Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 7.1)


__ADS_3

...Janganlah engkau menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak membutuhkannya. Dan yang membencimu tidak akan mempercayainya....


...Ali bin Abi Thalib...


...🍁🍁🍁...


"Waalaikumussalam, Ustad." Ai, Mega, dan Asri kompak menundukkan kepala.


Mereka tidak berani membuat gerakan yang bisa menarik perhatian. Untuk saat-saat ini mereka ingin mencari aman.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Bukankah seharusnya kalian tinggal di asrama untuk mengulas pelajaran sementara teman-teman kalian di sekolah?" Ustad Vano jelas dalam suasana hati yang buruk.


Mereka yang sudah mengenal Ustad Vano bisa merasakannya dan ini jarang terjadi, tapi untuk alasan apa dia seperti ini mereka juga tidak terlalu tahu. Pasalnya Ustad Vano adalah orang yang ketat dan dingin kepada siapapun. Baru beberapa hari ini mereka menemukan jika Ustad Vano suka tersenyum sampai akhirnya dia menjadi imam sholat saat sholat Zuhur kemarin dan membaca salah satu ayat yang romantis.


Mereka menduga jika Ustad Vano sedang jatuh cinta. Namun, suasana hatinya tiba-tiba memburuk sekarang. Padahal tadi pagi dia masih baik-baik saja.


Mega dan Asri kompak menutup mulut tanpa merasa bersalah. Mereka berdua menyerahkan urusan kulkas berjalan ini kepada Ai.


Ai menggigit bibirnya tidak nyaman, dia menundukkan kepalanya semakin dalam dan mau tidak mau menjawab pertanyaan Ustad Vano.


"Maaf Ustad, kami bertiga baru saja keluar dari kantor staf asrama putri dan singgah di sini untuk berteduh sebentar."


Ustad Vano mengernyit, entah mereka sadari atau tidak tapi sinar matanya jauh lebih ringan dari sebelumnya.


"Untuk apa kamu ke kantor staf asrama putri? Apa kamu punya urusan yang tidak bisa diselesaikan?" Nadanya bahkan tidak sedingin tadi.


Ai meremat kedua tangannya gugup,"Kami..tidak punya urusan yang serius atau mendesak. Ini hanya..kami merindukan kedua orang tua kami dan ingin meminta izin untuk menghubunginya. Tapi Ustazah Nur bilang bahwa kami tidak bisa karena semuanya sudah diatur oleh pondok pesantren. Kami hanya bisa menghubungi mereka setiap hari minggu." Jawab Ai menjelaskan.


Ustad Vano melihat kegugupannya dan dia tahu jika Ai saat ini tidak nyaman. Jadi, perlahan dia mulai menarik nada dinginnya sedikit demi sedikit.


"Lalu, apa kamu sekarang menyalahkan Ustazah Nur?" Ustad Vano menguji.

__ADS_1


Ai dengan cepat menggelengkan kepalanya membantah.


"Demi Allah, Ustad. Aku tidak pernah menyalahkan Ustazah Nur untuk masalah ini. Hal ini adalah murni kesalahan kami karena tidak melihat pengumuman. Jika kami tidak lalai maka kami tidak akan datang meminta keringanan kepada Ustazah Nur." Jawab Ai berusaha rendah hati dan terdengar tulus.


Dia tidak berbohong dan dia tidak berani berbohong apalagi sampai menyangkut orang lain. Dia hanya berani berbohong untuk urusan pribadinya yang rahasia.


Ustad Vano terlihat puas dengan jawaban Ai. Dia lalu membawa tangannya ke belakang tampak agak santai.


"Bagus, lain kali kamu harus mencari tahu tentang pondok pesantren ini karena kamu tidak di sini selama satu atau dua bulan memainkan 3 sampai 4 tahun ke depan. Ngomong-ngomong, sebentar lagi kalian para santri baru akan melewati kehidupan tertutup sesuai dengan budaya pondok pesantren kita. Jadi aku dan yang lain harap kalian bisa melewatinya dengan tekun."


Kehidupan tertutup?


Ai, Mega, bahkan Asri yang tukang gosip tidak pernah mendengarnya. Jika Ustad Vano tidak mengatakannya maka mereka bertiga tidak akan tahu. Hany saja meskipun sudah mendengar mereka tidak tahu apa itu kehidupan tertutup karena mereka sebelumnya tidak tahu tentang ini.


"Kehidupan tertutup akan kalian jalani mulai dari minggu kedua yang akan datang. Kalian akan di isolasi selama 1 tahun dari semua orang." Ustad Azam menjelaskan secara singkat dan berhasil membuat mereka bertiga tercengang.


Isolasi selama 1 tahun?


Ai, Mega, dan Asri sontak saling pandang tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. Hal ini sontak menarik perhatian santri laki-laki di belakang Ustad Vano dan Ustad Azam. Mereka menutup mulut mereka menahan tawa karena menganggap reaksi ketiga santriwati ini agak lucu. Tapi sayang, kebahagiaan mereka semua tidak bertahan lama karena mata tajam nan dingin Ustad Vano dan Ustad Azam segera memadamkannya.


