
Lalu kami mengantarkan mereka ke depan pintu rumah.
Akhirnya mereka pulang, sebenarnya nggak enak sama Pak Nathan, tapi ini semua demi kebaikan Satrio, kasihan dia kalau terus dihantui Nenek lampir.
Lalu Satrio menarik tanganku dan menyuruh ku duduk di sofa.
Dia mengambilkan obat merah untuk tanganku yang tadi terkena meja.
"Nggak usah Sat, ini mah luka kecil koq, aku nggak apa-apa, maaf yaa sudah bikin kamu terbangun."ucapku
Dia pun berjongkok didepan ku tanpa mengucapkan apapun, hanya fokus mengobati lukaku. Lalu selesai dan dia duduk disampingku.
Dia menatapku dalam. Dan menggenggam tangan ku erat.
"Nadia, dengerin aku, lain kali hati-hati yaa, kamu harus bisa jaga diri kamu, Melisa bukan perempuan biasa, dia licik dan jahat, aku takut kamu kenapa-kenapa."ucapnya lembut
"Iyaa aku minta maaf, habis aku emosi, iyaa lain kali aku jaga diri lagi, jangan marah yaa."ucapku deg-degan, kayaknya makin lama aku makin gila nih, bisa-bisa nya canggung gini.
"Ok bagus, pokoknya kamu harus nurut apa kata aku, ngomong-ngomong sekarang kamu makin suka ya sama aku, sampai diam-diam mencium aku waktu tidur dan memeluk aku tadi, emang sih gak bisa dipungkiri bahwa pesona Satrio sangat lah tinggi."ucapnya mulai seperti Satrio yang biasa, over percaya diri
Lalu aku melepaskan genggaman tangannya dan malu, ketahuan deh.
"Oh yang tadi waktu kamu tidur, kamu nggak tidur yaa? ih koq jahat sih pura-pura, aku kan nggak sengaja Sat, terus kalau tadi pas ada Meli itu kan cuma sandiwara."ucapku gemetar
"Ok kamu boleh bohong, tapi hatimu nggak, percaya sama aku, cinta bisa datang kapanpun, karena terbiasa, camkan kata-kata ku."ucapnya tersenyum
Lalu Bibi datang dari kamarnya.
"Lho Tuan muda udah bangun? mana Pak Nathan dan Bu Melisa? bukannya tadi mau lihat keadaan Tuan?."tanyanya heran
"Udah pulang Bi, tadi pas Bibi masuk kamar dan gosok pakaian."ucapku
"Koq buru-buru banget, itu tehnya belum diminum? Tuan muda mending istirahat lagi, Bibi khawatir banget sama kesehatan Tuan."ucapnya
"Yaa Nathan sama Meli ada urusan penting Bi, saya bosen tiduran, kan Bibi tahu saya lebih suka kerja dari pada lama-lama dikamar."ucap Satrio
"Lho berarti obat nya nggak bikin ngantuk dong."ucap Bibi
"Ngantuk sih ngantuk Bi, tapi saya masih mau mesra-mesraan sama Nadia."ucapnya memegang tangan kanan ku
"Udah buruan nikah Tuan, Bibi kan nggak tahu sampai kapan akan nemenin Tuan, umur Bibi aja udah nggak muda lagi, jadi Bibi percaya kalau Non Nadia yang pantas jadi istri Tuan."ucap Bibi tertawa
"Haha Bibi bisa aja, maunya sih cepat-cepat, tapi Nadia nya nggak siap kayaknya Bi."ucap Satrio
__ADS_1
"Emang Non nyari apa lagi sih, Tuan muda udah ganteng, baik, setia dan mapan lagi, kalau Bibi muda mau udah buat Bibi."ucap Bibi tertawa
"Ah Bibi jangan ngomongin nikah dulu ah, aku masih mikir-mikir dulu, kan belum lama kenal."ucapku mengalihkan pembicaraan
Lalu kami ngobrol santai sampai malam menjelang.
Aku pun membantu Bibi membuatkan makanan untuk makan malam, aku membuat bubur ayam untuk Satrio, karena dia belum pulih. Tapi untuk aku , Bibi dan mang Ujang aku membuatkan Sup daging dan udang balado kesukaan aku.
