Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Rumah sakit


__ADS_3

"oh Ren, saya kira kamu kemana tadi," ucap Rio pada wanita dewasa namun masih terlihat cantik karena makeup yang digunakannya.


"saya tadi dari bagian admistrasi mas, ada yang harus di bayarkan sisa semalam," jawab wanita itu dengan lembut sembari berjalan mendekati Rio.


"kalau masalah administrasi biar saya yang menanggung semuanya Ren!"


"siapa sebenarnya wanita ini? sisa semalam? berarti mas Rio mengantar kan anaknya bersama wanita ini tadi malam." Norin bermonolog.


" ngga apa apa mas, Alesa kan anak kita bersama jadi harus tanggung jawab sama sama untuk merawat serta membesarkannya kan?" ujar wanita itu sambil ekor matanya melirik ke arah Norin yang terdiam.


deg....


"anak kita, jadi wanita ini.....," Norin bermonolog.


"ehem, dek Norin kenalkan, ini Reni, mamanya Alesa," ucap Rio pada wanita yang masih terdiam.


"hai, aku Reni sekaligus ibu dari anaknya mas Rio." Reni mengulurkan tangannya sembari tersenyum penuh arti.


Rio salah tingkah, ia merasa tidak enak pada Norin atas ucapan berlebihan mantan istrinya.


Norin tersenyum tipis."saya Norin mba!" Norin menyambut uluran tangan wanita itu.


"ngga perlu panggil saya mba kali ya! usia kita kan ngga beda jauh, saya baru tiga puluh empat dan kamu pasti tiga puluh tahun kan?"


Norin mengerutkan keningnya." bagai mana dia bisa tau usiaku? apa mas Rio udah cerita tentangku !" Norin bermonolog.


Norin tersenyum tipis." iyaa...Ren!"


"ya meskipun wajahku mungkin sudah terlihat tua, maklum aku nikah muda jadi ya waktuku cuma di habiskan untuk mengurus suami dan anak selama sepuluh tahun dan ngga ada waktu buat ngurus diri sendiri." Reni berceloteh.


Rio terbatuk mendengar celotehan mantan istrinya yang berlebihan itu. Seolah olah Rio menceraikan mantan istrinya karena sudah tidak menarik lagi dimatanya padahal bukan itu alasan sebenarnya.


Norin menyimak saja ucapan wanita tersebut.


Tak berselang lama, seorang suster masuk ke dalam ruangan tersebut.


"dengan keluarga adik Alesa!"


"saya dok!" ucap Rio dan Reni bersamaan. kemudian mereka saling pandang di hadapan Norin.


"maaf bapak dan ibu di tunggu di ruang dokter tapi salah satunya saja ya!"


"baik sus, biar saya yang ke sana," jawab Rio.


Rio menoleh pada Norin yang masih terdiam.


"dek, tunggu sebentar ya jangan pergi kemana mana tunggu mas di sini aja."


Norin mengangguk. Kemudian Rio pergi dari ruangan tersebut.


Hening, tidak ada pembicaraan diantara kedua wanita di ruang rawat itu. Reni yang tengah mengelus pipi anaknya yang sedang tidur. Dan Norin yang tengah me re mas buku buku jarinya.


Ingin rasanya Norin keluar dan pergi dari rumah sakit itu. Rasa kecewa pada Rio yang tidak pernah cerita tentang masa lalunya tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Rio sepenuhnya karena Norin sendiri tidak pernah bertanya tentang masalah pribadi Rio sebelumnya.


"ehem.."


Deheman Reni memecahkan keheningan.


"apa boleh saya bertanya?" tanya Reni yang masih duduk di samping puteri nya.


Norin melirik ke arah wanita dewasa itu dan mengangguk.


"sudah berapa lama kenal dengan mas Rio?"


"se seminggu." jawab Norin singkat.


"wow, cukup instan ya? kok bisa baru seminggu udah deket banget bahkan rencana mau nikah?"


