
Kabar tentang batalnya acara pinangan Norin telah tersebar ke seluruh penduduk kampung. Entah siapa yang menyebar luaskan berita itu padahal keluarga Bu Aminah sendiri menutup rapat hal tersebut.
Sebenarnya Bu Aminah merasa malu karena keluarganya telah menjadi perbincangan hangat warga kampung tapos. Namun, ia tidak bisa berbuat apa apa selain membiarkan saja orang orang membicarakan keluarganya. Bu Aminah meyakini bahwa lambat laun kabar tersebut pasti akan mereda dengan sendirinya.
"Keluarga kita kayak selebriti aja ya Bu, di bicarakan orang hampir sekampung." Rizal berbicara pada ibunya lalu meneguk satu gelas air putih yang baru ia ambil dari dispenser. Satu gelas air putih mampu menghilangkan dahaga setelah berolah raga pagi dan mendinginkan otaknya setelah berseteru dengan salah satu warga kampung.
Bu Aminah yang tengah memotong sayuran melirik pada pria bongsor yang baru kembali dari lari pagi.
"biarin ajalah zal, namanya juga hidup bertetangga apalagi di kampung. Kalau ngga mau jadi omongan tetangga ya hidup aja di kota. Orang kota biasanya ngga usil dan ngga kepo sama hidup orang lain."
"siapa bilang orang kota ngga ada yang usil dan ngga yang kepo sama hidup orang lain Bu, tetangga ku di kota ada yang usil dan kepo sama hidupku, ya meskipun cuma satu atau dua orang sih." Norin menimpali ucapan ibunya ketika ia hendak masuk ke kamar mandi namun ia urungkan dan malah duduk di kursi meja makan.
Rizal ikut duduk di kursi meja makan bersama kakaknya.
"kalau ngga mau jadi bahan omongan tetangga mending hidup aja di hutan, tetanggaan nya sama hewan dan kalau hewan hewan itu membicarakan kita, kita ngga akan sakit hati karena kita ngga ngerti bahasa mereka." sahut Rizal.
Norin tersenyum tipis."betul zal!"
"udah udah, ngomongin masalah tetangga mulu. Mending sana pada mandi jorok banget kalian."
Norin dan Rizal tertawa lebar mendengar ucapan ibunya.
"apa hari ini ibu ngga ngajar lagi?" tanya Norin.
"ngajar lah Rin, kasian anak anak kalau ibu ngga masuk lagi. Sekalian ibu mau bicara sama pak Rio."
"udahlah Bu, ibu mau bicara apa lagi dengannya? Norin sendiri udah memutuskan ngga nerima pinangannya."
"tau nih si ibu, emangnya tega apa mau nikahkan anak gadisnya sama duda anak satu? kasian lho Bu mba Norin." Rizal menyahuti ucapan kakaknya.
"kalian itu ngomong apa sih, ibu mau ketemu beliau bukan untuk memaksa beliau agar tetap menikahi kamu Rin, tapi ada hal lain yang ingin ibu bicarakan."
"yaudah terserah ibu, aku mau mandi dulu." Norin berdiri lalu bergegas ke kamar mandi.
Di tempat lain khususnya di sebuah mobil mewah. Shin memandangi jalanan yang mereka lintasi. Tak terasa mereka sudah melakukan perjalanan selama empat jam lamanya dan itu cukup membuat pinggang pria itu terasa pegal.
"jika bukan karena mu, aku tidak sudi melakukan perjalanan yang melelahkan ini. kau harus membayar atas pengorbananku ini nanti." Shin bermonolog.
"apa tuan mau beristirahat dulu? kita bisa mampir ke rest area," tanya sang sopir.
"berapa jam lagi waktu tempuh menuju daerah itu?" Shin balik bertanya.
"sekitar empat jam lagi jika tidak ada kendala tuan."
"empat jam? aigoo, kenapa masih lama sekali?" Shin memijit keningnya yang mulai terasa pusing.
"bagaimana tuan, apa kita mau istirahat dulu atau....,"
"lanjut saja, saya ingin cepat sampai."
