
"Kamu lagi," Katanya heran saat melihat Ai.
Ai segera menunduk, mundur tiga langkah untuk menjaga jarak dari Ustad Vano.
"Aku minta maaf, Ustad." Ai sekali lagi meminta maaf.
Ustad Vano tidak mengatakan apa-apa dan hanya menggelengkan kepalanya, dia lalu beralih melihat Asri yang sudah menundukkan kepalanya takut di samping Ai.
"Apa sebelumnya kalian tidak membaca aturan pondok pesantren ini? Bukankah kami sudah mengirimkan surat terlampir ke rumah kalian semua?" Tanya Ustad Vano dingin.
Pondok pesantren mereka sangat efisien dan diakui sangat ketat oleh banyak orang. Jadi akan aneh rasanya mereka menemukan pelanggaran sekalipun itu berasal dari santri baru. Padahal pihak pondok sudah mengirim surat terlampir untuk mewanti-wanti hal ini terjadi.
"Maafkan aku, Ustad. Aku memang menerimanya tapi tidak sempat membacanya." Jawab Ai menyesal.
Bukannya dia tidak sempat membacanya tapi dia sengaja tidak membacanya. Dia pikir aturan pondok pesantren sama saja dimana-mana jadi dia tidak perlu terlalu pusing membaca atau menghafalnya.
Ustad Vano tidak terkejut,"Tanpa kamu katakan pun aku sudah tahu jawabannya." Dia lalu melirik waktu di jam tangannya.
"Urusan kalian masih belum selesai. Tapi karena waktu sholat sebentar lagi datang kita akan menundanya dulu. Apa kalian sudah berwudhu?"
Ai dan Asri kompak menggelengkan kepalanya.
Ustad Vano menghela nafas panjang.
"Ambil air wudhu kalian di kamar mandi putri," Dia menunjuk ke sebelah kanan. "Setelah selesai kembalilah ke sini."
__ADS_1
Ai dan Asri tidak membuang waktu.
"Baik, Ustad." Mereka berdua berjalan cepat menuju kamar mandi putri. Karena di sini sepi maka mereka bisa dengan cepat dan leluasa mengambil air wudhu. Ini tidak membutuhkan waktu lama karena 3 menit kemudian mereka sudah keluar dari kamar mandi putri.
"Ikuti aku dari belakang karena aku akan memimpin kalian masuk. Ingat, tundukkan pandangan kalian dari lawan jenis dan jangan pernah mengangkatnya sampai kalian sudah berada di lantai dua. Apa kalian paham?" Kata Ustad Vano kepada mereka.
Ai dan Asri sangat terkejut. Mereka tidak menyangka Ustad Vano mau membantu mereka. Ini adalah sebuah keberuntungan untuk mereka berdua disaat yang bersamaan juga merupakan ketidakberuntungan untuk mereka.
Setelah mendapatkan kebaikan Ustad Vano, mereka tahu setelah ini ada hukuman yang menunggu.
"Kami paham, Ustad." Jawab Ai dan Asri gugup.
Ustad Vano setelah itu tidak mengatakannya apa-apa. Dia memimpin jalan untuk mereka berdua. Perlahan mereka memasuki masjid dan langsung ditatap oleh ribuan pasang mata.
Dengan langkah ringan dan merendah Ustad Vano berhasil memimpin mereka dengan mulus sampai di depan anak tangga ke lantai dua. Ustad Vano lalu bergerak menyamping, memberikan Ai dan Asri jalan menuju lantai dua.
"Setelah makan siang ingat untuk datang ke masjid ini lagi." Bisik Ustad Vano tepat di depan telinga Ai.
Entah itu disengaja atau tidak suara Ustad Vano mengatakannya tepat di telinga Ai ketika Ai berjalan melewatinya. Membuat telinga Ai terasa panas bahkan wajahnya pun ikut merasa panas. Suara dingin nan berat itu terus bergema di dalam pendengaran Ai. Membuat Ai linglung sejenak dan tidak menyadari mengambil langkah yang salah.
"Astagfirullah, Ai! Berjalanlah dengan benar agar kamu tidak terjatuh." Untungnya ada Asri yang segera menahannya.
Ai sangat malu. Dia tidak berani melihat ke belakang untuk melihat reaksi Ustad Vano. Rasanya dia ingin sekali berlari ke atas untuk bersembunyi!
Ustad Vano yang masih berdiri di bawah tentu saja melihat itu. Sinar matanya berfluktuasi singkat karena beberapa detik kemudian kedua matanya kembali dingin.
__ADS_1
"Ya Allah, aku sangat malu ditatap oleh banyak orang." Begitu mereka naik ke lantai dua, mereka sudah disambut oleh banyak pasang mata yang menatap mereka dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
Dari lantai dua mereka melihat semua yang terjadi diluar masjid. Mereka menyayangkan kecerobohan Ai dan Asri karena setelah ini akan ada hukuman yang menanti.
"Ini salahku, Asri. Jika saja aku tidak tidur maka kita tidak akan datang terlambat. Tolong maafkan aku, Asri." Kata Ai menyesal.
Jika saja dia tidak tertidur tadi maka semuanya tidak akan terjadi. Tapi.. justru karena inilah dia bisa bertemu lagi dengan Ustad Vano. Namun untuk pertemuan ini dia harus membayar harga yang tidak murah karena setelah ini dia akan dihukum!
"Hah..tidak apa-apa, Ai. Ini juga salahku karena telat membangunkan mu. Jadi di sini kita sama bersalah dan saling memaafkan, ya. Ai, aku minta maaf kepada mu untuk kejadian hari ini." Untungnya Asri tidak egois dan tahu jika keterlambatan mereka tadi juga karena dirinya yang lalai.
Ai tersenyum manis karena suasana hatinya sangat baik!
"Yah, kita saling memaafkan." Katanya seraya menundukkan kepala menatap dinginnya lantai yang mereka pijaki.
Mereka mendapatkan saf yang paling belakang dan jauh dari imam jadi mereka tidak tahu siapa yang memimpin sholat untuk pertama kalinya bagi mereka.
"Ai, apa kamu demam?" Mereka duduk di atas sajadah menunggu Iqamah di kumandangkan.
Ai segera meraba wajahnya, tidak, ini tidak panas-em, sebenarnya panas tapi ini tidak cukup panas untuk dikatakan sebagai demam.
"Tidak, aku baik-baik saja dan suhu wajahku juga normal." Kata Ai bingung.
"Eh, benarkah? Tapi kenapa wajah kamu sangat merah?" Tanya Asri lebih bingung.
Merah?
__ADS_1