
Ada sebuah suara, terdengar begitu lembut nan menenangkan hati. Kesadarannya perlahan ditarik oleh suara lembut ini, menarik hatinya yang sempat mati rasa karena terlalu lelah menanggung semua rasa sakit.
Dia bertanya-tanya, haruskah ia kembali?
Bagaimana jika orang-orang disekitarnya kembali mendorongnya pergi?
Bagaimana jika perbedaan yang ia miliki membuat orang-orang menganggapnya sebagai monster?
Bagaimana.. bagaimana dan ada masih banyak bagaimana lagi.
Dia ingin terus tidur terlelap namun, suara ini tidak mengizinkannya melakukan itu. Suara ini... terdengar seperti orang yang sangat putus asa, apakah ini hanya perasaannya saja?
Suara ini seperti memanggilnya agar segera kembali, memanggilnya dengan putus asa seolah-olah pemilik suara ini akan sangat kesakitan bila ia terus seperti ini. Jadi, masih ada orang yang mencintainya?
Masih ada orang yang menerima kekurangannya, namun siapa?
Siapa pemilik suara ini?
Apakah ini Ayah? Tidak, suara Ayah tidak seperti ini dan ini juga bukan milik Bunda. Lalu, siapa?
Siapa?
Siapa pemilik suara indah ini yang terus memanggilnya dengan putus asa, siapa!
Bergetar ringan, kelopak mata Ai perlahan terangkat, berkedip mengepaskan cahaya yang masuk ke dalam bola matanya.
Ah,
"Kak Vano?" Panggilnya linglung masih belum benar-benar jernih.
Lantunan ayat-ayat suci itu segera menghilang. Ustad Vano terkejut, matanya dengan shock menatap wajah pucat Ai yang telah berjam-jam tertutup kini telah terbuka sepenuhnya.
Dia akhirnya bangun!
"Ai... Aishi Humaira, kamu akhirnya bangun." Pada akhirnya dia hanya bisa mengatakan ini karena terlalu gugup bercampur bahagia.
Kedua tangannya bergerak gelisah ingin menjangkau Ai namun suara hatinya mengingatkan dengan murah hati jika gadis cantik nan lembut ini belum halal untuknya.
__ADS_1
"Us-ustad!" Ai akhirnya jernih kembali.
Dia tidak bisa menahan keterkejutannya melihat laki-laki tampan penghuni hatinya kini sedang duduk panik di sampingnya.
Apa yang terjadi?
Ah, dia ingat kehilangan kesadaran di dalam kamar asrama dan sekarang ia sudah berada di ruang medis. Dia nyatanya sangat lemah.
"Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa ada bagian tubuh mu yang terasa tidak nyaman?" Tanya Ustad Vano khawatir.
Ai malu jadinya. Dia bahkan tidak berani menatap langsung mata Ustad Vano saking malunya.
"Tidak apa-apa, Ustad. Badanku baik-baik saja." Meskipun agak lemas tapi ini lebih nyaman dari sebelum ia pingsan.
"Sungguh?" Ustad Vano masih tidak percaya.
Ai mengangguk malu, wajah pucat nya kini mulai menghidupkan warna, merah muda adalah warna yang sangat manis, apalagi warna manis ini kini mulai mewarnai kedua pipi Ai.
"Alhamdulillah," Ustad Vano akhirnya bisa sedikit tenang.
Ia lalu membuka laci, mengeluarkan makanan yang masih hangat dan lezat, menaruhnya di atas nakas setelah menyingkirkan lilin aromaterapi bunga mawar tadi.
"Tangan Ustad Vano kenapa?" Ai memperhatikan bila salah satu jari Ustad Vano sepertinya mengalami luka bakar namun sudah ditutupi oleh pasta gigi berwarna putih pucat.
Apa... bubur ini dimasak olehnya?
Ai tiba-tiba melambungkan sebuah harapan.
"Oh, ini..." Ustad Vano segera menyembunyikan jarinya dari Ai.
"Ini hanya luka bakar ringan, tidak sakit." Katanya tidak ingin membahas masalah ini lagi. Nada bicaranya yang terburu-buru jelas menunjukkan bila Ustad Vano ingin menyembunyikan masalah ini.