"Bi, Pak Heru sama Pak supir koq belum pulang yaa? emang biasa pulang jam berapa? ucapku sambil menata makanan
"Biasanya jam 10 an Non, kan suka lembur gitu, apalagi kalau Tuan muda nggak masuk gini, udah pasti pulang nya lama."ucap Bibi menata piring dan gelas
"Oh pantes udah jam 7 belum pulang , mang Ujang belum pulang kerumah nya kan? ajak makan aja disini Bi."ucapku
"Belum Non, kita biasa pulang jam 9, tapi kalau Bibi hari ini mau nemenin Non aja, biar Non nginep gak takut."ucap Bibi
"Makasih yaa Bi, aku nanti emang pengen tidur sama Bibi."ucapku
Lalu Satrio datang dari kamarnya.
"Hemmm, wangi masakan apa ini? sampai-sampai masuk ke kamar ku?"tanyanya
"Ini Tuan muda, Non Nadia masak lagi buat kita, emang jago banget deh dia."ucap Bibi memujiku
"Makasih, lho koq kalian makan enak? aku makan bubur, aku juga mau makan sup daging buatan kamu Nad."ucapnya
"Yaudah boleh, asalkan kamu mau makan yang banyak biar gak sakit."ucapku
"Ehemmm, Tuan dan Non, saya panggil Mang Ujang dulu yaa biar makan bareng-bareng disini."ucap Bibi
"Iya Sat, mereka makan bareng kita yaa."ucapku memohon
"Oh iya boleh , panggil aja Bi."ucap Satrio
Lalu Bibi meninggalkan kami.
"Suapin aku lagi dong sayang."ucap Satrio seperti anak kecil
"Ih manja banget sih, makan sendiri ajalah."ucapku sambil menyendok nasi
"Oh gitu, yaudah aku nggak mau makan."ucap nya mengancam
"Yaudah, yaudah, iya aku suapin, tapi janji makan yang banyak."ucapku
__ADS_1
Lalu aku mulai menyuapi Satrio dengan nasi dan sup daging sesuai permintaan nya.
Bibi dan Mang Ujang hanya tersenyum ketika masuk rumah dan melihat kami yang seperti sepasang kekasih ini.
Lalu setelah Satrio makan , dia pun langsung aku berikan obat dan tidur.
Lalu aku ikut makan bersama Bibi dan Mang Ujang.
Malam harinya aku izin tidur dengan Bi Nini dikamar tamu dan Bi Nini dengan senang hati mau. Kami pun bercerita banyak dari mulai kisah Satrio kecil sampai dewasa bahkan kisahku yang dijodohkan dikampung dengan laki-laki tua, kami tertawa bersama sebelum tidur.
Lalu lampu kami matikan.
Tiba-tiba disaat kami sudah mulai terlelap, kaca jendela seperti ada yang terbuka dan ada suara kaca pecah, aku dan Bibi kaget, aku menyalakan lampu dan Bibi mengecek jendela.
Tiba-tiba Bibi berteriak kesakitan.
"Aw, ada ular Non, gigit Bibi, Non hati-hati."ucap Bibi panik lalu Bibi tak bersuara
Ternyata benar ada ular kobra yang cukup besar telah mematuk kaki Bibi, sepertinya datang dari jendela.Ular itu pun terus bergerak ke arah ku.
Aku lari mencari bantuan dan menutup pintu kamar sedikit, agar ular itu tidak mengejar.
Aku berteriak.
"Tolong, tolong Sat, ada ular."teriakku ke kamar Satrio
Lalu dia membuka pintu dan menghampiri ku.
"Ada apa Nad?."tanya nya
"Ada ular dikamar tamu dan Bibi Nini dipatuk sekarang pingsan."ucapku lemas
Lalu Om Heru juga keluar dari kamar, mereka segera ke kamar tamu dan benar menemukan ular kobra itu dikolong tempat tidur, lalu mereka tangkap dan masukkan ke dalam karung, mereka meminta bantuan orang-orang yang sedang ronda.
Aku memeluk Satrio ketakutan.
"Sat, gimana keadaan Bi Nini?."tanyaku
Lalu Om Heru memegang tangan Bi Nini, untuk mengecek nadinya.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, Bibi Nini sudah meninggal."ucap Om Heru
Kami pun menangis dan tak bisa berkata apa-apa, terutama Satrio menangis sangat kencang, karena baginya Bi Nini bukan sekedar ART namun Ibu untuk nya.
__ADS_1