"baik tuan." Sang sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi kembali. Jalanan tol cukup lengang sehingga ia tidak merasa kesulitan mengemudikannya.
Sementara di dalam kamar mungil, Norin menatap wajahnya di depan cermin meja rias berukuran kecil.
"kata kebanyakan orang wajahmu cantik Rin, tapi sayangnya....."
Tok tok tok
"mba Norin, apa mba ada di dalam?" teriak Rizal.
"mau apa zal?"
__ADS_1
"Rizal mau keluar dulu mba, mau nganter ibu ke rumah temannya."
"iya pergi aja!"
Waktu sudah menjelang sore hari. Norin bersiap siap hendak memasak untuk makan malam nanti. kali ini rasanya ia ingin makan ikan asin, sambal terasi dan lalapan. Namun, ibunya tidak menyetok dua bahan tersebut dan terpaksa Norin mencarinya ke warung.
Norin menghampiri sebuah warung kecil yang terletak di seberang jalan kecil rumahnya. Norin tahu dari kejauhan kedatangannya sudah menjadi pusat perhatian oleh orang orang yang ada di warung itu.
"permisi Bu, apa ada ikan asin sama terasi ?" tanya Norin pada pemilik tukang warung itu.
"ada neng!"
"lah, Rin cantik cantik kok makannya ikan asin sama terasi," ucap seorang tetangga yang berada di sana.
Norin tersenyum." iya Bu, lagi pengen aja."
"bosen ya Rin, semalam udah makan bermacam macam makanan enak, sampe di bagiin ke para tetangga." wanita lain menimpali.
"makasih lho Rin, makanannya ya meskipun di kasihnya udah tengah malam dan anak anak saya udah pada tidur. oya saya turut prihatin ya Rin, lain kali hati hati nyari laki lakinya, masa baru kenal satu Minggu aja percaya gitu aja sama mulutnya."
Norin tersenyum pada mereka,"makasih ibu semua."
"neng ini terasi sama ikan asinnya." panggil pemilik warung yang tengah berada di dalam warung tersebut.
"terima kasih bu, ini uangnya." Norin memberikan uang tersebut lalu beranjak pergi dari warung itu.
Norin mulai memasak. Sayur asem, sambal terasi, ikan asin dan lalapan timun serta terong lalu menyajikannya di meja makan. Makanan itu menggugah seleranya dan ingin segera melahapnya.
"enaknya......tapi makannya nunggu Rizal dan ibu pulang dulu aja lah biar lebih nikmat makannya."
Setelah itu, Norin bergegas mandi membersihkan tubuhnya dari rasa lengket oleh keringat.
"sebentar lagi tuan, ini kita sudah mengarah ke kampung tersebut."
Shin menyunggingkan senyum." benarkah?"
"iya tuan, dua puluh menit lagi akan sampai jika melihat petunjuk arah yang ada di ponsel saya ini."
"dua puluh menit lagi, awas saja jika kau berbohong."
"baik tuan."
Pandangan Shin mengarah pada kaca mobil, ia melihat kiri dan kanannya menyuguhkan pemandangan perkebunan lalu menyuguhkan deretan kayu jati berjajar rapih di tepi jalan kiri dan kanannya.
Mereka memasuki sebuah kampung pertama, kampung selanjutnya dan terus saja hingga sampai pada sebuah kampung yang sudah terlihat sepi karena waktu menjelang maghrib.
Sang sopir memberhentikan mobilnya di pinggir jalan yang kecil.
"kenapa berhenti?"
"kita sudah sampai di tempat tujuan tuan, tapi saya tidak tau dimana rumahnya."
Tak selang lama, seorang pria memakai kopiah dan sarung sepertinya hendak pergi ke masjid melintasi mobil yang tengah terparkir di pinggir jalan. Kesempatan bagi sang sopir untuk bertanya pada pria tersebut dan ia pun membuka kaca mobilnya.
"maaf pak, permisi." ucap sang sopir dan pria itu menoleh lalu menghampiri mobil tersebut.
"iya pak, ada apa ya?"
"saya mau tanya apa bapak tau rumah Norin Inayah?"