"Kalian harus memanfaatkan waktu ini untuk melakukan persiapan. Jika ada yang membuat kalian bingung para Ustazah akan membimbing kalian dan menuntaskan semua kebingungan kalian. Sampai hari itu tiba kalian terpaksa harus bersabar." Sambung Ustad Azam tidak berniat menjelaskan lebih lanjut.


Dia cukup puas melihat mereka bertiga terkejut, apalagi ekspresi kosong dan kebingungan Mega ketika mendengarnya. Diam-diam dia mengulum senyumnya.


"Sekarang kalian bisa kembali ke asrama. Gunakan waktu-waktu ini untuk memikirkan dan mempersiapkan kehidupan tertutup. Ini lebih baik daripada kalian memikirkan tentang nikah muda." Sindir Ustad Vano lagi-lagi membuat mereka bertiga terkejut.


Wajah mereka bertiga yang semula pucat karena dilanda kebingungan dan keterkejutan kini berubah merah. Mereka bertiga sangat malu karena pembicaraan sembrono itu juga di dengar oleh orang-orang yang ingin mereka hindari.


"Kami.." Ai tidak tahu harus mengatakan apa. Dia ingin menjelaskan bahwa itu hanyalah ide acak Asri saja tapi dia mengurungkan niatnya karena jika dipikir-pikir untuk apa dia menjelaskannya?


Jika dia menjelaskan mereka juga belum tentu percaya. Juga.. seolah-olah ada seseorang yang ingin mendengarkan klarifikasinya, hem!

__ADS_1


Bukankah itu memalukan?


"Ekhem.." Ustad Azam berdehem, memberikan kode kepada Ustad Vano agar mereka segera pergi.


Karena tidak nyaman rasanya berkumpul dengan lawan jenis di sini, apalagi sengaja ingin berlama-lama.


"Baiklah, kalian tidak perlu menjelaskannya. Sekarang pulanglah ke asrama dan singkirkan dulu mengenai pemikiran kalian untuk nikah muda." Ustad Azam ingin membiarkan mereka pergi tapi tidak lupa untuk menyindir.


Dia menekankan bahwa mereka tidak diizinkan lagi memikirkan ide gila itu.


Ai, Mega, dan Asri dengan kaku menganggukkan kepala. Setelah itu mereka mengucapkan salam dengan sopan sebelum pergi.


Mereka bertiga dari awal sampai akhir tidak pernah mengangkat kepala untuk mengintip. Membuat beberapa orang menjadi gelisah merasa ada sesuatu yang berbeda dari mereka bertiga.


Apa dia ingin menjauhiku?. Batin Ustad Vano jelas tidak puas.


Suasana hatinya yang tadi membaik kembali memburuk. Dia memang tidak mengatakan apa-apa tapi orang-orang di sekelilingnya jelas bisa merasakannya.


Sementara itu di sampingnya Ustad Azam tidak kalah bingungnya dengan Ustad Vano. Dia menundukkan kepalanya di sepanjang jalan sembari berpikir kesalahan apa yang pernah dia lakukan sehingga membuat seseorang merubah sikapnya menjadi sangat dingin dan jutek.


Bukankah aku sudah menjelaskan alasan kami tidak bisa bertunangan kepada kedua orang tuanya?. Batin Ustad Azam gelisah.


Bersambung..


Ikuti alur yang saya tulis atau kita berhenti sampai di sini saja?


Saya memang menerima kritik dan sangat terbuka terhadap saran tapi tolong jangan memerintah saya. Fine, mungkin alur yang saya ciptakan membosankan dan tidak masuk akal, okay untuk itu saya meminta maaf dengan tulus.


Tapi di sini saya adalah penulis (meskipun yah.. abal-abal), saya menciptakan alur sendiri seolah-olah saya ikut masuk ke dalamnya. Tapi jika kalian memaksa saya merubah alur maka maaf, saya gak bisa. Itu sama aja kalian merusak dunia yang sudah saya imajinasikan dan bangun.


Saya terganggu, jujur. Inilah yang membuat saya malas menulis. Walaupun ada yang bilang jangan diperdulikan itu sama sekali gak bisa. Kenapa? karena kata-kata itu diarahkan kepada saya.

__ADS_1


Oh ayolah, sejujurnya menulis di sini tidak segampang yang terlihat. Harus rajin update setiap hari tapi minim benefit, mashaa Allah..jika tidak mendapatkan semangat dari pembaca mungkin pikiran pertama adalah mengapa saya harus bertahan di sini saat karya saja tidak dihargai dengan sepantasnya?


Jadi tolong kerjasamanya, kalau mau lanjut ikuti alur yang saya tulis tapi kalau memang tidak suka atau tetap meminta merubah maka yah..kita sampai di sini saja.


__ADS_2