
Ai tidak ingin memandang Ustad Vano sama dengan laki-laki lain yang bebas di luar sana tapi dia juga tidak ingin terlihat bodoh atau menjadi munafik. Dia tahu bahwa laki-laki juga menginginkan keindahan dan Ai sadar betul dia sangat kekurangan dalam hal ini.
Fisiknya,
Hah..tolong jangan katakan itu karena setiap kali dia memikirkannya, Ai ingin sekali menangis meratapi hidupnya. Dia sangat ingin namun beberapa kali harus menahan diri karena tidak ingin membuat Ayah dan Bunda menjadi sedih karenanya.
Tapi Ai juga tidak berani memikirkan jika sudah ada orang lain dihati Ustad Vano. Benar, ada gadis lain.
Namun, seharusnya ini wajar bukan?
Ustad Vano punya semuanya jadi pasti ada banyak sekali gadis baik dan cantik yang ingin bersamanya.
Tapi siapa gadis beruntung itu?. Bisiknya menahan sakit.
"Tidak apa-apa, Ai. Cepat atau lambat kamu harus mengikhlaskannya bersama dengan gadis yang diciptakan pantas untuknya. Sampai hari itu datang, tolong kuatkan hatimu." Gumamnya sambil memaksakan senyum.
Padahal baru saja dia merasakan manisnya cinta tapi sudah dipatahkan oleh masa depannya yang pahit.
"Ai, apa kamu baik-baik saja?" Asri bertanya khawatir.
Ai segera memperbaiki ekspresi wajahnya.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Katanya singkat.
"Wajahmu sekarang pucat. Padahal baru beberapa menit yang lalu wajahmu merah dan sekarang menjadi pucat. Apa kamu masih yakin baik-baik saja?" Asri masih menolak melepaskan.
Asri tidak tahu mengapa tapi apa yang dia rasakan selalu benar terjadi. Seperti tadi, selain dia merasa Mega mengenal Ai, Asri juga merasa jika Ustad Vano mengenal Ai meskipun itu tidak ditunjukkan secara langsung tapi dia yakin tentang perasaan itu. Sekarang mengalami perubahan wajah Ai, dia merasa beberapa menit yang lalu Ai sedang bahagia tapi sekarang dia tiba-tiba menjadi sedih.
Tentang apa yang sedang Ai pikiran dia tidak bisa menebaknya, namun yang pasti suasana hati Ai mudah sekali berubah.
__ADS_1
Mendengar ini Ai tanpa sadar menyentuh wajahnya, merasakan kulit wajahnya yang dingin tidak lagi sehangat tadi.
"Aku sedikit tidak enak badan tapi ini tidak apa-apa, aku masih bisa menahannya." Dia hanya ingin tidur untuk menenangkan rasa sesak dihatinya sebentar saja.
"Benar kamu bisa menahannya?" Asri masih khawatir.
Ai mengangguk ringan, menundukkan kepalanya kembali menatap lantai yang sedang dia pijaki sekarang.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Suara dingin nan berat bergema di dalam masjid.
"Ini suara Ustad Vano! Sayang kita berada di barisan paling belakang." Ada suara penyesalan di sekitar Ai.
Di depan beberapa orang memaksa mendekati pagar pembatas ingin melihat ke arah bawah tapi tentu saja itu bukanlah hal yang bisa mereka lakukan dengan mudah karena banyak sekali gadis yang mengamankan posisi mereka di depan agar tidak direbut.
"Waalaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh, Ustad." Gema salam yang indah membuat hati mereka bergetar lembut.
"Hari ini kita telah kedatangan santri baru dari penjuru wilayah, kami ucapkan selamat datang di pondok pesantren Abu Hurairah."
"Aku ingin melihat Ustad Vano!" Santri baru yang ada di belakang Ai tidak bisa menahan rasa antusiasnya.
Dia buru-buru ke depan dan tidak sengaja menyenggol lengan Ai.
"Ugh.." Ai meringis.
Gadis itu menoleh melihat Ai. Dia tersenyum tipis, meminta maaf singkat sebelum pergi ke depan tanpa menunggu respon Ai.
Asri tidak melihat kejadian ini jadi dia tidak tahu Ai secara tidak langsung telah di buli oleh sesama santri baru. Bagi Ai ini bukan masalah besar karena gadis itu juga sudah meminta maaf.
"Jangan di sani jika kamu tidak ingin disenggol lagi." Tangan Ai ditarik oleh Mega.
__ADS_1
Ai menoleh ke arahnya, samar dia mulai mengingat siapa Mega.
"Kamu-"
"Huss, dengarkan apa yang Ustad katakan." Potong Mega canggung.
Ai segera menutup mulutnya. Mundur beberapa langkah ke belakang untuk menyembunyikan keberadaannya.
"Beberapa santri baru masih belum terbiasa dengan aturan pondok pesantren kita maka aku harap para senior bisa membantu mereka. Jadi, di hari berikutnya aku ingin semuanya bisa terkendali dengan baik dan tidak ada lagi yang mengalami kesulitan."
Setelah itu Ustad Vano mengakhiri pidatonya. Dia mengarahkan santri laki-laki lebih dulu keluar dari masjid sebelum disusul oleh santriwati. Mereka berjalan terpisah dan dengan jarak yang jauh sehingga pandangan mereka tetap terjaga.
Ai dan Asri berjalan di belakang mengikuti barisan panjang santriwati yang berjalan kembali ke asrama untuk menaruh mukena dan sajadah sebelum pergi ke stan makanan.
Ketika turun dari lantai dua, Ai tanpa sadar mengangkat kepalanya mencari keberadaan Ustad Vano. Sayang, orang yang dia cari tidak ada di sini.
Sesudah mengembalikan mukena Mega dan sajadahnya, Ai dan yang lain pergi menuju stan makanan. Di jalan mereka saling berkenalan, mencoba menjalin pertemanan agar akrab satu sama lain.
Kelompok mereka memilih meja makan yang sama secara kompak. Mereka ramah dan tidak mengucilkan gara-gara insiden tadi. Malah mereka menyayangkan sikap kekanakan Frida yang suka sekali menyindir Ai.
Bersambung..
Assalamualaikum, semuanya. Jadi, saya akan jawab di sini yah. Nah kenapa Ai tidak tegas atau tidak sekuat Safira? itu karena sejak kecil dia sudah mendapatkan pembulian, misalnya dari panti asuhan tempatnya tinggal dulu. Dari sana dia sudah menumbuhkan rasa takut dan kesepian, bisa dibilang kesehatan mental Ai tidak terlalu baik tapi bukan berarti dia gila okay, dia hanya trauma saja.
Selain itu Ai juga memahami kondisinya dengan baik. Dia tahu dia berbeda dan terkadang cemburu melihat wanita-wanita di sekelilingnya. Karena kondisinya ini seringkali dia meragukan dirinya sendiri, berpikiran negatif, dan merendahkan dirinya sendiri. Jadi, karakter Ai seperti ini ada alasannya.
Dan terakhir, jujur di antara semua tokoh novel saya, hanya Ai satu-satunya yang ngebuat saya ngerasa sakit hati kalau dia tersakiti wkwkwk..saya gak rela dia disakiti. Nah, mengingat kejadian Safira dulu saya emang waktu itu kurang sreg dengan tokoh Safira karena menurut saya dia harus punya novel sendiri dan cerita sendiri hehe..maka jadilah saya membuatnya patah hati 🙃🙃🙃
Udah, ya. Lanjut?
__ADS_1