
Dengan langkah ringan Safira masuk ke dalam rumah di dampingi suaminya. Wajahnya tidak menunjukkan rasa panik yang menggerogotinya sekarang. Itu sama seperti di waktu biasanya, bahkan Ali sampai-sampai berdecak kagum melihat istrinya.
"Assalamualaikum," Salam Safira dan Ali begitu masuk ke dalam ruang tamu.
Ayah termasuk pasangan suami-istri yang mengaku sebagai keluarga Ai menoleh ke arah pintu masuk. Mereka melihat pasangan muda yang tampak serasi masuk ke dalam ruang tamu.
"Waalaikumussalam." Jawab mereka tidak bisa mengalihkan fokus.
Melihat Safira dan Ali berjalan beriringan membuat pasangan suami-istri lusuh itu teringat kembali dengan kedua orang tua Ai sebelum direnggut nyawanya oleh Sang Pencipta.
"Safira, kemari lah." Ayah menepuk tempat kosong di sampingnya.
Safira mengangguk sopan,"Baik, Ayah."
Dia lalu mendudukkan dirinya di samping Ayah, berhadapan langsung dengan pasangan suami-istri lusuh itu. Sedangkan Ali duduk di samping kanannya sehingga dia di apit oleh dua laki-laki hebat seolah menjadi tameng untuk Safira bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Sebuah sapuan hangat menyentuh punggung tegangnya. Safira menoleh dan melihat senyuman lembut Ali di sampingnya. Seakan-akan suaminya mengatakan lewat senyumnya itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Pak Daman dan Bu Santi, kenalkan ini adalah Safira menantuku dan di samping adalah suaminya sekaligus putraku, Ali. Mereka adalah orang yang mengadopsi Ai sejak 1 tahun yang dan sudah tercatat di dalam kartu keluarga kami beberapa bulan yang lalu setelah menyelesaikan prosedur hukum adopsi." Dengan suara ringan dan bersahaja Ayah memperkenalkan mereka kepada pasangan suami-istri lusuh itu.
Namanya adalah Pak Daman dan Bu Santi. Dari wajah mereka berdua Safira menilai bila tidak ada orang yang benar-benar mirip dengan Ai. Dia semakin curiga apakah mungkin niat kedua orang ini tidak baik untuk Ai.
__ADS_1
Pak Daman dan Bu Santi tersenyum canggung kepada mereka. Tampak jelas bila mereka cukup malu berhadapan dengan Ayah, Safira, dan Ali. Apalagi sofa yang mereka duduki saat ini terlalu mahal untuk disentuh oleh orang miskin seperti mereka.
Mereka tidak biasa dan lebih biasa duduk di atas dinginnya lantai daripada di atas barang mewah.
"Lalu Safira dan Ali, kenalkan Pak Daman dan Bu Santi. Mereka adalah Paman dan Bibi Ai dari kota D. Kedatangan mereka ke sini untuk membicarakan sesuatu kepada kalian." Kata Ayah masih dengan suara yang sama.
Safira tersenyum tipis tidak mengatakan apa-apa. Arti diamnya saat ini adalah dia menunggu Pak Daman atau Bu Santi memulai pembicaraan mereka. Dia sebenarnya tidak sabar tapi tetap menahan diri sembari berdoa bila mereka datang ke sini bukan untuk mengambil Ai darinya.
"Pak Daman dan Bu Santi, tolong minumlah kopi kalian. Jangan bersikap sungkan di depan kami." Bunda masuk sambil membawa kopi di atas nampan. Lalu di belakang menyusul Sifa dengan nampan berbagai macam makanan ringan yang manis dan mengunggah selera.
"Terimakasih Nyonya, tapi seharusnya Nyonya tidak usah repot-repot." Wajah tua Pak Daman tersenyum canggung bercampur malu.
Apalagi ketika mata tuanya tidak sengaja menangkap kedua mata Sifa yang besar menatap curiga kepadanya dan Bu Santi, dia merasa semakin malu dan merasa tak pantas. Tindakan terang-terangan Sifa ini membuat Bunda dan Ali menghela nafas panjang. Jadi untuk menjaga situasi agar tetap kondusif Bunda meminta Sifa kembali ke taman untuk menemani anak-anak bermain.
Sifa jelas enggan pergi tapi tidak bisa menolak. Apalagi sekarang ada tamu jadi dia harus menjaga kehormatan keluarganya.
Ada orang tambahan lagi di sini. Pak Daman dan Bu Santi kian merasa tidak nyaman. Apalagi ketika tidak ada yang berbicara setelah itu mereka merasa semakin terpojok.
"Mohon maaf Pak, sebelumnya. Ayah bilang tadi kedatangan kalian ke sini untuk membicarakan sesuatu. Jadi, apakah Pak Daman bisa memberitahu kami tentang apa yang ingin kalian bicarakan?" Ali berkata sopan membuka pembicaraan.
Karena dia memperhatikan jika Pak Daman dan Bu Santi tampak malu serta canggung di depan mereka. Mungkin itu karena pertemuan pertama kali mereka saat ini.
__ADS_1
Bu Santi menarik pakaian lengan panjang suaminya. Matanya tampak sayu dan ada noda gelap di bawah. Mungkin itu ada karena dia mengalami kesulitan saat tidur.
"Tuan dan Nyonya, apa Non Ai baik-baik saja selama tinggal di sini?" Tanyanya dengan suara tua yang terdengar lemah.
Non Ai?
Sontak mereka semua terkejut. Tanpa bertanya pun mereka tahu bila kedudukan Ai dengan Pak Daman dan Bu Santi itu tidak sama. Tidak, lebih tepatnya mereka tidak mempunyai hubungan darah karena jika iya, maka Pak Daman tidak akan menggunakan embel-embel 'Non' sebelum menyebut nama Ai.
"Kalian ini.." Safira menegakkan punggungnya menahan perasaan gelisah.
Pak Daman dan Bu Santi saling memandang, di wajah tua mereka ada gurat kelelahan di sana.
"Kami adalah pembantu Non Ai, Nyonya. Sebelum Tuan dan Nyonya besar menghilang karena kecelakaan mobil, kami masih bekerja di rumah besar dan bertugas menjaga Non Ai." Kata Pak Daman menjelaskan.
Safira meremat tangannya gemetaran.
"Kalian bilang kedua orang tuanya menghilang?" Bisiknya menahan sesak. "Lalu kenapa kalian..kenapa kalian membuang Ai ke tempat mengerikan itu?" Tanya Safira dengan nada menusuk.
"Kenapa kalian mengirim Ai ke panti asuhan alih-alih membesarkannya? Bukankah itu adalah tugas-"
"Nak," Ayah menyentuh puncak kepala Safira. Membuat semua kemarahan Safira segera menguap entah kemana. Sentuhan ini begitu hangat persis seperti tangan milik Abi.
__ADS_1