Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 25.5


__ADS_3

Dia sungguh tidak ingin menangis di depan Bunda tapi kedua matanya tidak bisa dikendalikan. Cairan hangat itu terus saja mengalir tanpa henti. Membuatnya sesak sekaligus bercampur rasa malu.


Safira tidak menjawab tapi Bunda tahu bila dia saat ini ingin mendengarkan cerita selanjutnya.


"Bunda dan Ayah berpikir bila Ali nyatanya sangat serius mencintai kamu. Dia diam-diam memperjuangkan kamu dari jauh seraya meminta kepada Allah agar hatimu menjadi miliknya. Kemudian perubahan besar yang Ali lakukan dalam hidupnya ternyata menarik perhatian para kyai di pondok. Mereka kagum dengan kesungguhan Ali. Maka satu demi satu kyai itu membawa putri mereka untuk dipinang oleh Ali. Akan tetapi Ali menolak mereka semua sekalipun wanita-wanita itu adalah putri dari seorang kyai atau ustad. Di dalam hatinya sudah ada kamu dan ini terus berlanjut sampai akhirnya 1 tahun kemudian, dia pulang ke rumah sambil membawa bunga mawar merah yang sangat banyak. Dia bilang ingin memberikan kamu buket buatannya sebagai ucapan selamat atas kelulusan mu."


Safira mengeratkan genggaman tangannya tidak kuasa lagi. Dia menangis sejadi-jadinya untuk menumpahkan betapa dalam penyesalannya saat ini.

__ADS_1


Bunda mengusap air mata yang keluar dari matanya secepat kilat sambil menepuk-nepuk punggung Safira. Tidak hanya Safira, namun Bunda juga sangat sedih mengingat masa-masa itu. Masa ketika putranya berjuang untuk seseorang yang begitu jauh untuk digapai.


"Tapi.. dia tidak bisa memberikannya kepadamu karena dihari kelulusan mu, dia melihat ada seorang laki-laki yang datang melamar mu di depan banyak orang. Hari itu..itu adalah pertama kalinya Bunda melihat Ali menangis sangat keras. Dia patah hati dan segera kembali ke pondok untuk menyelesaikan pendidikannya. Namun Safira, meskipun dia melihat dengan kedua matanya sendiri banyak laki-laki yang datang mendekatimu akan tetapi harapannya kepadamu tidak pernah putus. Dia selalu mengatakan bila semuanya sudah dia serahkan kepada Allah, dia percaya bila suatu hari Allah akan mengabulkan semua doa-doanya."


"Ya Allah, Mas Ali.." Safira bisa membayangkan betapa sakit rasanya berharap pada seseorang yang tidak akan pernah melihat kearahnya.


Safira pernah merasakannya.

__ADS_1


"2 tahun kemudian Ali lulus dari pondok pesantren namun dia tidak langsung kembali ke rumah. Dia memilih bekerja di pondok pesantren menjadi seorang pengajar. Ketika Ayah memintanya pulang untuk belajar bisnis Ali menolak dengan alasan ingin menjadi seorang ustad di pondok pesantren. Nak, tahukah kamu kenapa dia lebih memilih menjadi seorang ustad daripada langsung pulang untuk memegang bisnis Ayah?" Tanya Bunda lagi.


Safira sekali lagi tidak menjawab pertanyaan Bunda. Dia menggelengkan kepalanya lemah, kedua tangannya bekerja keras mengusap wajahnya yang dialiri air mata tanpa henti.


"Itu karena.." Bunda mengangkat kepala Safira, mengusap wajah basah Safira dengan tangan keibuannya.


"Kamu. Dia melakukannya lagi karena kamu, Safira. Saat kami bertanya dia menjawab bahwa dulu ada pernah seorang ustad bernama Aldo di pondok pesantren. Kamu menyukai ustad itu jadi Ali berpikir untuk memenuhi apa yang kamu sukai. Dia benar-benar menjadi ustad di pondok pesantren sampai akhirnya Bunda mengalami kecelakaan itu. Ketika tahu Bunda di rumah sakit dia segera mengurus surat pengunduran dirinya dan di saat itu pula dia bertemu dengan Dinda. Nak, perjuangan Ali untuk mendapatkan kamu tidaklah mudah. Dia harus memaksakan dirinya bersikap dewasa agar bisa berdiri di samping mu, dia harus menyisihkan uang belanjanya di pondok pesantren untuk membelikan kamu sesuatu, karena kamu dia termotivasi menjadi seorang pengajar di pondok pesantren. Itu semua untuk menghilangkan kekurangannya mendekati kamu. Nak, meskipun Ali tidak pernah mengatakan kesedihannya namun Bunda tahu dia dalam kesulitan saat mendekati kamu. Dia takut karena usianya yang lebih muda darimu membuat kamu memandangnya tidak pantas. Dia takut kamu masih melihatnya seperti anak kecil, karena itulah dia terus berupaya membentuk dirinya menjadi pribadi yang dewasa. Bila memang seperti yang kamu katakan Ali menyukai Dinda maka sudah pasti dia akan memberikan perhatian lebih kepada wanita itu. Tapi tidak, Nak. Dia tidak melakukan itu karena hatinya sudah menjadi milikmu. Kamu juga menjadi saksinya bila setelah pertemuan itu Ali tidak lagi memberikan perhatian lebih kepada Dinda. Karena dia tahu amanahnya sudah terselesaikan dan dia tidak ingin menciptakan kesalahpahaman denganmu. Nak, apa kamu masih meragukan cinta Ali setelah kamu mendengar semua ini?"

__ADS_1


__ADS_2