Norin tidak menjawab, ia juga bingung harus menjelaskannya bagai mana.

__ADS_1


" oya, emang kamu kenal dimana sama mas Rio ?"


Norin mendongakkan wajahnya."di sekolah mba!"


"oh, jadi kamu seorang guru dimana mas Rio tugas?"


"ibu saya yang guru mba, bukan saya."


"terus apa ibumu yang mengenalkan mu dengan mas Rio?"


"bukan, kami ngga sengaja ketemu di sekolah saat saya menjemput ibu saya."


"lantas kamu sendiri kerja atau apa?"


"saya kerja di kota mba!"


"wow keren, kerja di perusahaan atau..."


"saya kerja di pabrik mba."


Reni membelalakkan matanya." jadi kamu cuma seorang buruh pabrik ?"


Norin mengangguk.


"kok tumben ya mas Rio suka sama yang ngga selevel derajatnya sama dia? ya meskipun kamu cantik sih, tapi biasanya dia lebih suka sama wanita pintar dan berpendidikan tinggi lho ketimbang kecantikannya." Reni mulai terang terangan menunjukan ketidaksukaan nya pada wanita yang menurutnya sebagai pesaingnya.


Norin menundukkan wajahnya sembari me re mas buku buku jarinya.


"apa mas Rio pernah cerita gimana kami dulu?" Reni terus saja memberikan pertanyaan seperti seorang HRD yang tengah mewawancara calon karyawan baru.


Norin menggelengkan kepalanya."boro boro cerita, tau dia seorang duda dan memiliki anak aja baru sekarang." Norin bergumam dalam hati.


"dulu, kami saling mengenalnya aja butuh waktu setahun lho, lalu pacaran tiga tahun dan menikah sepuluh tahun. Setelah itu, akhirnya kami bercerai karena ke salah pahaman. lantas bagaimana dengan kalian yang baru kenal satu minggu lalu memutuskan untuk menikah? apa kamu ngga takut bernasib sama kayak saya?"


Norin masih diam dan menunduk.


Norin masih diam dan menyimak saja.


"saya rasa tidak mudah, begitu pula dengan mas Rio. saya merasa kamu itu cuma pelampiasannya aja, soalnya aneh aja gitu masa kenal satu Minggu langsung cinta. padahal mas Rio itu bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta lho." Reni mulai memanas manasi agar wanita yang menjadi rivalnya tersulut emosi. Tapi sayangnya ia gagal, Norin tetap tenang dan kalem.


"apa benar yang di katakan mantan istrinya ini kalau aku cuma bahan pelampiasan mas Rio aja? ya Allah sakit sekali rasanya jika itu benar." gumam Norin dalam hati.


Tak lama, pintu terbuka dan nampak laki laki yang tengah mereka bicarakan memasuki ruangan bersama satu orang pria paruh baya dan dua wanita paruh baya.


"lho, bapak sama ibu kok bisa barengan sama mama kesini nya? tanya Reni pada mereka.


"kami ngga sengaja ketemu di halaman rumah sakit Ren!" ujar wanita yang bertubuh gemuk.


"oh, jadi mama kesini nya sendiri toh, kirain barengan sama bapak dan ibu."


Tak sengaja ekor mata pria paruh baya itu melihat pada wanita cantik yang sedang berdiri menunduk di pojokan nyaris tak terlihat.


"lho itu siapa Ren?" tanya pria paruh baya.


Semua mata tertuju pada wanita yang tengah berdiri dengan gugup. Rio nyaris melupakan Norin setelah dokter mendiagnosa penyakit anaknya.


"dek Norin, maaf saya kelamaan ninggalin kamu dek."


Ingin rasanya Norin menghilang dari perkumpulan dua keluarga itu. karena Norin sudah bisa menebak mereka adalah orang tua Rio dan Reni.


"sini dulu dek!" panggil Rio.


Dengan ragu Norin mendekati mereka sambil menundukkan wajahnya.


