Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 5.1)


__ADS_3

...فَاِ نَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ...


..."Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,"...


...(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 5)...


...🍁🍁🍁...


"Aku dengar kamu membagikan banyak makanan ke teman-teman sekamar mu. Apakah itu benar?" Tanya Ustad Vano masih dengan nada dingin dan intonasi biasanya.


Gerakan tangan Ai di atas meja langsung mandek.


"Itu benar, Ustad. Kebetulan kedua orang tuaku mengirim banyak makanan tadi siang. Itu terlalu banyak dan akan sia-sia jika di simpan untuk diriku sendiri. Jadi aku memutuskan untuk membagi-bagikannya kepada teman sekamar ku." Ai menjawab dengan kepala tertunduk dan tangan yang terus menyeka permukaan meja.


Tapi gerakan tangannya tidak secepat pertama, ini lebih lambat karena saat ini dirinya sangat gugup.


Padahal baru saja beberapa menit yang lalu dia memutuskan untuk menjauhi Ustad Vano dengan alasan untuk menenangkan diri. Tapi siapa yang menyangka jika objek yang ingin dia hindari datang sendiri mendekatinya.


"Oh.. jadi itu adalah pemberian dari orang tuamu." Nada Ustad Vano terdengar aneh.


Ai juga sebenarnya tidak yakin tapi lebih tidak yakin lagi jika dia berharap bahwa orang yang mengirimkan makanan sebanyak itu adalah Ustad Vano.


"Benar, Ustad." Ai berjanji akan meminta izin kepada staf pondok pesantren besok untuk menelpon Bunda dan Ayah.


Dia ingin mengkonfirmasi keraguannya.


Setelah itu Ustad Vano tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia diam di tempat meskipun Ai sudah berpindah ke meja yang lain. Tidak ada yang tahu apa yang sedang Ustad Vano pikirkan saat ini.


Sementara itu, Ai memang ingin menjaga jarak darinya tapi tidak tahan berjauhan. Dia ingin melihat Ustad Vano tapi takut dimarahi lagi. Di samping itu, dia tidak ingin Ustad Vano hanya diam saja di sana dengan lain dia sangat berharap Ustad Vano berjalan mendekatinya sama seperti tadi.


Ah, intinya cinta itu sangat rumit!

__ADS_1


"Jadi kamu membagi habis semua makanan itu?" Setelah terdiam lama Ustad Vano berjalan beberapa langkah mendekati Ai masih dengan topik yang sama.


Ai senang, diam-diam dia mengulum senyum di bibirnya.


"Tidak, Ustad. Dua kantong plastik aku bagikan kepada teman-teman kamar ku dan satu kantong plastik lagi aku simpan di dalam lemari ku. Apa.. Ustad menginginkannya?" Ai bertanya takut-takut.


Jika Ustad Vano benar-benar menginginkannya maka Ai tidak akan pernah ragu memberikannya. Dia malah berpikir akan memberikan Ustad Vano semuanya sekaligus karena kata Ayah orang pondok sangat jarang bisa makan makanan dari luar.


Sehingga, sekalinya mendapatkan orang pondok akan memperlakukannya dengan sangat berharga dan hemat.


Ekspresi Ustad Vano di seberang Ai agak goyah. Ekspresinya melunak tapi bukan berarti menjadi lembut. Intinya, dia terlihat jauh lebih nyaman di dekati bila seperti ini.


"Makanlah untuk dirimu sendiri." Ustad Vano menolak tanpa ragu.


"Hidup di pondok pesantren tidak seindah yang orang-orang bayangkan diluar sana. Di sini kamu harus belajar berhemat karena kedua orang tuamu tidak akan mudah datang memberikan uang saku. Kamu juga harus pandai menahan lapar karena porsi yang pondok pesantren berikan tidak sebanyak yang ada di rumah, apalagi makanan pondok pesantren terbilang jauh lebih sederhana daripada di rumah sehingga ***** makan mu mungkin akan sangat diuji di sini. Jadi, manfaatkanlah bekal yang kamu simpan sekarang dan jangan di sia-siakan karena pasti akan datang hari dimana kamu merindukan semua makanan itu." Suara Ustad Vano anehnya terdengar ringan ketika menyampaikan nasihat ini.