"Makanlah bubur ini agar tubuh kamu mendapatkan asupan makanan. Setelah makan bubur, Papa bilang- ah, maksudku setelah makan bubur dokter bilang kamu disarankan untuk makan buah-buahan karena buah kaya akan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh." Ustad Vano salah tingkah, dia berdehem ringan untuk menenangkan kegugupannya di depan Ai.
"Terimakasih, Ustad." Ai tidak punya selera untuk makan tapi melihat perhatian Ustad Vano, dia tidak mungkin menolaknya. Di samping itu...dia sangat bahagia diberikan perhatian oleh Ustad Vano. Berada sedekat ini dengan Ustad Vano, bisa mencium wanginya yang maskulin, dan bisa berinteraksi langsung dengannya... hanya Allah yang tahu betapa bahagia hatinya saat ini.
"Sekarang bukalah mulutmu." Perintah Ustad Vano mulai mengambil setengah sendok bubur hangat.
__ADS_1
"A-apa?" Ini bukan reaksi Ai tapi ini adalah reaksi dari Mega, Asri, dan Ratna yang sedari tadi dia menonton pertunjukan manis.
Ketika tahu Ai bangun tadi mereka sangat senang, saking senangnya hampir saja mereka berteriak dan melemparkan diri untuk memeluk Ai. Tapi semua adegan itu segera gagal direalisasikan ketika melihat masih ada kulkas berjalan- oh, lebih tepatnya masih ada Ustad Vano di sini.
Ustad Vano melirik mereka singkat. Dia tahu ini salah, padahal masih ada teman Ai di sini jadi kenapa tidak serahkan urusan suap-menyuapi Ai kepada mereka? Jawabannya jelas karena Ustad Vano ingin melakukannya sendiri.
Dia hanya Ingin melindungi kekasihnya, itu saja.
"Buka mulutmu." Ustad Vano mengulangi lagi perintahnya.
"Ah, i-iya." Ah, wajahnya rasanya sangat panas sekarang!
Dia sangat malu ditatap oleh teman-temannya! Tapi...tapi sebenarnya dia juga senang disuapi oleh Ustad Vano.
Ini salah, tapi mereka tidak saling menatap juga tidak saling menyentuh jadi... bisakah Ai mengatakan jika ini tidak salah?
Ai dengan canggung- tepatnya sangat malu mulai membuka mulutnya, merasakan bubur lembut hangat nan lezat mulai menyentuh ujung lidahnya.
"Bagaimana rasanya?" Ustad Vano bertanya gugup.
Ai meresapinya dengan hati-hati,"Ini sangat enak, Ustad."
Rasanya benar-benar enak, Ai sungguh tidak berbohong.
"Benarkah?" Ustad Vano tidak bisa menahan senyumnya.
"Benar, Ustad." Ai meyakinkan.
"Aku akan mencobanya juga." Ustad Vano membawa sendok yang Ai gunakan tadi ke dalam mulutnya-
"Astagfirullah!" Mega, Asri, dan Ratna kompak berteriak di belakang.
Bersambung...
Hallo, assalamualaikum. Saya ingin sedikit berbicara di sini mengenai novel My Boss, My (Ex) Boyfriend, berhubung pembacanya juga ada di sini. Bab-bab awal pertemuan Rein dan Davin emang sedikit menjengkelkan karena biar bagaimanapun mereka baru berteman setelah bertahun-tahun pisah, tentunya karena sebuah pengkhianatan. But, ini hanya bab-bab awal aja karena gak selamanya mereka akan saling membenci'kan?
Saya juga gak mungkin nulis awal pertemuan mereka langsung kangen-kangenan, itu gak mungkin banget secara mereka berpisah karena alasannya yang cukup buruk.
__ADS_1
Jadi, sabar aja dulu sama setiap bab yang menjengkelkan. Kalau kalian gak tahan, gak apa-apa gak usah dibaca. Kalau aja saya gak nulis di aplikasi ijo, mungkin saya akan update banyak karena dengan begitu alur gak akan terasa lama. Tapi sayang banget, saya harus memikirkan mereka yang baca pakek koin sehingga saya update di sini cuma satu bab di bagi dua.
But, yah.. terimakasih sudah mau membaca karya saya selanjutnya. Saya senang dengan apresiasi kalian.