"ini siapa Rio ?" tanya wanita yang di ketahui sebagai ibunya Rio.


"kenalkan bapak, ibu dan mama ini Norin, wanita yang sering Rio ceritakan pada ibu dan bapak."


"dek, kenalkan ini orang tua saya!"

__ADS_1


Norin mengangkat wajahnya menatap pada bapak dan ibu Rio lalu tersenyum.


"masyaallah, cantik sekali kamu nak!" puji ibunya Rio.


"terima kasih ibu." kemudian Norin menyalami orang tua Rio juga orang tua Reni.


"oh, jadi wanita ini yang akan menjadi mama sambungnya Alesa ?" tanya wanita bertubuh gemuk dengan wajah datar.


Rio melirik ke arah Norin yang tengah menunduk saja.


"inshaallah ma!" jawab Rio.


"jangan asal pilih pasangan kamu Rio, harus tau bibit bebet dan bobotnya. juga pendidikannya karena saya ngga mau cucu saya di didik sama orang yang kurang pendidikan," ujar wanita bertubuh gemuk.


Orang tua Rio saling pandang dan Rio menatap tak enak hati pada Norin.


"oya, apa saya boleh tau kamu pernah kuliah dimana dan jurusan apa?" tanya wanita itu pada Norin.


"saya ngga pernah kuliah Bu, saya cuma tamatan SMA." jawab Norin.


"apa? seriusan kamu? terus kerjaan kamu apa?"


"mba Norin ini cuma seorang buruh pabrik di kota ma!" Reni yang dari tadi diam saja menimpali pertanyaan ibunya. dan itu membuat ia merasa senang karena bisa mempermalukan Norin di hadapan semua orang.


"hah, jadi wanita seperti ini yang akan kamu jadikan ibu sambungnya Alesa Rio? kok selera mu jadi rendah gitu Yo? kamu melepaskan berlian seperti anak saya Reni demi sebongkah batu yang ngga ada harganya seperti wanita ini !" wanita itu menghina Norin. Sakit mendengarnya, tapi Norin memilih diam dan tetap tenang.


"cukup ma, tolong jangan bawa bawa Norin. saya mengenal Norin jauh setelah saya bercerai dengan Reni. dan tolong mama jangan menghinanya karena dia adalah wanita yang akan saya nikahi."


Tanpa mereka sadari seorang gadis kecil tengah mendengar obrolan mereka.


"papa !"


Semua orang menoleh pada gadis kecil yang tengah berbaring.


"Alesa, kamu udah bangun nak?" tanya Reni.


"iya nak ada apa? tanya Rio lalu mendekati anaknya.


"apa papa sayang sama Alesa?" tanya gadis kecil itu.


"iya sayang, papa sayang banget sama Alesa."


"kalau papa sayang Alesa berarti papa mau menuruti kemauan Alesa dong!"


"emangnya Alesa mau minta apa dari papa?"


Gadis kecil itu menoleh pada Norin." siapa Tante itu pa?"


Rio mengikuti arah telunjuk gadis kecilnya. Lalu, ia tersenyum.


"dek norin kesini dulu, Alesa mau kenalan nih."


Dengan ragu Norin berjalan mendekati ranjang dimana gadis kecil itu berada.


"hai Alesa, Alesa cepat sembuh ya!" Norin tersenyum pada gadis kecil berwajah pucat.


"apa benar yang dikatakan oma kalau Tante akan menjadi istrinya papa dan mama sambung Alesa?"


Deg....


"dari mana Alesa tau? apa dia mendengar pembicaraan kami tadi ?"Rio bermonolog.


Norin diam saja, ia bingung mau menjawab apa.


"Tante!" tangan mungil Alesa meraih tangan Norin yang tengah berdiri di sampingnya.


"iya sayang!"


"tolong jangan ambil papa dari Alesa ya? jangan pisahkan papa dari mama Reni! Alesa ingin papa sama mama bersatu dan tinggal sama Alesa!"

__ADS_1


__ADS_2