Ustad Vano mengatakan ini agar Ai tidak menyia-nyiakan makanan dan memanfaatkannya dengan baik. Ini untuk menjaga penyesalan Ai suatu hari nanti karena tidak memakan makanan tersebut dengan gigih dan malah melemparkannya kepada orang lain.


"Di sisi lain kamu harusnya memakan makanan itu untuk menghargai orang yang telah memberikannya kepadamu. Dia memberikannya dengan hati yang tulus maka kamu juga harus menerimanya dengan tulus. Berbagi memang boleh dan malah sangat dianjurkan, akan tetapi alangkah baiknya itu jika dilakukan dengan porsi yang tepat dan bijaksana." Tambah Ustad Vano mengingatkan Ai.


"Ustad," Panggil Ai mendapatkan keberanian entah darimana.


"Hem?" Suara Ustad Vano dalam dan dingin.


Ai tanpa sadar menahan nafas ketika mendengarnya. Saat ini hatinya sudah tidak bisa digambarkan lagi betapa gugup. Lututnya mulai lemas tapi dia dengan keras kepala berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa.


Dia terlihat tenang tapi Allah betapa gugup dan gelisah hatinya saat ini.


Ya Allah, aku ingin sekali tahu siapa gadis yang berbicara dengan Ustad Vano di depan rumah Pak Kyai tadi. Adakah mereka mempunyai suatu hubungan romantis atau sebatas rasa yang manis?


Aku ingin tahu meskipun sejujurnya aku juga takut ya Allah.

__ADS_1


Cemburu,


Rasa ini terlalu menyiksa di dalam hatinya. Padahal dia tahu bahwa dirinya hanya bisa menatap dari jauh dan bukan siapa-siapa untuk Ustad Vano.


Hah..


"Ada apa?" Ustad Vano bertanya tidak sabar.


Dalam tertunduk Ai tersenyum tipis,"Terimakasih untuk nasihatnya, Ustad. Ini adalah pelajaran yang berharga untukku." Pada akhirnya dia memutuskan untuk tidak bertanya.


Biarkanlah waktu yang menjawab semuanya. Jika mereka adalah pasangan kekasih yang saling menyukai maka seiring waktu Ai akan tahu kabar baik itu.


"Hem, kalau begitu aku pamit, assalamualaikum." Ustad Vano meletakkan 3 kain lap yang ada di tangannya ke atas meja dan setelah itu bergegas keluar dari stan makanan.


Punggung kokohnya yang lurus bergerak menjauh ditelan malam. Meninggalkan sosok kesepian Ai yang terhanyut dalam lamunan melankolisnya.


"Apa yang sedang kamu bicarakan dengan Ustad Vano?" Tanya Sari kini sudah berdiri di sampingnya.


Sari berdecak tidak rela melihat kepergian Ustad Vano dan dia lebih tidak rela melihat Ai tadi berbicara dengan Ustad Vano.


Hem, dalam waktu yang sangat singkat Sari diam-diam mengembangkan ketidakpuasannya terhadap Ai. Sari pikir wajar saja Frida tidak menyukainya karena dia selalu punya cara untuk membuat Ustad Vano berbicara dengannya.


"Dia menasehati ku agar menghargai pemberian orang-" Ai tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang aneh dari ucapan Ustad Vano sebelumnya.


Ustad Vano tadi mengatakan untuk menghargai pemberian 'orang' dan tidak menyebutkan tentang pemberian kedua orang tuaku. Apakah pendengaran ku bermasalah atau-


"Menghargai pemberian orang apa? Kenapa tiba-tiba berhenti berbicara?" Suara tidak sabar Sari menarik Ai dari lamunannya.


"Ah..itu, dia memintaku untuk menghargai pemberian kedua orang tuaku." Jawab Ai tidak yakin.


Dia kembali menundukkan kepalanya, melanjutkan lagi acara bersih-bersihnya dengan segala macam pikiran tentang keraguannya tadi.

__ADS_1


Bersambung..


Do'akan yang terbaik semoga saya fit lagi, Insha Allah saya akan up 4 chapter besok. Insha Allah yah, bisa atau tidaknya kita serahkan semuanya kepada Allah 🍁


__ADS_2