Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 17.3)


__ADS_3

"Oh... mengenai Mas Azam, sebenarnya aku murni tidak ingin para santri tahu mengenai hubungan keluarga ku dengannya, Kak. Bukan karena aku malu, sungguh. Malah aku bangga memiliki seorang Kakak yang bertanggungjawab dan bermandikan ilmu agama, mashaa Allah...aku sangat bersyukur untuk kelebihan itu. Nah, dan karena kelebihan inilah aku takut mengungkapkan hubungan keluarga ku kepada santri, bahwa aku dan dia adalah Kakak beradik. Jika mereka tahu maka pasti yang akan menjadi korban adalah aku, beberapa santri yang menyukai Mas Azam pasti akan mencari cara untuk dekat dengannya melalui diriku dan aku tidak menginginkan hasil itu. Karena...aku pikir satu-satunya orang yang berhak mendapatkan Mas Azam hanya Kak Mega seorang. Aku lebih setuju dan rela bila Mas Azam menikah dengan Kak Mega."


Mega lebih dari calon Kakak ipar untuk Sasa. Sejak bertemu dengannya, Sasa sudah menjadikan Mega sebagai Kakaknya sendiri. Kasih sayangnya kepada Mega semakin dalam saja saat kejadian itu terjadi, kejadian dimana ia tidak memiliki teman dan dibulli karena penampilannya yang norak di sekolah.


Sasa saat itu tidak ada bedanya dengan adik sekolah yang baru masuk dan menjadi incaran pelecehan dari Kakak kelas. Padahal Sasa sudah kelas 9 SMP sedangkan Mega masih kelas 1 SMP.


Mega melihat bila calon adik iparnya diganggu sangat murka dan segera melabrak Kakak kelas yang telah membuli Sasa. Dia bertengkar, berdebat hingga orang-orang itu dengan sangat terpaksa meminta maaf kepada Sasa.


Nah, sejak hari itu pula Sasa kian menempeli Mega. Kemanapun Mega pergi akan selalu diikuti olehnya hingga ini menjadi kebiasaan.

__ADS_1


Sasa tidak bisa melupakannya karena ia pikir itu adalah kenangan hangat yang sangat berarti. Tidak hanya menjadi seorang Kakak tapi Mega juga pernah menjadi pelindungnya.


"Aduh dek, Kakak nanti jadi besar kepala, nih. Padahal gadis-gadis di pondok jauh lebih baik daripada Kakak lho, dibandingkan dengan mereka, Kakak lebih banyak kekurangan daripada kelebihan." Ujar Mega malu.


Sasa menggelengkan kepalanya tidak setuju.


Mega menatap penasaran,"Rencana apa, dek?"


Sasa cengengesan sebelum mengatakannya.

__ADS_1


"Itu... rencana pertunangan Mas Azam dan Kak Mega dibatalkan, hehe..." Akuinya takut-takut.


Kedua mata Mega segera membola terkejut. Dari semua kemungkinan dia tidak berharap bahwa rencana batalnya pertukaran itu adalah rencana Mega, gadis yang selalu memiliki kesan polos di pikiran Mega.


Ternyata yang berubah tidak hanya penampilannya saja tapi pola pikirnya pun juga berubah.


"Astagfirullah, dek. Astagfirullah...kamu kok nekat banget ngelakuin itu?" Mega gemas ingin mencubit pipi Sasa.


Sasa tidak lagi cengengesan. Ia tersenyum malu sambil berkata,"Sejujurnya aku tidak berani melakukan itu tapi aku tidak punya cara lain karena sangat kesal melihat betapa dinginnya Mas Azam kepada Kak Mega. Jadi, aku dan sepupu-sepupu yang lain mengadakan rapat untuk membuat keputusan, lalu kami memanggil kedua orang tua Kak Mega dan kedua orang tuaku untuk membahas rencana itu. Awalnya mereka menolak tapi setelah kami menjelaskan dampak baiknya mereka pun setuju. Lalu, kami benar-benar menjalankan rencana itu dan cukup terkejut melihat reaksi keras kepala Mas Azam menolak membatalkan pertunangan itu. Dia tidak ingin pertunangan itu dibatalkan karena Mas Azam bilang Kak Mega adalah calon istrinya, selain Kak Mega, dia tidak mau menikah. Ini adalah sebuah kabar baik tapi rencana masih terus dijalankan sampai akhirnya Kak Mega berakhir masuk ke pondok pesantren. Jujur, aku selalu ingin tertawa melihat wajah dingin Mas Azam yang mencoba menarik perhatian Kak Mega. Dia sudah seperti teror saja mengikuti Kak Mega kemana-mana dan menggunakan hukuman agar bisa lebih dekat dengan Kakak. Hari-hari itu sangat lucu Kak, apalagi saat melihat wajah sembelit Mas Azam ketika mengetahui Kak Mega ingin mengirim surat kepada seorang santri laki-laki.  Dia sangat marah waktu itu dan kedua tangannya juga saling mengepal. Aku melihatnya tapi bersikap pura-pura tidak melihat apapun. Yah, Sasa pikir itu adalah hukuman untuk Mas Azam yang terlalu cuek kepada Kak Mega. Mas Azam harus dikasih pelajaran sekali-kali biar bisa merasakan bagaimana rasanya berjuang. Jangan dia saja yang ingin dikejar tapi Kak Mega juga berhak mendapatkan pengejaran! Jadi, ini sangat adil dan Sasa bersyukur karena rencana Sasa akhirnya berhasil!"

__ADS_1


__ADS_2