"Norin Inayah anaknya Bu guru Aminah?" orang tersebut balik bertanya.
__ADS_1
"wah, saya kurang tau nama ibunya pak!"
"kalau yang namanya Norin itu cuma satu di kampung ini anaknya guru Aminah dan itu rumahnya pak!" tunjuk pria tersebut pada sebuah rumah bercat krem.
"kalau begitu terima kasih ya pak! mari."
"sama sama pak!" kemudian pria itu melanjutkan lagi langkahnya.
Shin tersenyum senang melihat ke arah rumah tersebut. Dengan rasa tidak sabar ia keluar dari dalam mobil dan berjalan kaki padahal rumahnya masih seribu meter lagi jaraknya.
Shin melangkah dengan semangat ke arah rumah tersebut. Senyum terus mengembang di bibirnya.
Beberapa pasang mata memperhatikannya dari arah warung yang tak jauh dari rumah Norin.
"itu siapa yang mau ke rumah Bu Aminah?"
Karena hari mulai gelap mereka tidak bisa melihat dengan jelas wajah Shin, yang terlihat hanya postur tubuhnya yang tinggi tegap. Mereka pun hanya memperhatikannya saja hingga pria tersebut sampai pada teras rumah Norin.
Sementara di dalam rumah. Norin tengah menunggu kepulangan ibu serta adiknya.
"udah mau magrib ibu sama Rizal kok belum pulang ya?"
tok tok tok
"nah seperti nya mereka baru pulang."
Norin beranjak dari ruang keluarga lalu menghampiri pintu yang di ketuk kemudian membukanya dengan sedikit cepat.
"lama amat sih Bu pulan........,"
Norin tidak melanjutkan ucapannya ia melihat dada bidang tengah berdiri di hadapannya lalu menelisik hingga pada wajahnya.
Shin tersenyum manis." surprise !"
Pupil mata Norin melebar lalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya, ia terkejut sekali rasanya seperti mimpi.
"tu tuan Shin, apakah saya tidak mimpi!"
"apa kamu merasa seperti sedang bermimpi?" tiba tiba Shin mengecup pipinya sekilas membuat Norin terperanjat kaget.
"tu tuan, kenapa bisa ada disini?" tanya Norin dengan gugup.
"sampai lari ke ujung dunia pun saya masih bisa menemui mu. apa kamu tidak menyuruh tamu mu untuk masuk ?"
Karena Norin juga merasa tidak enak pada lingkungan sekitar mau tidak mau ia membiarkan Shin memasuki rumahnya tanpa di suruh.
Norin berbalik badan lalu berjalan ke arah dalam. Shin mengekor lalu ia menutup pintu rumah Norin.
Tiba tiba dua buah tangan kekar melingkar di perut Norin dari arah belakang. Norin terperangah lalu berusaha untuk menyingkirkan dua tangan kekar itu dari perutnya.
"tolong lepaskan jangan seperti ini."
"sstttt diam lah, kau tau dua minggu saya menahan rindu padamu."
Norin diam membeku, Shin semakin mengeratkan pelukannya. Kemudian ia membalikkan tubuh Norin menghadap ke arahnya lalu pandangan mereka bertemu.
"kau tau aku rindu sekali padamu Norin, dua Minggu aku tersiksa karena memikirkan mu."
Norin masih membeku. Mata sipit itu, bibir tipis itu seolah olah menghipnotisnya membuat dirinya lupa akan segalanya termasuk dosa. Shin me nge cup bibir mungil yang sangat ia rindukan, me lu mat nya perlahan hingga menuntut. Norin tidak berontak justru ia membiarkan pria itu menikmatinya. Shin melepaskan pa gu tan nya perlahan setelah stok oksigen mulai menipis di rongga paru parunya. Lalu, ia menyatukan keningnya dengan kening wanita yang masih terlihat terhipnotis.
"saya sangat mencintaimu Norin !" Shin hendak me nge cup bibir wanita itu lagi namun suara adzan berkumandang membuat Norin tersadar lalu mendorong kuat pria itu hingga ia terjungkal ke belakang.
__ADS_1