Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 25.9


__ADS_3

Saat ini kedua tangannya dengan kuat meremat kain gamisnya untuk melampiaskan betapa gugupnya dia sekarang. Saat ini tidak seperti malam-malam biasanya yang mereka lalui dengan hangat dan manis, malam ini justru sarat akan suasana canggung dan gugup seperti malam pertama pernikahan mereka.


"Karena itulah aku mengatakan di dalam sebuah pernikahan cemburu memang dibutuhkan." Ucap Ali dengan suara parau.


Mereka memang saling menatap namun rasa canggung dan kerinduan tidak bisa dibohongi.


"Aku bilang cemburu itu wajar karena itu adalah sebuah bukti bahwa aku ini penting di dalam hatimu. Namun, aku juga pernah bilang bahwa kamu harus mempercayai dirimu sendiri sebelum mempercayai orang lain. Seperti malam ini, kamu meragukan dirimu sendiri di saat aku memilihmu karena Allah menyatukan kita pantas untuk satu sama lain." Kata Ali menusuk tepat ke dalam jantung Safira.

__ADS_1


Itu benar, karena cemburu tanpa sadar dia meragukan kualitasnya sendiri. Padahal Ali lebih memilihnya dari wanita lain adalah sebuah bukti terkuat bahwa dia memang pantas bersanding dengannya.


"Tahukah kamu, istriku?" Ali perlahan berjalan mendekati Safira yang diam-diam mulai menangis di sana.


"Aku sudah mencintai kamu sejak 11 tahun yang lalu." Kata-kata ini membuat dada Safira lebih sesak.


Ketika diucapkan Bunda efeknya memang menyesakkan namun tiada yang lebih menyakitkan ketika itu keluar dari bibir Ali langsung.

__ADS_1


Meraih tangan bergetar istrinya yang berusaha sekuat tenaga menahan isak tangis. Ali menjadi tidak berdaya, dia mengusap wajah istrinya dengan tangan yang bebas. Mengusapnya lembut dengan kasih sayang yang hati-hati.


"Itu sangat menyakitkan. Aku merasa bodoh dan konyol karena untuk pertama kalinya menangis karena cinta. Aku menangis karena melihat kamu menangis untuk laki-laki lain sedangkan aku yang diam-diam mencintaimu tidak pernah masuk ke dalam pandangan mu."


"Mas Ali, cukup.." Bisik Safira tidak kuat lagi.


Namun Ali tidak berpikir untuk berhenti. Untuk membuat Safira sepenuhnya percaya kepadanya dia harus mengulang kembali tahun-tahun sulit itu. Tahun-tahun dimana dia kadang diam-diam bersembunyi di suatu tempat untuk melepaskan rasa sakitnya karena wanita yang dia kagumi nyatanya di dekati oleh banyak laki-laki luar biasa.

__ADS_1


"Dan aku semakin terpukul ketika memikirkan alasan mu tidak datang lagi ke pondok pesantren adalah karena kamu masih belum bisa melupakan Ustad Aldo. Setiap hari aku dibayangi oleh rasa sakit dan gelisah sampai akhirnya aku bisa melapangkan dada ku. Menyerahkan sepenuhnya urusan hati kepada Allah SWT."


"Tidak, Mas..itu tidak benar." Safira segera membantah.


__ADS_2