
Asri tertegun. Ia tidak bisa menyentuh tangan Rodi karena mereka belum halal. Di samping itu ia juga takut, ia sangat takut setelah melihat penampilan calon suaminya yang dipenuhi oleh garis-garis tato.
Memejamkan matanya menahan isak tangis. Dia berusaha tetap tenang dan terlihat tegar sekalipun hatinya sudah gentar sejak melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
Hanya Allah yang tahu betapa ia ingin sekali membawa langkah kakinya menjauh dari tempat ini, menjauh sejauh mungkin dan bersembunyi di suatu tempat untuk berlindung.
Tapi ini hanyalah angan-angannya saja karena sudah tidak punya jalan keluar.
"Ibu, kami masih belum halal untuk saling menyentuh." Asri menolak menyentuh tangan Rodi.
Selain karena takut ini juga murni karena mereka belum halal untuk saling menyentuh.
Ibu langsung menjadi canggung. Dia menatap Rodi dengan tatapan permintaan maaf dan penyesalan. Tapi Rodi adalah laki-laki yang tidak suka ditolak. Tanpa mendengarkan penolakan Asri, ia langsung menarik tangan Asri dengan paksa dan mengabaikan ekspresi terkejut Asri yang sangat ketakutan setelah ia sentuh tiba-tiba.
Badan Asri sontak menjadi kaku, dan telapak tangan yang Rodi pegang mulai bergetar ketakutan. Kedua kakinya terasa dingin dan lemas tidak mau digerakkan.
"Jangan terlalu sok alim. Aku tidak suka dengan wanita yang terlalu sok berakhlak, membawa-bawa agama untuk masalah sesepele ini." Ujar Rodi sambil menyeret Asri masuk ke dalam halaman rumahnya.
"Dan juga perkara halal tidak halal itu urusan belakang karena kita juga akan segera menikah." Kata Rodi masam.
Ketika ia tahu calon istrinya adalah Asri, ia sangat senang mendengarnya. Apalagi Asri memiliki wajah yang cantik untuk ukuran seorang anak desa yang jauh dari perawatan, di samping itu ia yakin bila Asri juga masih perawan mengigat tidak pernah satupun laki-laki yang dekat dengannya.
__ADS_1
Ini adalah sebuah kabar baik dan Rodi tidak sabar menantikannya sehingga pernikahan dilakukan menjadi dua hari setelah Asri kembali dari pondok pesantren.
Dia puas tapi juga tidak puas pada saat yang bersamaan karena Asri terlalu sok alim. Ia tidak suka membawa-bawa masalah agama di sini, apalagi untuk urusan yang sangat sepele seperti menyentuh tangan.
"Tolong lepaskan aku." Asri tidak mau membalas genggaman tangan Rodi.
Ia berusaha menariknya tidak ingin disentuh. Bahkan sudah ada cairan hangat yang mengepul di dalam pelupuk matanya. Ia akan menangis tapi masih mencoba menahan semuanya.
"Diam lah." Rodi tidak mau mendengarkan.
Dibawah banyak pasang mata yang mengawasi Rodi membawa Asri duduk di depan penghulu dan Bapak. Dia dengan sombongnya duduk di samping Asri yang kini telah tertunduk menahan malu juga sakit.
"Putrimu lulusan pondok tapi kekurangan akhlak." Sindir Bu Romlah dengan sebuah kipas berwarna yang ada di tangannya.
Bapak merasa malu. Dia tidak berani menatap saudagar Romlah karena ia sangat tahu orang seperti apa putrinya. Dia adalah gadis penurut, baik, dan ceria. Putrinya tidak pernah kekurangan akhlak, daripada putrinya, orang yang lebih pantas disebut kekurangan akhlak adalah putra saudagar Romlah sendiri.
Hah,
Melihat calon menantunya ini rasa penyesalan dihati Bapak kian menumpuk saja. Dia sedih untuk masa depan putrinya kelak.
"Pak Kyai, apa aku boleh berbicara dengan putriku sebentar?" Bapak meminta waktu.
__ADS_1
Bu Romlah menjadi kesal,"Jangan membuang-buang waktu putraku."
Tapi Bapak tidak menggubrisnya. Mata tuanya tampak memohon Pak Kyai yang bertugas sebagai penghulu agar memberikannya izin.
"Silakan Pak, anggap saja ini nasihat terakhir untuk putri Bapak sebelum berpindah di pimpin oleh Mas Rodi." Pak Kyai memberikan izin.
Bapak sangat bersyukur. Ia mengangguk ringan sebelum membantu putrinya bangun dan berjalan ke tempat yang agak jauh dari mereka semua. Meskipun semua mata sedang menatap mereka tapi Bapak tidak perduli karena saat ini ia hanya memikirkan masa depan putrinya saja.
"Nak, pergilah ke suatu tempat untuk melarikan diri." Kata Bapak tiba-tiba membuat Asri terkejut.
"Apa maksud, Bapak?" Asri mengerti tapi masih belum bisa mencernanya.
Wajah tua Bapak tersenyum lembut,"Larilah, Nak, dan jangan pernah kembali ke desa lagi. Pergi ke tempat yang jauh dan jangan pernah kembali ke desa lagi." Kata Bapak menegaskan.
"Bapak..hiks.." Air mata Asri akhirnya tumpah.
Ia memegang tangan Bapak erat, menggelengkan kepalanya menolak dengan air mata berurai.
"Pergilah, Nak. Kamu tidak akan pernah menemukan kebahagiaan di sini." Kata Bapak sambil memegang erat tangan putrinya.
"Asri tidak mau, Pak..hiks.. Asri tidak mau Bapak dan Ibu masuk penjara." Asri menolak dengan keras kepala.
__ADS_1
Ya Allah, sungguh sakit rasanya. Bisik Asri di dalam hati ketika melihat wajah tua Bapak yang berusaha tetap tersenyum meskipun sudah ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Bapak pasti sama sakitnya dengan dirinya.