Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 8.8)


__ADS_3

"Seharusnya kata-kata ini ada baiknya kamu berikan kepada teman sok lemah mu itu agar dia tahu diri dan tidak membuat masalah lebih banyak lagi untuk mencari perhatian Ustad Vano."


Frida masih keras kepala dan seolah-olah tidak terpengaruh dengan apa yang baru saja Mega katakan. Dia berdiri tegak dengan tatapan congkak dimatanya yang mencolok.


Mega tersenyum dingin,"Masalah ini aku tidak akan membiarkan Ai dekat dengan Ustad Vano lagi. Bagiku terlibat dengan Ustad-ustad itu tidak ada gunanya. Dan juga, tolong nasehati diri Kakak sendiri agar tidak terlalu ikut campur dalam hubungan orang lain karena Kakak bukanlah siapa-siapa untuk Ustad Vano, apa aku benar?"


Sekali lagi Mega menyerang titik sakit Frida. Membuat Frida beberapa kali harus menahan nafas untuk rasa sakit dihatinya.


"Berhentilah. Ini adalah masjid, tempat untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah. Ini bukan tempat yang pantas untuk berdebat atau banyak bicara." Tiara menarik tangan Frida tapi segera ditepis kasar oleh Frida.


Ada sorot mata permusuhan di dalam matanya. Mulai malam ini Frida berjanji tidak akan mau menjalin pertemanan lagi dengan Tiara. Dia tidak akan pernah mau berteman lagi dengannya.


"Kita bukan teman, kamu harus ingat ini." Katanya sebelum pergi.


Dia berjalan lurus tanpa menoleh ke belakang. Dia juga sama sekali tidak menyesal mengatakan ini kepada Tiara karena baginya mereka sekarang tidak lebih dari seorang kenalan.


"Masalah ini aku minta maaf. Frida..dia memangnya seperti ini bila tidak menyukai seseorang jadi aku mohon kalian mau memaafkannya." Kata Tiara canggung.


Mega hanya mengangguk ringan. Dia dan Asri lalu mengambil peralatan bersih-bersih mereka untuk melanjutkan acara bersih-bersihnya mereka yang tertunda.


Sementara itu Tiara memutuskan untuk pergi dari sini dan menyusul yang lain ke tempat pelayanan medis. Dia penasaran apa yang terjadi kepada Ai dan kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan di masjid tadi.

__ADS_1


"Frida memang salah tapi sejujurnya apa yang dia katakan masuk akal." Dia bergumam pada dirinya sendiri.


Tiara juga merasa aneh dengan Ai karena selalu membuat masalah disaat Ustad Vano ada di dekatnya. Jujur, dia tidak ingin berburuk sangka tapi semua yang Frida katakan justru memang terbukti.


Sementara itu di ruang pelayanan medis Ai masih belum bangun dari pingsannya meskipun sudah dipasangi infus. Wajahnya yang pucat seperti kekurangan darah membuat dokter yang baru saja akan menutup ruang kesehatan mengernyit tidak puas.


Dia merawat Ai dengan ekspresi tertekan.


"Ini adalah gejala normalnya ketika akan datang bulan." Kata dokter itu kepada Ustad Vano.


"Apa harus separah ini, dok?" Ustad Vano jelas tidak mengerti.


"Untuk beberapa kasus mungkin iya tapi umumnya wanita hanya mengalami kram dan tidak separah Ai. Lagipula ini tidak mengherankan terjadi untuk Ai karena dia berbeda dengan wanita-wanita yang lain. Akan tetapi yang membuatku heran adalah jadwalnya lebih cepat dari biasanya." Katanya sambil membuka dokumen biru yang sengaja disimpan di dalam laci mejanya.


Dari data itu mereka mengetahui jika Ai pertama kali menstruasi di usia 11 tahun, ini normal dan masih tidak mengkhawatirkan. Namun ketika mereka beralih melihat periode menstruasi Ai, mereka melihat awalnya Ai menstruasi setiap 3 bulan sekali. Kemudian masuk usia 15 tahun menjadi 2 bulan sekali dan sekarang, dia tiba-tiba menstruasi 1 bulan lebih cepat dari biasanya.


