya menunduk merasa malu sekali.


"Al, kamu jahil sekali. lihat pipi mamamu berubah jadi merah merona."goda Youn sambil tersenyum.


Al, yang tidak mengerti ucapan youn mengusap usap pipi mamanya." mama napa?" tanya Al dengan intonasi yang tidak terlalu jelas.


Anisa tersenyum pada balita yang mengusap pipinya dengan lembut."ngga apa apa sayang."


Sementara Bu Nia melirik ke sana kemari ia takut suami Anisa melihat adegan tadi dan membuat menantunya salah paham.


"ya sudah kalau begitu aku pulang dulu ya? bye jagoan, see you next time. Ibu, saya pamit pulang!"


"oh ya nak Youn, terima kasih sudah mengantarkan Anisa pulang."


Youn mengangguk lalu berjalan dan menaiki mobilnya. Setelah kepergian Youn, Anisa serta ibu nya masuk ke dalam rumah sederhana mereka.


"untung aja ngga ada Rendi Nis, kalau dia lihat bisa salah paham."

__ADS_1


"biarin aja mah," balas Anisa dengan cuek.


"lho, kok biarin sih Nis?"


"mah, Anis titip Al sebentar mau ke kamar dulu."


Bu Nia menatap heran pada punggung Anisa yang sedang berjalan ke arah kamarnya.


"kok, berasa ada yang aneh sama sikap Anisa."


Anisa mengambil koper besar serta tas besar yang di simpan di sebuah lemari khusus untuk penyimpanan barang yang jarang di pakai. Anisa berjalan melewati sang ibu sambil menarik dua benda besar tersebut.


"lho, Nis. buat apa tas sama koper itu?" tanya sang ibu penasaran.


"untuk nyimpan pakaian mah."Anisa berjalan memasuki kamarnya kembali tanpa menghiraukan keheranan sang ibu.


"aku ngga mau menampung barang barang mu di rumah aku lagi Ren."


Anisa mulai mengeluarkan semua pakaian milik Rendi dan memasukan tumpukan pakaian tersebut ke dalam tas dan koper besar secara acak. biarkan saja acak acakan ia tak peduli yang penting semua pakaian bersih serta kotor itu masuk ke dalam tas serta koper.


Selama menikah tiga tahun bersama Rendi, tidak ada barang berharga yang di beli oleh pria itu. Rendi lebih sering membeli baju baru untuk dirinya sendiri dengan alasan tuntutan pekerjaan. Oleh karena itu, lemari pakaian yang memiliki tiga pintu, tujuh puluh persen di tempati oleh pakaian Rendi.


"Lho, Nis. itu kenapa pakaian suamimu di masukin koper sama tas semua?" tanya sang ibu di ambang pintu. Bu Nia terkejut mendapati anaknya sedang mengemasi pakaian suaminya.


Anisa melirik pada sang ibu yang sedang berdiri menggendong Al menatap heran padanya.


"Anis ngga mau menyimpan barang barang milik Rendi di rumah ini lagi mah."


"apa maksud kamu Nis?"


"Anis ingin cerai dari Rendi mah."


"astaghfirullah....Anis, istighfar kamu Nis, ngga boleh ngomong minta cerai dosa. Suami sebaik Rendi kenapa kamu ingin cerai dengannya?"


"mah, apa mamah ikhlas kalau anak mamah ini di poligami? Rendi nikah lagi dengan perempuan lain dan istri sirinya sekarang sedang mengandung anaknya.


Bu Nia tersentak, ia terkejut sekali mendengar pengakuan dari anak satu satunya.


"ka kamu lagi becanda kan Nis? ngga mungkin Rendi melakukan hal itu, dia pria sholeh dan rajin beribadah. Dia juga suami yang bertanggung jawab sama kalian."


"Anis ngga becanda mah, Rendi memang sudah menikah siri. Selama ini Anis buta karena rasa cinta Anis ke Rendi sampe Anis ngga tau kelakuan buruknya di belakang Anis. dia udah berselingkuh selama dua tahun dan menikahi wanita itu setelah wanita itu hamil mah."


Bu Nia memegang dadanya yang terasa sesak."astaghfirullah hal adzim...apa dosaku padamu ya Allah, kenapa kau beri cobaan seberat ini padaku... kenapa tidak hanya cukup aku saja yang kehilangan suamiku...kenapa anakku juga mengalami hal yang sama denganku...?"

__ADS_1


Anisa menghambur ke pelukan sang ibu yang berurai air mata." maafkan Anis ya mah, maafkan Anis." Anisa menangis sesenggukan di pelukan sang ibu.


__ADS_2