"Apakah ini buruk untuk kesehatan Ai?" Ustad Vano tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Dokter itu tidak membantah namun tidak juga mengiyakan. Ini mengisyaratkan ada dampak baik dan buruknya untuk Ai.


"Ustad, aku percaya dengan pertolongan Allah. Aku yakin sedikit demi sedikit Ai akan seperti wanita-wanita yang lain di luar sana. Hanya saja tubuh Ai mungkin kewalahan menerimanya karena seperti yang Ustad lihat, dia langsung jatuh sakit ketika gejala menstruasinya datang. Di data kesehatannya juga tercatat jika dia beberapa kali dilarikan ke rumah sakit karena tubuhnya tidak bisa menahan gelombang sakit yang ada di dalam rahimnya. Proses ini memang sangat menyakiti untuk Ai tapi ini juga pertanda baik bahwa Ai bisa hamil dan melahirkan secara normal."

__ADS_1


Ustad Vano menahan nafas. Kabar baik dan kabar buruk datang secara bersamaan memenuhi pikirannya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa untuk perubahan baik sekaligus menyakitkan ini.


"Namun jika Ai rajin berolahraga dan makan makanan sehat secara teratur, aku yakin tubuhnya perlahan-lahan bisa menanggung gelombang sakit di dalam rahimnya."


"Olahraga..." Gumamnya, dia lalu menoleh melihat wajah terlelap Ai yang tampak damai.


Wajahnya yang pucat tadi kini perlahan menguap kembali seperti warna wajahnya kemerahan.


"Ai, haruskah aku melanggar janjiku kepada Ayahmu?" Bisik Ustad Vano tampak frustasi.


Bersambung..


Promosi dikit yah, yang mau baca silakan, enggak juga enggak apa-apa hehe..



Ren Xia adalah penderita Hermaprodhit yang telah menjalin kasih dengan seorang CEO muda bernama Davin Demian. 


Bertahun-tahun hidup bersama Rein tidak pernah berharap akan dikaruniai seorang anak karena dirinya yang lahir tidak sempurna. Akan tetapi siapa yang akan mengira jika Tuhan berkehendak, di malam menjelang 3 tahun hubungannya dengan Davin, Rein tiba-tiba mendapatkan kabar bahwa dia sedang hamil. Ini adalah kabar yang sangat baik tapi Tuhan sejati-Nya sangat adil, di samping kabar baik Dia mengirimkan sebuah kabar buruk pula untuk Rein. 


Di malam itu juga Tuhan menunjukkan kepadanya bahwa Davin Demian selama ini telah diam-diam mengkhianatinya. Bercumbu dengan wanita seksi di depan hotel, Rein tidak kuasa menahan sakitnya. Akan tetapi dia mencoba untuk berpikir positif bahwa Davin hanya sedang bosan saja dan akan segera kembali kepadanya. Tapi lagi-lagi Tuhan mengirimkannya sebuah kenyataan pahit. Setelah malam dingin itu Davin pulang ke rumah dengan beberapa cek bernilai ratusan juta di tangan. Dia mengatakan bahwa Rein sudah tidak berguna lagi untuknya, dengan cek itu dia meminta putus kepada Rein.

__ADS_1


Ini adalah akhirnya pikir Rein. Dia lalu pergi keluar kota untuk menjalani kehidupan baru dan diam-diam membesarkan anaknya. Tapi 5 tahun kemudian Rein tiba-tiba dipertemukan kembali dengan Davin Demian disebuah perusahaan properti terkemuka tempat Rein bekerja. Rein sungguh tidak menyangka bahwa CEO yang memegang perusahaan besar tempatnya bekerja adalah Davin Demian, Ayah dari anaknya. Lalu, bagaimana kisah selanjutnya diantara mereka? 


Apakah mereka akan berakhir bersama-sama karena jejak masa lalu atau justru saling bertentangan karena pengkhianatan dari masa lalu? Jawabannya, ada di sini (K*M)


__ADS_2